Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
54
Home Barista
Self Improvement
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Jam weker menyadarkanku akan kehidupan yang harus aku mulai. Mataku terbuka menatap silau cahaya lampu. Ia menatapku kembali seakan mengejek diri ini. Aku segera mematikan jam weker. Bisingnya membuat ku pusing.

Aku terduduk di tepi rasa nyaman dan kehidupan terletak di bawah kakiku. Jika aku turun maka saat itu kehidupan akan segera dimulai sebelum berakhir atau berakhir sebelum memulai.

Tubuhku merenggang seperti manusia karet. Rasanya aku pernah menonton nya waktuku kecil. Kakiku mulai menapak dengan hati-hati. Menghindari setiap garis ubin keramik berwarna kuning pucat. Setiap ubin aku lewati dengan sempurna. Aku akan mati jika tak sengaja menginjaknya dan tiba nya langkahku bertepi di ruang orkestra aroma.

Mataku menatap tanganku menyibak. Dinginnya Rancilio Silvia meninggalkan sidiknya pada jariku atau aku yang meninggalkan sidik jari di dinginnya besi.

Tangan kanan meraih instrumen pertama.

Neraca justitia kutaruh indah di atas pelataran meja.

Tangan kiriku meraih instrumen kedua.

Dosing cup kutaruh indah di atas neraca. Tak lupa Virtuoso berjalan ke panggung dengan kedua tanganku. Toples kaca berisi biji-bijian robusta sidikalang.

Aku benar-benar penasaran penampilan seperti apa yang akan ditampilkannya.

Angin berhembus ketika aku menekan valve aroma smokey seperti tembakau menjelma menjadi aerofon dalam hirupku.

Jariku menggenggam cupping spoon. menyerok setiap bulir biji kopi yang hitam. Menaruhnya di dalam dosing cup dan neraca membaca itu seakan ia tahu tugasnya tanpa perlu diperintah.

9,7g kemudian 17,2g lalu 18,1g neraca sang dewi pun tak berlaku adil. Aku sudah tahu akan seperti ini tidak akan sempurna karena hidupku memang didesain untuk itu tapi siapa yang mendesain itu.

Tanganku meraih instrumen yang tidak kalah penting. Ganymede kutekan menghujani biji kopi dua kali. Aku meraihnya dengan hati-hati tanganku menjepit di antaranya dan memberinya sedikit guncangan.

Aku membuka tutup Varia Vs3 ku menuangkan setiap biji kopi ke dalamnya. Segera meraih portafilter untuk menampung hasil kerja kerasnya. tak menunggu waktu lama Varia Vs3 mulai menggilingnya. Aku menikmati symphony indah yang kuharap itu bukan suara teriakan dari biji kopi.

Tanganku kembali bersalaman dengan portafilter. Aku merapikannya dengan lembut. Jariku mengambil jarum kecil bukan sebagai hukuman. Aku memutarnya lima kali lalu menaruhnya kembali. Aku mengambil alat tekan untuk memadatkannya dua kali tekanan seperti biasa.

Menekan tombol membawa rintik hujan yang mensucikan tak lama berhenti. Aku memasangnya di bawah lindung dengan sedikit putaran. Aku mengambil gelas keramik berwarna biru dengan gambar burung camar menaruhnya sebagai tempat bermuara.

Setiap kali ini terjadi aku selalu dihadapkan dengan 2 pilihan one shot atau double shot namun tidak akan ada keraguan one shot adalah sebuah ideologi tidak bisa diganggu gugat.

Kopi mengalir ibarat air terjun hitam keemasan aromanya menghanyutkanku ke hutan mangrove. Betapa nyamannya betapa indahnya 30 detik berlalu 30 mili tercipta ini sempurna. Ya Rancilio Silvia selalu lebih baik daripadaku.

Aku mengambil gelas itu dengan hati hati menaruhnya di singgasana Brewsuniq Tray.

Aku kembali bersalaman dengan portafilter memutar berlawan dari awal dan membuang ampas kopi ke tempat sampah. Bagaimana jika itu diriku. Lalu aku membersihkan sisa-sisa serbuk kopi yang tertinggal dan kembali menekan tombol yang membawa rintik hujan. Aku merapikan ruang orkestra aroma karena penampilannya sangat luar biasa meski aku belum meneguknya dalam diri.

Aku menggenggam robusta sidikalang dalam gelas peraturan garis tak lagi berlaku karena aku membawa hakim paling adil.

Aku membawanya ke mejaku di depan jendela atau aku di belakang jendela.

Aku terduduk menatap bahkan matahari belum menunjukan warnanya. Tertunduk melihat lingkar emas dalam gelasku apa aku pantas untuk meminumnya.

Apa yang akan terjadi ketika kesempurnaan bercampur dengan ketidaksempurnaan apakah seperti hitam dan putih akan menjadi abu-abu apakah aku diantaranya.

Menggenggam-segenggam keberanian jariku melingkari gelas.

Izinkan aku buat aku agar aku sempurna.

Dia semakin mendekat. Harumnya semakin pekat. Dia menyentuh bibirku. Aku menegaknya. Rasa pahit yang sempurna tidak asam tidak pula manis lidahku terasa meleleh pahitnya menyebarkan rasa coklat yang terus menerus memberi ku stimulus. Aku menelan nektar itu melewati kerongkonganku. aku bisa merasakannya dia bergerak mengalir hingga masuk ke lambungku.

Jadi ini rasa kesempurnaan benar-benar indah. langit-langit mulutku terasa sedikit kering seperti asap rokok atau sisa-sisa pembakaran tembakau. Ya seperti aroma ruangannya. Aku kembali menatap jendela lalu menaruh gelas di atas singgasana Brewsuniq Tray dan melihat ketidaksempurnaan.

- TAMAT -

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)