Malam hampir jam sebelas saat napasku benar-benar berantakan.
Bukan lagi sekadar sesak—lebih seperti kehilangan arah.
Aku duduk diam, mencoba menarik udara pelan-pelan. Dadaku terasa terlalu sempit. Setiap tarikan berhenti di tengah jalan—setengah jadi, setengah hilang.
Mama yang pertama sadar.
Suaranya saat membangunkan ayah tidak lagi bisa disembunyikan.
“Bangun yah… kakak sesak.”
Ayah terbangun dengan kaget, matanya masih berat.
“Asma lagi?”
“Iya yah dari pagi,” jawab mama cepat. “Ini gak bisa. Kakak harus di uap.”
Ayah mengusap wajahnya, masih tertinggal di sisa kantuk.
“Minum obat dulu aja… nanti juga mendingan. Selimutan—biar hangat—”
“Gak bisa!” suara mama pecah.
“Asma kakak semakin parah. Udah, ke puskesmas aja yah sekarang. Gak bisa dia kalo gak di uap”
Hening. Tipis, tapi terasa.
Aku tidak bicara. Bahkan untuk menarik napas saja aku harus berjuang.
Ayah menoleh ke arahku.
Dan entah apa yang dia lihat—yang jelas, setelah itu dia tidak membantah lagi.
“Iya.”
Segalanya bergerak cepat. Lampu rumah menyala. Pintu terbuka. Dan tak lama, aku sudah di belakang motor.
Gerimis tipis turun.
Tanganku memegang jaket ayah—awalnya biasa, lalu tanpa sadar semakin erat. Jalanan gelap, beberapa bagian rusak, terlalu sepi. Hanya suara motor… dan napasku yang tidak lagi teratur.
Angin malam berhembus.
Aku mencoba menarik napas lebih dalam.
Namun gagal.
Seperti ada sesuatu yang menutup dari dalam—pelan, pasti, tanpa suara. Dunia tetap ada, tapi ruang di dadaku semakin sempit.
Aku menunduk. Memejamkan mata.
Menghitung.
Satu... Dua...
Hitungan itu patah sebelum selesai.
Motor berguncang. Tanganku refleks mencengkeram lebih kuat—seolah itu satu-satunya yang bisa kutahan.
“Aman?” suara ayah terdengar, tertiup angin.
Aku ingin bilang tidak. Aku ingin bilang aku takut.
Tapi yang keluar hanya,
“Iya…”
Pendek. Nyaris hilang.
Ayah tidak menjawab.
Tapi tangannya berubah—lebih kaku, lebih pasti. Motor melaju sedikit lebih cepat, membelah malam yang terasa terlalu panjang.
Lampu puskesmas akhirnya muncul.
Kecil. Redup. Tapi cukup.
Cukup untuk membuatku bertahan sedikit lagi.
Aku menarik napas—seperti pinjaman yang bisa diambil kapan saja.
Motor berhenti tepat di depan igd.
Aku turun perlahan, tapi tanganku masih menggenggam jaket ayah. Baru saat itu aku sadar—tanganku gemetar.
Dan mungkin… sejak tadi, bukan cuma aku yang menahan sesuatu.
Aku pikir yang paling berat malam itu adalah napasku.
Ternyata bukan.
Ada yang lebih berat—kepanikan mama yang pecah tanpa sisa, dan rasa takut yang ayah pilih untuk sembunyikan… sejak pertama kali dia membuka mata.