Flash Fiction
Disukai
3
Dilihat
136
Terlukisnya, Cerita 3.653
Misteri
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Awan mengambang di luar sana, menutupi cahaya rembulan. Jendela kututup rapat-rapat agar angin tak dapat menyelinap masuk ruangan. Aku menghidupi lampu pelita dengan seutas kayu berkepala api. Hangat cahaya membawa aroma kelapa sangrai samar-samar terasa.

Cahaya kecil pelita bersinar remang, menyinari lembaran kertas kosong di bidang mejaku. Namun ternyata si kecil ini sangat egois. Ia dengan sadarnya mengabaikan semua naskah di ruang-kamarku. Ribuan naskah menumpuk, berjejer, memanjang, meninggi membentuk menara-menara benteng. Mereka hanya mendapat cahaya redup, sisa-sisa dari keegoisan si kecil. Semakin beranjak dari lampu pelita, tipis bayangan menghampiri, menelan naskahku dalam kegelapan, seakan mereka tidak pernah ada. Kini hanya menyisakan kegelapan yang mengambang pada sudut ruang.

‘Lalu, untuk apa semua naskah itu?’

Tidak tahu, aku hanya menulis. Terus menulis, berulang kali, berulang-ulang kali. Mungkin, hampir 10 tahun sejak saat itu. Ya, aku rasa sekitaran itu, waktu yang aku habiskan.

‘Kenapa kamu memulai semua ini?’

Tidak tahu, aku sudah lupa, yang kuingat. Aku menulis tepat dua hari — dari hari ulang tahunku — saat itu. Mungkin, karena aku mencintai sastra. Mungkin, aku ingin terkenal? Mungkin juga, aku hanya… sekedar ingin seseorang membaca ceritaku? Atau mungkin, karena seseorang di masa lalu.

Meski aku tidak yakin, apakah aku benar-benar memiliki seseorang itu.

‘Apakah kamu tidak ingin menerbitkan naskahmu?’

Menerbitkannya? Itu lelucon yang buruk.

Siapa yang mau membaca ini. Hanya goresan yang tidak berarti di atas kertas, hanya kotoran yang dimuntahkan oleh kepalaku. Jadi… kau berpikir orang-orang suka membaca kotoran? Kau menanyakan sesuatu yang lucu. Kau tahu itu kan? Jangan pernah membicarakan itu lagi, aku hidup dengan menulis, setidaknya, biarkan aku mati dengan tulisanku.

…..

Aku meraih selongsong pipa bertinta hitam di ujung meja. Menaruh sisi tajamnya di atas kertas kosong yang polos. Aku akan kembali menulis. Sebab, hanya itu yang bisa aku lakukan. Dan, hanya itu yang membuatku merasa hidup.

Jadi, apalagi yang akan aku tuangkan hari ini.

Tuangkan? Haaa…

Itu terasa terlalu lembut, tidak cocok untukku. Jadi, omong-kosong apalagi yang akan kepalaku muntahkan ke atas kertas malam ini.

Selongsong pipa bertinta hitam meninggalkan noda titik kecil pada si polos. Masih tak terbentuk, tak berubah, hanya noda.

Tunjukkan padaku.

Lampu pelita telah kehilangan sebagian kecil sumber kehidupannya. Namun titik kecil itu tak ubahnya menjadi kalimat, apalagi kata, bahkan huruf. Hanya noda yang mengotori.

…..

Bukankah kau sangat pandai dalam hal ini? Kenapa? Kenapa kau tidak menggerakkan jariku seperti biasa? Setelah 10 tahun berlalu. Apakah kau ingin berpaling begitu saja? Bukankah selama ini begitu mudah?

…..

Aku…, ya aku hanya perlu menggerakkan jariku, maka isi kepalaku akan menjelma menjadi huruf kemudian kata lalu kalimat hingga terbentuk sebuah cerita. Itulah biasanya.

…..

Kepalaku terasa kosong—selama ini—selama 10 tahun—setiap hari—setiap malam—aku selalu menulis—tanpa henti—itulah senormalnya—lalu kenapa—apa yang sebenarnya terjadi—dadaku kini sesak—takut? Apa ini rasa takut—karena apa—aku tidak yakin—aku menaruh selongsong tinta di samping kertas kosong.

‘Kenapa tidak jadi menulis?’

…..

‘Apa kamu sudah menyerah?’

Tentu tidak. Apa yang membuatmu berpikir aku menyerah? Jangan remehkan aku. Jika aku menyerah malam ini. Apa artinya? Apa artinya! Sepuluh tahun hidup yang aku jalani! Jika aku tidak menulis, apa bedanya aku dengan kerangka hidup di kamar sebelah. Aku hanya perlu tenang, ya, itulah jawabannya. Aku hanya perlu duduk, diam, dan ia akan kembali.

‘Ia? Siapa yang kamu maksud?’

Aku.

Aku yang selama ini menulis, menurutmu siapa lagi selain aku yang menulis di kamar ini? Tentu aku.

Tapi, apa yang terjadi sekarang. Kenapa aku tidak bisa menulis.

‘Apa kamu ingin tahu?’

Diamlah! Aku sedang berpikir.

Kini sunyi senyap datang menghampiri. Sunyi tidak datang sendirian, ia membawa suara jangkrik yang saling bersahutan satu sama lain. Suara angin tak luput masuk ke rongga telinga, ia menggesekan tubuhnya ke jendela kamarku, seakan mencoba menerobos masuk.

Suara itu belum terdengar kembali, dia benar-benar menurutiku.

Aku melihat sekelilingku, bertumpuk menara naskah yang kasat mata hingga yang tak kasat mata. Meski aku sudah tidak ingat, cerita apa saja yang sudah aku tulis, tapi aku tahu. Aku telah menulis banyak cerita.

Tentang manusia, hewan, alam, tuhan, masa lalu, masa depan dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak memiliki kemungkinan.

Aku menulis—selama ini.

Untuk diriku sendiri? Untuk orang lain? Untuk pembaca? Untuk siapa? Sial, aku tidak menyukai perasaan ini. Apa aku terkena penyakit langka?

‘Tidak ada yang seperti itu. Imajinasimu belum mati sepenuhnya. Itu berita bagus, untuk penulis sepertimu.’

Kau kembali.

‘Kembali? Itu pilihan kata yang lucu, bagaimana aku bisa kembali jika aku tidak pernah pergi.’

Kau benar.

‘Apa kamu masih ingat. Cerita pertamamu. Yang kamu tulis dengan polosnya, dan tanpa bebannya. Seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan oleh orang-tuanya?’

Tidak. Aku sudah lupa. Itu sudah sangat lama. Bagaimana aku bisa mengingat cerita pertamaku? Kau lihat saja, ada berapa ribu cerita di sana. Mereka bertumpuk, berserak, meninggi. Dari yang selesai — yang tidak selesai — juga yang kutinggalkan tanpa pernah melanjutkannya kembali. Kau pasti tidak bisa menjawabnya kan?

‘3.652 naskah. Itulah jumlah cerita yang kamu tulis tentang dunia, manusia dan hewan, alam, bahkan entitas yang maha kuasa. Dan hal-hal aneh yang tidak mungkin masuk kategori apapun di dunia ini.’

…..

‘Dan tentang tulisan pertamamu.’

Diamlah!!!

Aku tidak ingin mendengarnya.

Aku tidak membutuhkan itu.

Aku hidup di masa kini, dengan 3.652 naskah seperti yang kau katakan.

Lalu, mengapa aku harus peduli dengan kotoran dari masa lampau?

Tinggalkan saja aku—jangan mengatakan apa pun—jangan ceritakan apa pun—aku tidak ingin apa pun—aku hanya ingin menulis.

‘Aku akan menunggumu, aku akan menantikan tulisanmu, aku harap ini tidak berakhir di 3.652. Kamu suka menulis, aku suka membaca. Tidak ada yang lebih baik daripada ini bukan? Maka aku akan mengatakannya sekali lagi, aku akan menunggu tulisanmu.’

Aku kembali duduk dengan posisi biasa. Ternyata menutup telinga itu tidak terlalu berguna.

Nah, kau. Siapa kau sebenarnya?

…..

Kau sungguh curang, kau selalu menghindari pertanyaanku. Kau ingin sebuah cerita kan? Maka, aku akan kembali menulis. Tentang suara yang selalu menggangguku ketika aku menulis.

Kini aroma kelapa sangrai kembali terasa samar-samar. Kehidupan lampu pelita telah hilang separuhnya, tetapi itu sudah cukup untuk menj

adikan kotoran kepalaku menjadi sebuah cerita.

Aku akan memberikannya judul.

Terlukisnya, Cerita 3.653.

-TAMAT-

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)