Disukai
0
Dilihat
6
Tetangga Sebelah
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

I.

Pertama kali aku memperhatikannya adalah pada suatu malam di pertengahan Oktober, ketika udara mulai terasa aneh — bukan dingin, bukan panas, melainkan sesuatu di antaranya yang tidak bisa kuberi nama. Aku sedang berdiri di depan jendela kamarku, memandang keluar tanpa tujuan, ketika sosok itu muncul dari ujung gang sempit yang memisahkan rumahku dengan rumah di sebelah.

Ia berjalan dengan langkah yang sangat teratur. Bukan teratur seperti seorang tentara berbaris, melainkan teratur seperti sebuah mekanisme jam yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak bisa melenceng satu detik pun. Kaki kirinya melangkah, lalu kaki kanannya, dengan jarak yang sama persis, dengan kecepatan yang tidak berubah. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah tas kulit berwarna cokelat tua yang terlihat berat — atau mungkin terlihat berat karena cara ia menggenggamnya, erat-erat, seolah takut tas itu akan kabur.

Saat itu pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Aku tahu karena jam dinding di belakangku baru saja berdentang sebelas kali, dan aku masih berdiri di depan jendela ketika tiga puluh menit berlalu tanpa aku sadari. Aku memang sering begitu — berdiri, memandang keluar, dan tiba-tiba waktu sudah berlalu tanpa bekas.

Tetangga di sebelah kiri rumahku itu sudah lama kosong. Sudah berapa tahun? Aku tidak ingat pasti. Mungkin dua tahun, mungkin tiga. Aku tidak pernah terlalu memperhatikan. Rumah itu selalu berdiri di sana dengan jendelanya yang tertutup rapat, catnya yang perlahan mengupas di bagian-bagian tertentu, dan pagar besinya yang mulai berkarat di beberapa sudut. Tidak ada yang pernah masuk, tidak ada yang pernah keluar. Ia berdiri seperti sebuah kehadiran yang ti...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi