Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
24
Mengapa Aku Belum Mati?
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Bagi Micky, waktu telah menjelma menjadi lingkaran setan yang mencekik, menghancurkan sisa-sisa garis lurus yang pernah ia gambar. Di umur tiga puluh lima tahun, ia merasa seperti mesin yang tetap menyala, meski semua fungsinya sudah rusak. Ia gagal dalam segala hal yang oleh dunia dinamai "hidup"—karier yang karam, bisnis yang meninggalkan utang, dan asmara yang menyisakan ancaman rasa trauma.

Bosan. Jengah. Kesal. Namun, tak ada tempat yang dapat menjadi pelarian seutuhnya. Luasnya bumi sama dengan luasnya keresahan yang ada di dalam kepalanya. Setiap pagi, ia selalu disapa oleh pertanyaan yang sama: Mengapa masih harus bangun jika hanya untuk menambah catatan kelam?

Ia merasa keberadaannya merupakan bagian dari distorsi dimensi atau kekeliruan ruang dan waktu. Jika hidup adalah sebuah pesta, maka ia adalah tamu tak diundang yang hanya menghabiskan jatah makanan tanpa memberikan obrolan yang menarik. Ia datang dengan tampilan seadanya. Tanpa hadiah di tangan. Tanpa jas mewah di badan.

Saat ia mendengar kematian orang-orang yang dikenalnya, atau melihat berita orang baik yang meninggal cepat, terbersit dalam dirinya untuk menyumbangkan sisa umurnya. Ia ingin menghibahkannya kepada mereka yang punya alasan untuk terjaga di malam hari karena impian, bukan karena ketakutan menghadapi hari esok.

Sayangnya, tubuh tidak selalu patuh pada empati yang datang. Perut selalu punya suara untuk menuntut haknya.

Micky bangkit, mengambil hoodie hitam yang sudah menggantung berminggu-minggu di balik pintu. Ia menarik bagian atas hoodie-nya ke depan, memayungi wajahnya. Langkahnya tergesa seraya mengamati kondisi di balik pagar rumah-rumah yang dilaluinya.

Bukan momentum yang pas untuk menampakkan diri. Di ujung gang, ia justru bertemu Ibu RT. Pertanyaan tentang "kapan nikah" dan "kerja di mana sekarang" menghantamnya ibarat kerikil yang dilemparkan ke kaca yang retak.

Micky hanya tersenyum. Senyum mekanis yang gagal menutupi kebohongan. Refleks sintetis dari hidup yang terlalu lama berhenti bergerak.

Cahaya kian memudar, rutinitas manusia kian memadat. Micky menghindari adu pandang dengan siapa pun. Semangkuk mi ayam menjadi pilihan yang paling masuk akal. Ada karbohidrat, protein, serat, dan segelas air putih gratis.

Laparnya telah dibayar, tetapi kehampaan di kepalanya tetap menganga. Rasa kenyang hanya memberi fungsi biologis, tidak mendatangkan keajaiban apa pun.

Micky lantas berjalan ke arah bantaran rel. Ia duduk di bawah pohon yang hanya memiliki batang tua sebagai penyangga. Matanya mengunci besi panjang yang membara disengat matahari sore.

Besi itu keras, tetapi penuh tanggung jawab. Ia menjadi penjaga bagi ribuan nyawa yang setiap hari hilir mudik ke ibu kota.

Beberapa bulan lalu, Micky pernah membayangkan tubuhnya diremukkan oleh mesin raksasa yang merayap di besi panjang itu. Namun, bayangan tentang tulang yang hancur dan daging yang berserak selalu menghentikannya.

Ia membenci dirinya karena kepengecutan itu. Ia ingin mati, tetapi kerap dihantui rasa sakit yang mengerikan. Ia terjebak di antara keinginan untuk tiada dan ketidakberdayaan untuk mengakhirinya.

“Bagaimana orang-orang itu punya keberanian?” tanya Micky dalam hati.

Hidup jarang menyodorkan kepastian. Pilihan tak pernah membentangkan risiko nyata di awal. Mengulang atau memperbaiki masa lalu sangatlah mustahil.

Suara isakan pilu memecah sunyi batin Micky. Seorang anak laki-laki menangis di bawah tenda kardus. Anak itu meraung, seolah dunianya baru saja runtuh.

Micky menghampirinya. Ia mengayunkan kakinya bukan karena peduli, tetapi karena kebisingan itu mengganggu melankoli yang tengah ia ratapi.

"Kenapa nangis?" Micky bertanya dengan nada menginterogasi.

"Aku nggak diajak main." Anak itu tersedu. "Soalnya aku nggak punya raket. Teman-temanku bilang aku cuma beban."

Micky menatap tangan kosong si anak. Sungguh, ia ingin tertawa sinis. Beban? Kamu belum tahu apa-apa tentang menjadi beban, Nak.

"Minta ke ayahmu," ucap Micky, ketus.

"Ayahku sudah meninggal sejak aku bayi."

Kalimat itu seperti pukulan telak ke ulu hati. Micky terdiam. Di depannya, ada seorang anak yang kehilangan figur pelindung—seseorang yang mungkin sangat ingin hidup untuk sekadar membelikan raket, tetapi dipaksa berhenti oleh semesta. Sementara, di bawah angkasa yang meredup, ia berdiri dengan tubuh utuh seraya merutuki napas yang dihirup.

Ada rasa malu. Ada juga kehancuran yang aneh di dalam dirinya. Nyeri yang perlahan merambat ketika ia membayangkan orang tuanya menerima kabar kematiannya. Entah karena bunuh diri, entah karena tubuhnya kalah oleh hidup yang berantakan. Apa pun alasannya, mereka tetap akan menanggung siksa seumur hidup.

Micky mengusap kepala anak itu. Ia menyelipkan lima ribu rupiah ke tangan si anak. Mungkin bisa dipakai membeli es teh, dan dibawa ke lapangan sebagai medium untuk berbaikan.

Ya, mungkin.

***

Malamnya, Micky masih harus bergulat mencari jawaban atas hidup yang terus dipertanyakan. Ia membuka jendela, membiarkan angin malam membelainya, tetapi ia hanya menemukan mimpi.

Ia berdiri di tengah ruangan kosong dengan jas pengantin yang terasa berat seperti baju perang. Di hadapannya, ada seorang anak kecil yang baru belajar merangkak. Tangan mungilnya menjulur gemetar sambil memanggil Micky dengan sebutan ayah.

Anak itu terus menadahkan pelukan kepada Micky. Namun, Micky justru merasa keberadaannya mulai memudar, seolah-olah ia sedang terhapus dari kenyataan.

"Ayah pamit. Ayah tidak sanggup lagi meneruskan hidup di dunia ini," ucap Micky. Kata-katanya menggaungkan sebuah pengakuan, ketakutan, dan harapan yang masih tersisa.

Anak itu tidak menjawab. Ia terus merangkak, berusaha mengejar Micky. Akan tetapi, langkahnya terlalu rapuh.

Micky terjaga dengan napas memburu. Pandangannya menyisir sudut-sudut kamar kosnya yang gelap, sempit, dan dingin. Tidak ada jejak anak kecil di lantai, tidak ada perubahan karier, tidak ada harapan yang mengetuk pintu sambil membawa kehangatan. Hanya ada sisa air mata yang menggenang.

Ia lalu duduk di tepi kasur, menatap tangannya sendiri. Ia masih hidup, masih berada di medan yang sama.

Itu tragedi dan fakta yang tak bisa dibantah. Ia tidak tahu di umur berapa akan mati, tetapi ia sadar bahwa menolak jabatan seorang anak adalah jenis kematian yang jauh lebih mengerikan daripada digilas kereta api.

Ia tidak menjadi optimis. Ia hanya memutuskan untuk bertahan sedikit lebih lama lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi