Di Bawah Naungan Pohon Mangga
Oleh : Ezra Jo
Matahari sore di pertengahan bulan Juli tidak pernah benar-benar terasa membakar kulit kami. Cahayanya yang mulai menguning keemasan menyelinap malu-malu di sela-sela rimbunnya daun pohon mangga arumanis yang tumbuh kokoh di halaman depan rumah Gilang.
Di bawah naungan pohon itulah, beralaskan tanah kering yang berdebu dan sedikit berbatu, dunia kami berdua diciptakan. Dunia yang tidak mengenal cicilan rumah, tenggat waktu pekerjaan, atau rumitnya urusan orang-orang dewasa.
"Satu sama, Lang. Kali ini jangan harap kamu bisa menang mudah. Gantian aku yang nembak," ucapku sambil memicingkan mata kiri. Aku berusaha keras memfokuskan pandangan pada sebutir kelereng kaca bening dengan semburat warna hijau di dalamnya yang tergeletak pasrah di atas tanah.
Gilang berjongkok dengan santai di hadapanku. Ia mengenakan kaos oblong berwarna biru andalannya kaos yang warna aslinya sudah agak memudar karena terlalu sering dipakai bertualang keliling kampung dan dicuci berulang kali oleh ibunya.
Gilang tersenyum tipis, jenis senyuman tenang yang terkadang membuatku kesal karena ia selalu tampak begitu percaya diri, namun di sisi lain selalu berhasil menenangkan hatiku. Gilang adalah tipe anak yang jarang panik, sangat kontras denganku yang selalu meledak-ledak dan terburu-buru.
Di sebelahnya, aku duduk bertumpu pada sepasang sandal jepit kuningku yang sudah menipis pada bagian tumitnya. Jemari tangan kananku menjepit erat sebutir kelereng utama, bersiap melepaskan tembakan maut yang sudah kulatih berhari-hari.
Plest! Klitik!
Tembakanku melesat sempurna. Kelerengku mengenai target tepat di tengah. Bunyi benturan kaca yang khas itu terdengar begitu merdu di telinga kami, mengalahkan suara deru angin sore yang menggoyang dahan-dahan pohon. Gilang seketika tertawa lepas, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dengan satu gigi seri yang sedikit patah akibat jatuh dari sepeda setahun lalu.
Tidak ada rasa dendam, tidak ada wajah cemberut karena kalah. Bagi kami saat itu, menang atau kalah hanyalah sebuah alasan agar permainan tidak perlu cepat berakhir dan bisa diulang kembali dari awal.
Di atas kepala kami, buah-buah mangga yang masih muda bergantungan dengan anggun. Beberapa kali kami sempat tergoda untuk melempari buah-buah itu menggunakan batu kerikil, membayangkan rasa masamnya yang dicocol dengan garam cabai. Namun, niat itu selalu kami urungkan setiap kali mendengar batuk berdeham dari dalam rumah. Kami berdua tahu persis, sekali saja Ibu Gilang melihat kami merusak mangganya, tamatlah riwayat kami sore itu.
Rumah tua di belakang kami, dengan dinding putih yang mulai mengelupas dan pintu kayu jati yang selalu terbuka lebar, adalah saksi bisu dari jutaan tawa kami. Di teras rumah itulah kami biasa bertukar komik bekas, mengobati luka gores di lutut setelah jatuh dari pohon dengan obat merah yang perih, dan menyusun rencana-rencana petualangan besar yang sebenarnya hanya berkisar di sekitar kebun singkong belakang kampung.
Saat matahari mulai bergeser semakin rendah, menciptakan bayangan tubuh kami yang memanjang di atas tanah, Gilang tiba-tiba berhenti memunguti kelereng yang berserakan. Ia menatap langit sore yang mulai berubah jingga, lalu menoleh ke arahku.
"Nanti kalau kita sudah besar, kamu mau jadi apa, Di?" tanya Gilang tiba-tiba. Pertanyaan yang terasa berat untuk ukuran anak-anak sekolah dasar seperti kami.
Aku terdiam sejenak, memutar-mutar kelereng di dalam genggaman tanganku yang kotor oleh debu tanah. "Aku mau jadi kapten kapal besar, Lang. Biar bisa keliling dunia, lihat benua lain, dan naik ombak yang tinggi-tinggi. Kalau kamu?"
Gilang tersenyum lagi, matanya menatap lurus ke arah batang pohon mangga tempat kami bersandar. "Aku? Aku mau tetap di sini saja. Menjaga rumah ini dan pohon mangga ini. Jadi, nanti kalau kamu sudah lelah keliling dunia dan memutuskan untuk pulang, kamu tahu harus mencari aku di mana. Kita bisa main kelereng lagi di bawah pohon ini."
Aku tertegun mendengar jawabannya, lalu kami berdua tertawa bersama, menertawakan kepolosan masa kecil yang belum ternoda oleh realita. Sebuah jawaban sederhana dari seorang anak berusia sepuluh tahun yang belum tahu betapa keras dan egoisnya dunia orang dewasa bekerja. Saat itu, kebahagiaan terasa begitu murah dan mudah didapat.
Kebahagiaan kami hanya seharga beberapa butir kelereng kaca, sepasang sandal jepit swalayan, dan waktu luang di sore hari sebelum suara adzan magrib menggema dari surau ujung kampung yang menandakan kami harus segera pulang dan mandi.
Waktu berjalan tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun. Ia mengalir begitu cepat, merenggut hari-hari penuh tawa itu dan menggantinya dengan kalender yang terus berganti tahun. Sore yang hangat penuh debu tanah itu kini telah berjarak belasan tahun dari kehidupanku yang sekarang.
Hari ini, langkah kakiku kembali membawaku ke tempat ini. Aku berdiri di titik yang sama persis dengan tempatku berjongkok belasan tahun lalu.
Namun, banyak hal telah berubah. Rumah tua milik keluarga Gilang yang dulu berdinding kayu dan bercat putih kusam kini telah dipugar total menjadi bangunan beton dua lantai yang minimalis dan modern.
Halamannya yang dulu berupa tanah gembur tempat kami bermain kelereng kini telah ditutup oleh paving block yang rapi dan bersih.
Namun, pandanganku mendadak terkunci pada satu hal. Pohon mangga itu. Syukurlah, pemilik rumah yang baru tidak menebangnya. Pohon itu masih ada di sana, berdiri tegap di sudut halaman. Ukurannya kini jauh lebih besar, meskipun dahan-dahannya tampak tidak serimbun dulu dan batangnya dipenuhi lumut kering.
Aku berjalan mendekati pohon itu, lalu merogoh saku celana kainku. Di antara kunci mobil dan dompet kulit, jemariku menyentuh sesuatu yang asing namun sangat kukenal. Aku mengeluarkan sebutir kelereng kaca bening dengan semburat hijau di dalamnya kelereng keberuntunganku dulu yang sengaja kutemukan kembali di dalam kotak mainan lama di rumah orang tuaku.
Perlahan, dengan setelan pakaian kerjaku yang rapi, aku berjongkok di samping batang pohon mangga itu. Aku memejamkan mata, membiarkan angin sore menerpa wajahku. Untuk beberapa detik, aku mencoba memanggil kembali memori lama. Aku mencoba mendengarkan bunyi klitik dari benturan kelereng, mencium bau tanah kering yang tersiram air, dan mendengar suara tawa lepas seorang anak berkaos biru.
Namun, ketika aku membuka mata, tidak ada lagi Gilang yang berjongkok di hadapanku. Tidak ada anak kecil berkaos biru yang tersenyum tenang menungguku melepaskan tembakan.
Gilang kini telah berada di kota yang sangat jauh, bergelut dengan dunianya sendiri sebagai seorang arsitek yang sibuk dengan tenggat waktu proyek. Aku sendiri pun gagal menjadi kapten kapal; aku hanyalah seorang pekerja kantoran yang setiap hari terjebak dalam hiruk-pikuk kemacetan kota demi mengejar target bulanan.
Masa kecil memang tidak pernah bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun. Ia mengalir pergi seperti air di sungai, meninggalkan kita yang tumbuh dewasa dengan kepala yang dipenuhi kecemasan, beban tanggung jawab, dan hati yang sering kali merasa lelah dan sepi di tengah keramaian.
Namun, sambil menatap butiran kelereng di telapak tanganku dan bersandar pada batang pohon mangga ini, setitik air mata hangat tanpa sadar menetes di pipiku. Bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang amat dalam.
Aku diingatkan kembali bahwa di dalam tubuh pria dewasa yang sering kali cemas dan merasa lelah ini, pernah ada seorang anak kecil yang sangat bahagia.
Seorang anak kecil yang dunianya pernah begitu indah, aman, dan penuh tawa, di bawah naungan pohon mangga bersama seorang sahabat sejati. Kenangan itulah yang kini menjadi bahan bakarku untuk terus melangkah menghadapi kerasnya dunia.
TAMAT