Semua bermula di hari Senin yang naas. Devi, rekan kerjaku yang single dan traveler, mendadak ditugaskan dinas ke Papua selama dua minggu. Dia datang ke mejaku dengan wajah memelas, membawa keranjang pet cargo berwarna pink norak.
"Nif, tolongin gue ya. Gue gak percaya sama penitipan hewan. Gue cuma percaya sama lo. Lo kan orang baik, muka lo trustworthy kayak admin kitabisa.com," bujuk Devi.
"Gak bisa, Dev. Istri gue, Feby, itu orangnya resikan. Dia gak suka ada bulu-bulu nempel di sofa. Nanti gue diamuk," tolakku tegas.
"Plis Nif... Ini Miko. Dia kucing oren, tapi kalem kok. Dia introvert. Dia cuma butuh makan sama tidur. Gue bawain stok makanannya yang premium. Nanti gue oleh-olehin Koteka asli Papua deh."
Entah setan apa yang merasukiku, atau mungkin karena aku takut Devi nangis di kantor dan bikin heboh, aku akhirnya mengiyakan. "Oke. Tapi kalau Feby marah, lo yang tanggung jawab ya."
Sorenya, aku membawa Miko pulang. Kucing oren gemuk dengan tatapan mata yang seolah berkata, "Minggir lu, babu."
Aku membuka pintu rumah dengan hati berdebar. "Assalamualaikum... Yang, aku bawa titipan..."
Feby keluar dari dapur. Matanya langsung tertuju pada makhluk oranye di dalam kandang. Wajah Feby yang tadinya datar, tiba-tiba berubah cerah. Matanya berbinar seperti karakter anime shoujo. "YA AMPUUUUUN! LUCU BANGET!"
Feby langsung menyambar kandang itu, mengabaikan aku yang masih berdiri memegang tas kerja dan helm. Dia membuka kandang. Miko keluar dengan anggun. "Halo Sayang... Siapa namanya? Duh, gemoy banget perutnya ndut..." Feby mengelus-elus Miko. Miko langsung purring (mendengkur) manja. Dasar penjilat!
"Namanya Miko, Yang. Punya Devi. Nitip dua minggu," jelasku.
Feby menoleh padaku sebentar, tatapannya tajam. "Miko? Nama pasaran banget. Gak cocok sama aura bangsawannya. Mulai sekarang kita panggil dia KING OYEN."
"Hah? King?"
"Iya. Liat tuh duduknya. Tegap. Berwibawa. Beda sama kamu yang bungkuk kebanyakan main HP."
Dan saat itulah aku sadar. Neraka duniawi selama 14 hari baru saja dimulai.
Tiga hari berlalu. Hierarki di rumah ini sudah berubah total. Struktur kekuasaan sebelumnya:
- Feby (Ratu Tertinggi)
- Hanif (Perdana Menteri/Pelaksana Tugas)
- Kecoa/Nyamuk (Musuh Negara)
Struktur kekuasaan sekarang:
- King Oyen (Dewa yang Disembah)
- Feby (Imam Besar Pemuja Dewa)
- Kipas Angin
- Keset Kaki
- ... (100 tingkat ke bawah) ...
- Hanif (Babu/Tumbal Proyek)
Malam itu, aku pulang lembur dengan perut keroncongan. Harapanku sederhana: Masakan istri yang hangat. Sayur asem, ikan asin, sambal terasi. Aku masuk ke dapur. Aromanya wangi sekali. Bau ikan segar yang dipanggang. "Wah, masak ikan ya Yang? Tau aja aku lagi pengen protein," kataku girang.
Aku duduk di meja makan. Di depanku tersaji piring berisi: Tahu Bacem sisa kemarin (yang sudah keriput seperti jari nenek sihir) dan kerupuk mlempem. Sementara itu, Feby sedang sibuk di lantai, menata piring keramik kecil bermotif ikan. Di atas piring itu, tergeletak Ikan Salmon Norwegia yang dipanggang medium well tanpa bumbu (biar sehat, katanya).
King Oyen makan dengan lahap. Nyam... Nyam...
Aku menatap piringku. Menatap piring kucing. Menatap istriku. "Yang... kok lauk aku tahu bacem? Itu salmon buat siapa?"
Feby menoleh tanpa rasa bersalah. "Buat King Oyen lah. Kasian dia bosen makan dry food terus. Bulunya nanti rontok kalau kurang Omega-3. Kamu kan udah dewasa, bisa makan apa aja. Tahu itu sehat, protein nabati. Jangan manja."
"Tapi Yang... sekilo salmon itu bisa buat beli token listrik sebulan..."
"Ssst! Jangan berisik! Nanti King Oyen stress kalau denger suara orang miskin ngeluh. Kucing stress itu bahaya, bisa feline lower urinary tract disease!"
Aku makan tahu bacem itu dengan air mata berlinang. Rasanya hambar. Sehambar cintaku yang kini terbagi dua. Sementara di bawah kakiku, King Oyen menatapku sambil menjilat sisa salmon di bibirnya. Tatapannya mengejek. "Enak tahu bacemnya, Bro? Gue sih salmon."
Masalah pangan hanyalah permulaan. Masalah sesungguhnya adalah teritori. Kasur kami ukuran Queen Size. Biasanya cukup untuk dua orang (aku dan Feby). Tapi sejak ada King Oyen, kasur itu terasa sempit seperti peti mati.
Malam itu, aku masuk kamar. Lelah. Ingin tidur. Aku melihat pemandangan yang membuat hatiku teriris. King Oyen tidur telentang di tengah kasur. Posisinya starfish (kaki merentang ke empat penjuru). Dia menguasai 70% wilayah kasur. Feby tidur meringkuk di sisi kiri, memeluk King Oyen dengan posesif. Sisa tempat untukku? Pinggiran kasur selebar 15 sentimeter.
"Yang... geser dong. Aku mau tidur di mana?" bisikku.
"Tidur di pinggir aja Mas. Jangan dorong-dorong! Liat nih King Oyen lagi deep sleep. Liat kumisnya gerak-gerak, dia lagi mimpi ngejar kupu-kupu. Jangan dibangunin, pamali," jawab Feby sambil mengelus kepala kucing itu.
"Tapi aku bisa jatoh, Yang!"
"Ya pegangan sama sprei! Udah ah, berisik."
Aku mencoba membaringkan tubuhku miring. Setengah badanku menggantung di udara. Punggungku dingin. Dan bicara soal dingin... Suhu AC disetel di angka 16 Derajat Celcius. Fan Speed: Maximum. Kamar ini bukan kamar tidur, ini kulkas penyimpanan daging.
"Yang, kecilin AC dong. Beku nih aku," keluhku sambil menggigil.
"Gak boleh! King Oyen itu bulunya tebal. Dia gampang kepanasan. Kalau dia kepanasan, nanti dia panting (napas cepat). Kasian."
"Lha aku? Aku manusia tropis, Yang! Aku bisa hipotermia!"
Feby bangun sebentar, mengambil sesuatu dari lemari, lalu melemparnya ke wajahku. Itu adalah Selimut Bekas. Tipis dan bolong-bolong dikit. "Pake itu. Selimut yang tebal dipake King Oyen."
Malam itu aku tidur dalam posisi miring, kedinginan, sambil memegang pinggiran kasur agar tidak jatuh. Di tengah malam, aku terbangun karena sesak napas. Ternyata pantat King Oyen menempel tepat di hidungku. Baunya? Bau kemenangan.
Puncak kegilaan terjadi di hari kesepuluh. Aku pulang kerja, badan meriang. Hidung meler. Tenggorokan sakit. Efek tidur di pinggir kasur dengan suhu Arktik selama seminggu mulai terasa. Aku bersin-bersin hebat. HATCHIM!
Feby sedang duduk di sofa, memangku King Oyen. Mendengar aku bersin, Feby langsung melotot. "MAS! JANGAN BERSIN DI SITU!"
Aku kaget. "Kenapa Yang? Aku sakit nih..."
"Jauh-jauh! Nanti virus kamu nular ke King Oyen! Kamu tau gak biaya dokter hewan itu mahal? Sekali infus bisa sejuta! Kalau kamu yang sakit kan tinggal minum tolak angin dua sachet juga sembuh!"
Aku ternganga. Harga nyawaku < Harga infus kucing. Validasi yang menyakitkan.
"Aku masuk kamar ya, mau istirahat," kataku lemah.
"Jangan! Kamar udah disterilkan buat King Oyen bobo siang. Kamu tidur di sofa luar aja malem ini. Ini masker, pake double!" Feby melempar masker medis.
Aku menurut. Aku tidur di sofa ruang tamu, ditemani nyamuk dan kesedihan. Tiba-tiba, King Oyen batuk sedikit. Kek... Kek... (Mungkin keselek bulu).
Feby langsung panik histeris. "YA AMPUN! ANAKKU KENAPA?! MAS! MAS! BANGUN!" Feby mengguncang tubuhku yang sedang demam.
"Apa Yang..."
"King Oyen batuk! Kayaknya dia ketularan energi negatif kamu! Cepet cari dokter hewan 24 jam! Sekarang! Panasin mobil!"
"Yang... aku demam 39 derajat..."
"GAK PEDULI! INI DARURAT! Kucing itu nyawanya ada 9, tapi kalau sakit satu, sedihnya sedunia! Cepetan!"
Dengan kepala pening dan badan menggigil, aku menyetir mobil mencari klinik hewan tengah malam. Feby duduk di belakang, memeluk King Oyen sambil menangis bombay. "Bertahan ya Sayang... Papa Hanif emang lelet, tapi kita pasti sampe..."
Sesampainya di klinik. Dokter hewan memeriksa King Oyen. "Ini cuma hairball Bu. Keselek bulu sendiri. Gapapa, dikasih vitamin aja."
Feby lega setengah mati. "Alhamdulillah... Makasih Dok." Dokter menatapku yang ingusan dan muka merah padam. "Ini suaminya gak diperiksa sekalian Bu? Keliatannya mau pingsan."
"Ah, dia mah emang gitu Dok. Muka bantal. Udah biasa."
Kami pulang. King Oyen dapat vitamin mahal seharga 300 ribu. Aku mampir ke Indomaret beli obat flu generik seharga 5 ribu perak. Kesenjangan sosial ini begitu nyata.
Besoknya, ada paket datang. Feby membukanya dengan antusias. Isinya: Baju Kucing Model Tuxedo dan Baju Manusia (Kaos Oblong Putih Polos).
"Liat Mas! Aku beli baju couple!" seru Feby.
"Oh ya? Mana punyaku?"
Feby menyodorkan kaos oblong putih tipis (mirip saringan tahu) padaku. "Ini buat kamu." Lalu dia memakaikan Tuxedo mini lengkap dengan dasi kupu-kupu ke King Oyen. "Dan ini buat Paduka Raja."
"Yang... ini kaos partai sisa kampanye ya? Tipis banget. Terus kenapa kucing pake jas?"
"Biar difoto bagus buat Instagram! Kamu kan cuma background, jadi pake putih aja biar gak distracting. Ayo foto! Kamu pegang King Oyen, tapi jangan kena muka dia ya, nanti make-up naturalnya luntur."
Kami berfoto. Hasilnya: King Oyen terlihat gagah dan tampan. Aku terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa yang kabur dan menculik kucing bangsawan. Feby mempostingnya dengan caption: "My Two Boys ❤️ (Yang satu ganteng banget, yang satu... ya gitu deh)."
Satu hari sebelum Devi pulang. Aku sudah tidak tahan. Aku merencanakan sabotase kecil. Aku akan menyembunyikan mainan kesayangan King Oyen (tongkat bulu ayam) supaya dia rewel, dan Feby kesal sama dia.
Aku mengambil tongkat itu diam-diam saat Feby mandi. Aku selipkan di belakang lemari kulkas. "Rasain lu. Gak bisa main. Nanti lu ngeong-ngeong berisik, terus Feby marah," gumamku licik.
Feby keluar kamar mandi. "Lho? Tongkat ajaib mana?" King Oyen mulai mengeong. Meong... Meong... (Nadanya menuntut).
Feby panik. "Mas! Tongkatnya ilang! Cari Mas!"
"Gak tau Yang. Mungkin dimakan tikus," jawabku santai.
King Oyen menatapku. Tatapan matanya... dia tahu. Kucing oren itu berjalan mendekati kulkas. Dia tidak bisa mengambilnya, tapi dia duduk di depan kulkas dan menatap celah belakang kulkas sambil mengeong sedih. Aktingnya level Oscar. Matanya berkaca-kaca.
Feby mengikuti arah pandangan kucing itu. Dia menggeser kulkas (Entah darimana kekuatan istriku, kulkas dua pintu digeser sendirian). Tongkat itu ditemukan.
Feby menatapku. Tatapan John Wick. "Mas... kamu umpetin ya?"
"Eng... enggak Yang! Sumpah! Mungkin kesenggol..."
"MINTA MAAF SAMA KING OYEN SEKARANG!"
"Hah? Gila kali. Masa minta maaf sama kucing?"
"MINTA MAAF ATAU JATAH MAKAN KAMU AKU GANTI JADI WHISKAS SACHET!"
Harga diriku runtuh. Hancur lebur menjadi debu. Aku berlutut di depan kucing oren itu. "Miko... eh, King Oyen... Om minta maaf ya. Om khilaf. Jangan laporin Om ke Komnas HAM."
King Oyen mengibaskan ekornya, lalu memalingkan muka dengan sombong. Dia berjalan pergi, meninggalkan aku yang berlutut seperti hamba sahaya di depan rajanya.
Esoknya Hari kebebasan tiba. Devi mendarat dari Papua. Dia datang ke rumah sore hari untuk menjemput Miko. Aku menyambut Devi dengan senyum paling lebar yang pernah kumiliki seumur hidup. "Devi! Sahabatku! Malaikat penolongku! Masuk Dev, ambil kucingmu segera!"
Tapi Feby... Feby sedang di sofa, memeluk King Oyen erat-erat. Air matanya bercucuran deras. "Huhu... jangan pergi Nak... Mama masih sayang..."
Devi bingung. "Lho? Feby kenapa nangis?"
"Dia sedih Dev, kucing lo terlalu mempesona," kataku cepat. "Udah Dev, bawa aja kandangnya. Sekalian sama baju tuxedo, piring keramik, pasir wangi import, sama sisa salmon di kulkas. Bawa semua. Gratis."
"Wah, makasih ya Nif, Feb. Maaf ngerepotin."
Feby melepaskan King Oyen dengan berat hati. Dia mencium kening kucing itu berkali-kali. "Jangan lupain Mama ya King... Kalo Tante Devi kasih makan murah, lapor sama Mama..."
Miko dimasukkan ke kandang. Saat Devi mengangkat kandang itu, aku bersumpah aku melihat Miko menatapku. Dia menyeringai. Seringai licik yang berkata: "Gue bakal balik lagi, Bro. Tunggu tanggal mainnya."
Devi pergi. Suara mobil taksi menjauh. Rumah kembali sunyi.
Aku menghembuskan napas lega. "AKHIRNYA! MERDEKA!" Aku merebahkan diri di sofa. "Yang, nanti malem kita rayakan ya? Pesen martabak yuk? Terus kita nonton film berdua. AC-nya kita setel 24 derajat aja yang anget."
Hening. Tidak ada jawaban. Aku menoleh. Feby masih duduk di lantai, memegang bulu-bulu rontok Miko yang tertinggal di karpet. Tatapannya kosong.
"Yang?"
Feby menoleh padaku perlahan. Matanya sembab. Wajahnya penuh dendam. "Kamu seneng ya dia pergi?" tanyanya dingin.
"Ya... seneng dong. Kan rumah jadi lega. Kita bisa berduaan lagi."
"Tega kamu Mas. Tega." Feby berdiri. "Rumah ini sepi tanpa tawa riang King Oyen. Hampa."
"Hampa apanya? Dia kerjanya cuma tidur sama boker!"
"DIAM!" Feby membentak. "Malam ini aku gak mood makan martabak. Aku mau berkabung."
Feby masuk ke kamar, membanting pintu, dan menguncinya. Aku ditinggal sendirian di ruang tengah.
Aku melihat ke meja makan. Tidak ada makanan. Aku melihat ke kulkas. Kosong (salmonnya udah dikasih ke Devi). Hanya ada satu bungkus mie instan rasa soto.
Aku memasak mie instan itu sendirian. Sambil makan, aku merenung. Kucing itu sudah pergi. Tapi jajajahannya masih terasa. Kasur masih bau kucing. Sofa penuh bulu. Istriku ngambek. Dompetku tipis bekas beli vitamin.
Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Notifikasi WhatsApp dari Devi. Devi mengirim foto Miko yang sudah sampai di rumahnya. Caption-nya: "Miko kangen nih kayaknya sama om Hanif. Dia ngeong-ngeong terus. Bulan depan gue ada tugas dari si botak ke Kalimantan sebulan, titip lagi boleh ya Nif? Feby pasti seneng!"
Mie instan di mulutku jatuh kembali ke mangkok. Sebulan. Tugas ke Kalimantan. Sebulan.
Aku menatap layar HP dengan horor. Aku membalas singkat: "Dev, kalau lo kirim kucing itu lagi ke sini, gue yang bakal pindah ke Kalimantan. Jadi Orangutan."
Aku mematikan HP. Malam ini, aku tidur di sofa lagi. Menikmati keheningan yang menyedihkan, sambil berdoa semoga Devi jadi tahanan kota biar ga usah titip-titip kucing lagi.