Disukai
1
Dilihat
1,912
Balada Analis Kredit
Komedi

 Ternyata ada hal yang lebih sulit daripada melupakan Reihan, yaitu menjadi seorang analis kredit di sebuah bank BUMN terkemuka di Indonesia. Sebut saja Bank Bersama Kita Bisa. Di Bank Bersama Kita Bisa, seorang analis kredit bertugas untuk menyalurkan dana kepada masyarakat (sesuai dengan fungsi utama bank, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana dari dan kepada masyarakat) melalui pemberian kredit kepada para pelaku usaha mikro menengah. Tugasnya dimulai dari mencari debitur potensial, mengunjungi dan menganalisa usaha debitur potensial, mengajukan proposal pendanaan kepada pemimpin, hingga penagihan angsuran setiap bulannya. Duh, berat banget kan tugas yang dipikul di pundak para analis kredit ini.

Oh, ya di Bank Bersama Kita Bisa, para penyalur kredit ini memang disebut sebagai ‘Analis Kredit’. Di bank tetangga, penyebutannya bisa berbeda; Mantri, Relationship Manager, Relationship Marketing, Marketing Officer, Account Officer. Apa pun itu penyebutannya, tugas utama para ‘budak korporat’ ini adalah memasarkan kredit yang mana sebagian besar dari kami baru mengetahuinya ketika kami sudah terlanjur menandatangi kontrak kerja mengikat selama tiga tahun. Mau resign di tengah jalan? Tentu saja tak semudah itu Fergusooo! Soalnya ketika itu, bukan saja ancaman denda penaliti ratusan juta yang akan ditagihkan jika kamu putus kontrak sebelum masanya, tetapi juga ancaman ijazah sarjana kamu yang ditahan tidak akan dikembalikan (oops, too many informations!)

Namun demikian, di tengah beban tanggung jawab dan deadline yang begitu berat, sesungguhnya ada banyak kisah yang sangat berkesan untuk diwariskan kepada anak cucu dan handai taulan supaya bisa pikir – pikir lagi kalau mau daftar jadi pegawai bank. Hahaha. Just kidding! Semua hal memiliki sisi baik dan buruknya. Bahkan di penghujung hujan badai pun kita diberkati dengan pelangi, bukan? Seperti kisah – kisah analis kredit yang akan saya ceritakan kepada kalian setelah ini. Di tengah tekanan target yang menghimpit ada saja kisah – kisah konyol yang menghadrikan tawa. Duileeh….


Meeting pipeline : Ketika Tiba – Tiba Kamu Ingin Berubah Jadi Gedebog Pisang

Apa sih pipeline itu? Pipe : Pipa, Line : Garis. Garis Pipa? Pipa Bergaris? Salah!

Pipeline adalah kata keramat bagi analis kredit macam saya. Dan saya jamin, di bank mana pun para analis kredit ini berada, mereka semua paling anti sama yang namanya meeting pipeline

Pipeline itu bukan jenis makanan ringan ataupun makanan berat, karena benar-benar tidak bisa dimakan. Pipeline adalah istilah untuk menyebut … hmm … menyebut apa ya? Menyebut bala bencana yang tiba-tiba mengacaukan mood seorang analis kredit seharian.

Jadi, di meeting pipeline itu kamu dan teman-teman sejawatmu akan dikumpulkan di suatu ruangan untuk dimintai keterangan lebih mendalam terkait siapa nama debitur yang pasti bisa kamu booking untuk bulan ini, jenis usahanya apa, nominal kredit yang akan diberikan berapa. Karena target analis kredit sebulan di tempat saya adalah Rp. 3 Milyar (iya, kamu tidak salah baca!), ketika kamu menyebutkan angka di bawah itu maka kamu akan mendapatkan tatapan sinis dan cibiran pedas dari teman - teman sejawat (lebay detected).

Meeting pipeline di tempat saya diadakan setiap hari Selasa. Jadi, setiap hari Senin biasanya saya sudah menunjukkan gejala - gejala diare ringan, panas dalam, gatal – gatal serta bersin – bersin. Kalau gejalanya parah dan tidak ada nama calon debitur yang bisa disebut, biasanya saya akan melayangkan surat izin sakit di hari Selasa. Kalau jatah sakit sebulan itu sudah habis, maka mau tidak mau hari Selasa ini harus tetap dihadapi dengan lapang dada.

“Apa pipeline kamu bulan ini, Nina? Tanya Pak Bos. Kumisnya bergetar searah jarum jam.

“Siap, Bos. Ada Mr. X, usahanya budidaya pokemon. Permohonan kredit Rp. 1,5 Milyar.”

“Cuma itu?” Bos tampak tak puas. Target sebulan Rp. 3 Milyar belum bisa saya penuhi.

“Iya, Bos,” jawab saya ragu – ragu. Mulai tengok kanan kiri. Gelisah, galau, merana.

"Dikit banget! Ngapain aja kamu bulan lalu? tidak prospek? Tidak jualan!?” Suara Pak Bos kembali menggelegar. Para analis kredit dalam ruangan mulai mengkeret.

“Jualan kok, Pak! Tapi kan yang namanya jualan ada pasang surutnya.” Sayangnya, jawaban ini hanya imajinassi saya belaka. Biasanya saya cuma bisa mesem – mesem sambil memendam dendam kesumat kalau sudah dapat cecaran seperti ini. Hahaha.  

“Kepastiannya berapa persen nih Mr. X bisa cair?” Bos masih belum menyerah untuk menyiksa batin saya.

“95 %, Bos!” Jawab saya pura – pura yakin padahal mah boro – boro.

“Ko’ tidak 100%?” Tuh, kan? kenapa Tuhan tidak bikin orang satu ini lahir di zaman penjajahan saja sih? konsistensi dan persistensinya dalam menekan mental orang lain bisa digunakan untuk mengusir Belanda.

“5% - nya kan jika Tuhan berkehendak, Bos. Sebab jika hanya kehendak analis kredit tapi Tuhan tidak, maka tidak cairlah kreditnya.” Lagi – lagi dialog ini hanya dalam hati belaka. Mana berani saya – yang kala itu masih menjadi analis kredit baru fresh from the oven – berani nyahutin Pak Bos.

Lalu, di Selasa berikutnya, ketika Mr. X membatalkan rencana pengajuan kredit karena Mrs.X tidak mau menyerahkan rumah mereka untuk menjadi jaminan kredit ….

 “Bagaimana perkembangan kredit Mr. X? Sudah sampai mana prosesnya?” Tanya Pak Bos. Kumisnya bergetar berlawanan arah jarum jam.

Saya celingukan ke kanan dan ke kiri. Kebingungan. Panas dingin. Mr. X adalah tumpuan harapan saya, tapi ternyata tidak jadi ambil kredit. Rasanya pengen dipulangkan ke rumah orang tua saat itu juga. Maka dari itu, saya yang sudah tidak punya pipeline lagi dan jatah buat izin sakit habis, memutuskan untuk berubah menjadi gedebog pisang.

“Loh, tadi saya lihat Nina ada di sini, kok sekarang ngilang? Ke mana dia?” Bos pun kebingungan mencari saya.

Teman-teman lain juga ikut bingung mencari.

“Sampah batang pisang dari mana ini? bikin kotor saja! cepat buang sampah masyarakat ini ke TPA!” Bos bertitah.

Dan saya pun lolos dari meeting pipeline Minggu ini. Hufft ... Minggu depan berubah jadi apalagi, ya?*


Beralih Profesi Jadi Mama Lauren di Business Meeting.

Sebagai seorang analis kredit dari bank terkemuka di Indonesia (ceileh…), kami tidak hanya dituntut untuk mumpuni dalam bidang negoisasi hingga closing debitur maupun penagihan ala preman hingga tunggakan terbayar. Di samping skill wajib di atas, kami juga dituntut memiliki ilmu kebatinan untuk meramal masa depan seperti Mama Lauren. Kamu tahu Mama Lauren, kan? Tidak tahu? Serius? Itu loh, yang suka ramal-ramalin perceraian artis. Hahaha. Sudah almarhumah, tapi gantinya banyak.

Seperti kejadian di suatu pagi yang cerah. Tidak ada angin, tidak ada tanda-tanda hujan. Lihat ke lepas pantai dari jendela kantor, ombak pun aman terkendali. Eh, tiba-tiba penyelia analis kredit, sebut saja Ibu Deborah, yang cetar membahana keluar dari singgasananya.

"Cepat kumpulin nama calon debitur untuk di closing sepanjang tahun ini. Setengah jam lagi di - email ke saya, ya!" 

“Apa???!!!” Maka gemparlah penghuni kahyangan.

Nama calon debitur selama setahun?! Ini gila, men! Menu makan siang buat entar saja belum sempat terpikirkan.

Analis yang jomlowan dan jomlowati pun pada protes. 

"Kalau tau siapa nama debitur yang akan di – closing sampai dengan akhir tahun, pastinya kami sudah tidak jomlo lagi sekarang karena sudah tau belahan jiwa kami di masa depan siapa."

Ibu Deborah yang cetar tidak mau mendengarkan keluhan kami, "Pokoknya nama-namanya dikumpulin ke saya setengah jam lagi. Besok mau Business Meeting, nih! Pokoknya target 200 Milyar harus sudah tau mau disalurkan ke mana. Titik tidak pake koma apalagi tanda tanya!"

Lalu, setengah jam kemudian, berbekal kreativitas tingkat tinggi, maka terkumpullah sudah nama – nama calon debitur beserta jenis usaha untuk mendapat penyaluran kredit 200 Milyar sepanjang tahun. Penyelia senang, kami pun bahagia. Target tahun ini di atas kertas sudah tercapai. Semua bisa pulang dan bobo siang syantikk seperti Princess Syahroni.

Singkat cerita, Business Meeting pun berlangsung dengan aman dan terkendali tanpa adanya kendala apalagi tawuran.

Eit, tapi jangan senang dulu. Seminggu kemudian ….

Ibu Deborah kembali keluar dari peraduannya dan berdiri di tengah-tengah ruangan.

"PT. Maju Mundur Cantik, usaha distribusi bulu mata anti tsunami, permohonan kredit 1 Milyar, punya siapa, nih? Sudah sampai mana progresnya?"

Hening ….

"Kalau PT. Hello Kitty, usaha merebut kekasih orang lain, permohonan Rp. 2.5 M punya siapa?"

Seisi ruangan masih hening.

"Ko' diam semua, sih? Ini kan nama - nama calon debitur yang kalian masukin ke saya untuk Business Meeting minggu lalu!?"

Itulah masalahnya ….

Ruangan tetap hening karena ternyata para analis kredit sedang berjuang mengingat hasil mengarang bebas yang diajukan ke Ibu Deborah minggu lalu.

Duh, apa ya? Minggu lalu saya nulis nama siapa, ya? 

Ibu Deborah hanya bisa mengembuskan napas panjang sebelum memberikan memberikan petuah yang akan kami kenang sepanjang hayat, "Makanya, kalau mau ngarang nama debitur yang gampang diingat dong!"

“Siap, Bu!” jawab kami serempak dalam hati masing – masing.*

 

Bapak Harus Bertanggungjawab Atas Masa Depan Saya!

Suatu hari di akhir bulan yang hectic dan sedikit chaos, tersebutlah dua orang analis kredit baru yang masih imut dan unyu-unyu. Sebut saja Friska dan Wanda (nama sebenarnya bukan, ya?)

Mereka berdua grasak-grusuk di belakang kubikel saya. Sebagai seorang senior analis kredit yang baik hati dan tidak suka mencampuri urusan orang lain (padahal ini antena udah dipasang tinggi-tinggi buat menangkap gelagat - gelagat mencurigakan yang kali aja bisa jadi bahan gosip murahan), maka saya tetap duduk di kubikel sambil stay cool dan pura-pura sibuk kerja pakai mouse yang di – scroll up scroll down doang. Hehe. 

Terdengarlah percakapan dua analis kredit unyu-unyu ini.

“Gawat! Kalau Bapak Naruto tidak bayar bulan ini, kreditnya bisa jatuh ke golongan 3.” Suara Wanda terdengar serak – serak gelisah.

Sebagai informasi, kredit jatuh ke golongan 3 artinya debitur sudah tiga bulan tidak melakukan pembayaran angsuran. Dengan kata lain kredit ini Non Performing Loan alias macet! Kredit macet bagi seorang analis kredit, apalagi yang masih unyu-unyu, adalah malapetaka!

“Ditagih, dong! Sudah datang ke rumahnya?” Friska, yang kubikelnya sebelahan sama Wanda, menimpali.

“Sudah ditagih lewat sms, ditelpon dan datang ke rumah. Tapi, Pak Naruto tidak respon dan tidak ada di tempat.” Wanda menjawab galau.

“Kreditnya sudah berapa lama?” Friska ini anaknya memang perhatian kepada teman – teman sejawat.

“Baru cair lima bulan yang lalu.” Wanda kayaknya semakin putus asa.

“Aduh gawat!” Friska berseru panik.

Sekilas info lagi, kalau kredit macet adalah malapetaka, kredit macet sebelum setahun adalah musibah beruntun. Kredit macet sebelum setahun dikategorikan sebagai kesalahan analisa kredit dan oleh karenanya, petugas pemberi kredit harus membuat laporan pertanggungjawaban yang di dalamnya menjelaskan latar belakang debitur dan kronologi kenapa bisa sampai macet. Hayo loh! Masih pengen kerja di bank?

“Sini, coba saya yang telepon pake nomorku. Diangkat apa tidak nih kira – kira?” Friska menawarkan bantuan.

Percakapan selanjutnya adalah percakapan antara Friska dan Pak Naruto lewat telepon. Berhubung ponsel – nya tidak di loadspeaker, jadinya, dialog Pak Naruto hanya terkaan saya belaka.

“Halo, benar dengan Bapak Naruto?” Ternyata telepon Friska diangkat. Mungkin karena nomor baru.

“Iya, benar. Darimana ya?”

“Saya Friska, dari Bank Bersama Kita Bisa. Saya hanya mau mengingatkan saja Pak, tolong ya tagihannya dibayar. Ini sudah tiga bulan tidak bayar.”

“Iya, iya ... Ini uangnya sedang dicari nanti kalau sudah terkumpul saya pasti bayar.” Biasanya jawaban pamungkas debitur yang susah ditagih tuh begini.

“Bapak janji - janji terus. Ini kalau macet aset bapak kami sita, lho! Terus di info bank nanti nama Bapak jadi jelek. Ke depannya kalau mau pinjam di mana-mana susah, Pak. Info bank itu bisa diakses semua bank dan perusahaan leasing!”

“Iya, iya. Saya tau itu.”

“Kalau tau bayar dong, Pak!” Friska bersikukuh.

“Ibu ini budeg apa gimana? Kan saya bilang duitnya lagi dikumpulin.”

“Iya, soalnya kalau bapak macet saya bisa kena marah bos. Bapak belum setahun dikasih kredit sudah macet. Saya masih pegawai baru, Pak, di sini. Kalau Bapak macet saya bisa kena sanksi PHK.” Friska mulai mengeluarkan jurus mengancam. Hebat juga ini anak baru nagihnya. “Kalau sampai saya dipecat, Bapak harus bertanggungjawab atas masa depan saya!”

“Tanggungjawab? Ibu tidak saya apa - apain kok telpon minta tanggungjawab? Yo wes, besok saya nikahin ibu ya ….”

“#$@^#*(@#^”

Dan saya pun tertawa terbahak-bahak. “Minta tanggungjawab? Emang kamu habis diapain?” Saya tidak tahan untuk menyahut. Ya, ketahuan deh sedang nguping pembicaraan mereka dari tadi.

“Soalnya kesal, Mbak. Malah telepon saya ditutup.” Friska masih misuh – misuh.

“Ya, sudah. Sabar ya ... badai pasti berlalu.” Saya menjawab dengan bijak bestari.

Kedua analis baru yang masih unyu – unyu itu pun hanya bisa manggut-manggut.

“Tapi ingat, badai pasti datang lagi. Biasanya disertai angin topan dan puting beliung.” Petuah saya masih berlanjut diiringi dengan tawa yang terbahak – bahak.

Mereka berdua pun melengos dan pergi dari belakang kubikel saya dengan raut wajah sebal.

What a end of month ….

 

Kami, Analis Kredit, Susah disogok Gampang diracun.

Bekerja penuh integritas adalah nilai yang kami, para analis kredit, pegang teguh. Kami menyalurkan kredit kepada Anda karena usaha Anda layak dibiayai, jaminan Anda mencukupi dan yang lebih dari semua itu, karakter Anda baik serta bisa bekerja sama dengan hasil yang menguntungkan kedua belah pihak (widih … berat nggak, tuh?)

Jadi, jangan coba-coba sogok kami dalam bentuk apa pun. Drama saling lempar duit dan kejar – kejaran di jalan dengan debitur sering terjadi. Sebabnya, debitunya ngotot memeberikan amplop setelah pencairan kredit, tapi kami lari menghindar.

"Tidak usah Koh Chibi Maruko Chan. Bayar tepat waktu saja saya sudah senang." Suatu ketika saya pun pernah mengalami yang namanya kejar – kejaran dengan debitur. Minus latar belakang pepohonan dan lagu India.

"Sudah, ambil saja. Ini ucapan terimakasih saya." Koh Chibi memaksa menyelipkan amplop ke dalam tas saya. 

Saya merogoh tas dan mengambil amplop lalu mengembalikan benda keramat itu lagi. "Tidak usah, Koh. Saya takut!"

"Takut sama siapa kamu?"

"Takut sama Tuhan Yang Maha Kuasa." Kemudian saya berlari menyebrang jalan. "Sudah dulu ya, Koh. Saya mau balik kantor."

Koh Chibi pantang menyerah, dia ikut menyebrang dan mengejar saya. Saya pun memaksakan badan yang gemuk ini untuk berlari lebih kencang.

"Woy, Nina! Saya capek nih kejar-kejar kamu."

"Aduh Koh, maaf ya. Saya tidak terima yang gitu-gituan. Gaji saya sudah lebih dari cukup." Dalam hati menghitung jumlah tagihan pinjaman kredit rumah.

Lalu saya segera masuk ke dalam mobil kantor dan minta Pak Driver segera cabut dari sana. Saya pun tiba di kantor dengan selamat dan bahagia karena target bulan ini tercapai berkat penyaluran kredit kepada Koh Chibi Maruko Chan.

Beberapa menit kemudian, Office Boy kami yang baik hati dan budiman membawakan dua buah kantong plastik besar. Bunyi kresek bergesekan membuyarkan konsentrasi para analis kredit yang sedang serius menghitung kelayakan pembiayaan dalam jumlah milyaran padahal lihat fisik duit puluhan juta saja jarang - jarang terjadi.

"Eh, apaan tuh bunyi - bunyi?" Harap maklum ya, kami memang lemah sama bunyi - bunyian kantong kresek.

Kepala para analis kredit mulai menyembul satu - satu dari balik kubikelnya.

"Eh, eh, ada pizza loh ...!"

Dan dalam hitungan tidak lebih dari tiga detik semua beranjak dari kursi dan menyerbu Pak Office Boy.

Persaingan ketat dan pertumpahan darah pun terjadi.

"Eh, saya yang ini dong!"

"Minggir, saya belum kebagian!"

"Satu orang satu, jangan dua!"

Bak ... buk ... bak ... buk ... gedebak … gedebuk!!!

Singkat cerita, dua pan pizza berukuran large tandas tak bersisa oleh para analis kredit yang kebanyakan merangkap sebagai anak kos.

"Eh, ini pizza dari siapa, ya? Ada yang ulang tahun? Siapa yang ulang tahun?" Salah satu analis kredit bertanya. Biasanya kalau ada yang ulang tahun atau syukuran naik jabatan memang ditodong buat traktir seisi kantor.

"Tidak tahu." Yang lain serempak menjawab.

Dan hingga jam pulang kantor tiba, asal usul pizza siang tadi masih misteri.

"Gawat banget ya kita ini. Lihat makanan langsung makan tanpa verifikasi darimana asalnya. Kalau ada racunnya bagaimana?"

"Iya, kita harus lebih waspada. Lain kali harus tau dulu makanannya darimana."

"Betul, jaman sekarang kejahatan di mana-mana. Bahaya!"

Lalu keesokan harinya, di suatu sore yang sendu, Pak Office Boy kembali datang membawa kantong plastik berisi pisang goreng.

Lagi - lagi, bunyi kantong plastik membuyarkan konsentrasi dan meninbulkan rasa lapar. Dalam waktu singkat semua menyerbu. 

"Eh, sisain dong!"

"Minggir, saya belum kebagian!"

Ketika pisang goreng tandas ….

"Pisang goreng darimana, nih?"

Tak ada jawaban. Hingga jam pulang kantor tiba pisang goreng pun tetap jadi misteri.*

 

Rumah ini dalam Pengawasan Bank (Dompet Analis Kredit Tidak Termasuk!)

Suatu akhir bulan, saya dan beberapa orang analis kredit lain menemani Wanda untuk menagih ke salah satu debitur yang nyaris macet. Sebut saja Ibu Frozen. Kami ke sana membawa stiker bertuliskan "Rumah Ini Dalam Pengawasan Bank" yang rencananya akan ditempelkan di dinding rumah yang menjadi jaminan kredit.

Dalam perjalanan yang penuh keceriaan dan bungkusan snack tiba-tiba Bapak Driver kami nyeletuk, "Hati-hati, di kompleks situ banyak preman. Nanti ada yang keluar bawa parang kalau tidak terima rumahnya ditempel begituan."

"Masa' sih, Pak?" Saya mulai was-was.

"Wah, gawat. Kalau gitu nanti kita harus atur strategi." Seorang analis kredit yang ikut dalam rombongan penagihan, mari kita sebut dengan Jane, mulai merencanakan misi pelarian pasca penempelan dtiker. "Jadi Pak Driver, itu kan lorong depan rumahnya sempit, nah pas kami semua turun Bapak langsung putar mobilnya menghadap ke jalan besar. Bapak di dalam saja stand by position. Mesin mobil jangan dimatikan. Jadi begitu kita selesai pasang stikernya, langsung cabut ke dalam mobil semua ya!"

Semua personil berani mati, terdiri dari lima orang analis kredit yang tidak dibekali ilmu kebal waktu pelatihan karyawan hanya bisa mengangguk tanda paham. 

Begitu tiba di TKP, Ibu Frozen tidak berada di tempat dan rumahnya ternyata sudah disewakan ke orang lain.

"Bu, Ibu kan cuma sewa di sini. Kami dari bank. Kami mau tempel stiker ini soalnya Ibu Frozen sudah menunggak kredit." Nona Wanda beraksi.

"Loh, jangan asal tempel dong, Bu. Minta ijin sama yang punya rumah dulu!"

"Tidak ada ijin - ijin. Ibu Frozen sendiri tidak kooperatif. Bisanya cuma nyanyi let it go let it go doang setiap ditagih." Saya menambahkan.

"Jangan begitu, Bu. Saya panggil ya Ibu Frozen ke sini. Dia ada di rumah orang tuanya. Dekat dari sini kok." Ibu si penyewa rumah tetap bersikeras.

"Terserah kalau Ibu mau panggil. Tapi kami tetap akan tempel sitker ini!"

Singkat cerita, stiker itu pun berhasil ditempel ketika ibu yang menyewa rumah pergi memanggil Ibu Frozen.

"Eh, guys ayo buruan balik mobil." Instruksi Jane.

"Yakin nih, kita tidak nungguin Ibu Frozen dulu?" Tanya Wanda.

"Tunggu Ibu Frozen datang bawa parang?! Cepat balik ke mobil semua!" Jane menawab gemas.

Saat kami bergegeas ke mobil, dari kejauhan tampak seorang Ibu berjalan ke arah kami membawa pisau.

"Eh, itu siapa? Bukan Ibu Frozen, kan?" 

"Bukan. Bukan. Ibu Frozen agak mudaan orangnya." Wanda menjawab.

"Jangan - jangan preman yang disuruh sama Ibu Frozen, tuh!" Keadaan mulai mencekam.

Kami semua bergegas masuk ke dalam mobil dan memerintahkan Pak Driver tancap gas ketika tiba – tiba Wanda berseru, "Eh, tunggu … tunggu bentar! Dompet saya mana, ya?" Wanda mencari dompetnya ke seluruh penjuru mobil sambil panik. Nihil. "Kayaknya ketinggalan di rumahnya Ibu Frozen, deh."

"Apa?! Ya sudah ambil sana, tapi kami tidak temenin ya."

"Tapi jangan tinggalin saya ya, Mbak." Wanda memelas sambil turun lagi dari mobil dan berjalan kembali ke rumah Ibu Frozen.

"Pak Driver, kalau dalam 5 menit Wanda tidak balik. Kita cabut saja!" Saya memberi instruksi. Kejam sih, tapi ini demi menyelamatkan nyawa ke lima analis kredit lainnya yang dipundaknya masih ada tanggungjawab kepada ibu pertiwi untuk memenuhi target perusahaan. Hahaha.

Ibu yang bawa pisau menuju rumah Ibu Frozen semakin mendekat. Di depan pagar dia berhenti dan mulai potongin tanaman depan rumah dengan pisau yang dia bawa.

"Oh … itu mau bersihin rumput liar kayaknya." Saya menggembuskan napas lega. Di saat yang bersamaan Wanda muncul membawa dompet.

"Lain kali kalau nempel – nempel stiker jangan ada yang ketinggalan lagi ya!!!" Jane menyahut kesal. 

Personil sudah lengkap. Anggota tubuh pun masih sempurna. Driver segera cabut dari TKP. 

  

Perkara Babi 50 kg.

Selain meeting pipeline dan debitur nunggak, hal lain yang ditakuti oleh seorang analis kredit adalah pemeriksaan oleh auditor. Entah audit dari internal perusahaan maupun eksternal perusahaan.

Seorang auditor ibaratnya adalah polisi. Mata dan dan penciuman mereka jeli dalam memeriksa dan mengendus hal-hal yang mencurigakan dari suatu usulan kredit yang dibuat. Jadi kedatangan mereka sangat TIDAK dinanti-nantikan. Hehehe.

 "Eh, asumsi kenaikan penjualan 70%? Inflasi saja cuma 7%. Sisanya ke mana?" Pertanyaan pamungkas para auditor ketika menengok proposal kredit yang dibuat oleh analis.

"Sisanya reboisasi, Pak. Eh, maksud saya itu karena debitur berencana untuk menambah satu outlet lagi di kota lain."

"Apakah jaminannya sudah dipastikan tidak terkait harta gono gini?"

"Sudah, Pak."

"Pastikannya gimana?"

"Istikharah."

Jawaban di atas sesungguhnya hanyalah fiktif karangan saya belaka, tapi pertanyaannya nyata. Dan kisah selanjutnya ini pun nyata terjadi antara seorang anlis kredit, sebut saja Riko dengan seorang auditor, sebut saja bapak Arif, yang memeriksa dan meminta penjelasan atas hasil perbuatannya di masa lalu.

“Usaha peternakan babi?” Bapak Arif mulai membolak – balik dokumen pengajuan kredit yang Riko usulkan setahun yang lalu.

“Iya pak,” jawab Riko. Harus tampak meyakinkan dan menguasai dokumen meski perutnya pasti langsung melilit, tuh.

“Sudah kunjungan ke lokasi usaha langsung?” Pak Arif terus mencecar Riko.

“Sudah, Pak.”

“Benar ada banyak babi siap panen yang beratnya 50 kg?”

“Benar, Pak.”

“Kok tidak ada dokumentasinya?”

“Ada kok, Pak.” Riko tidak terima atas tuduhan itu. Dia segera menunjukkan foto – foto kunjungan ke lokasi usaha yang tercantum dalam pengusulan kreditnya.

“Kamu yakin babi – babi ini bobotnya 50 kg?”

“Iya, Pak. Yakin. Saya yang foto sendiri.”

“Mana buktinya? Sepertinya ini bukan 50 kg.”

“Astaga, Pak. Betulan, Pak, ini rata – rata 50 kg beratnya.” Riko mulai frustasi.

“Kecil - kecil gini?!”

“Iya, Pak, ini 50 kg.”

“Ah, saya tidak percaya.”

Dan sampai Riko menceritakan hal ini kepada saya, perdebatan tentang bobot babi belum juga menemukan kesimpulan.

“Saya disuruh dokumentasikan lagi, nih. Tapi bagaimana caranya ya saya membuktikan babi – babi itu beratnya 50kg? Masa babinya disuruh naik ke atas timbangan terus saya foto angka di timbangannya?” Riko masih curcol.

“Iya, gitu aja, Ko. Jangan lupa kamu juga harus ada di dalam foto.”

Riko hanya manggut – manggut. Sewaktu mendokumentasikan lokasi usaha atau pun jaminan, wajah analis kredit memang diwajibkan untuk muncul pula di dalam foto.

“Nah, kalau nanti difoto kamu begini, ya.” Saya mengangkat kedua jari telunjuk dan tengah. membentuk simbol ‘peace’. “Terus kamu sama babinya senyum. Biar lebih meyakinkan.”

 “Sialan kamu, Na!”*

 

On The Spot di antara Hidup dan Mati.

Masih ingat Ibu Deborah, penyelia kredit yang paling cetar seantero kantor wilayah? Pada suatu kesempatan, saya pernah melakukan on the spot, alias mengunjungi langsung tempat usaha debitur yang terletak di suatu pulau berjarak 2 jam perjalanan dengan kapal cepat dari kota ibu kota provinsi tempat saya bekerja. Bisnis debitur yang akan saya kunjungi adalah usaha perdagangan hasil bumi berupa pala, cengkih dan kopra dan pulau itu memang salah satu penghasil komoditi tersebut.

Perjalanan menuju pulau lancar jaya tanpa ada kendala sama sekali. Cuaca cerah, laut tenang dan karena itulah kali pertama saya naik kapal cepat lintas kepulauan, maka saya sangat excited. Ketika sampai di pulau, kami segera melakukan tugas berupa verifikasi dan dokumentasi atas kondisi usaha debitur. Karena kapal untuk pulang baru akan ada keesokan harinya, maka malam itu kami menginap di pulau tersebut.

Keesokan harinya, sejak pagi mulai hujan rintik – rintik namun cuaca masih cukup cerah, dan laut masih tampak tenang. Satu jam sebelum jadwal keberangkatan kapal, ketika menunggu di pelabuhan, tiba – tiba cuaca berubah menjadi ekstrim. Angin bertiup kencang dan laut mulai bergelombang. Beberapa penumpang menunda keberangkatan hingga jadwal selanjutnya yaitu besok hari.

“Gimana nih, Bu? Kita lanjut atau tunda?” tanya saya.

“Kalau ditunda, kita pulang besok, dong! ah, saya nggak bawa baju!”

Jawaban Ibu Deborah tidak saya percayai begitu saja. Tas yang dia bawa untuk on the spot kali ini lumayan besar. Kalau bukan baju, apa dong isinya? Anak kucing?

“Ngapain kita menginap satu malam lagi di sini? Tidak ada hiburan. Hampir tidak ada tanda – tanda kehidupan juga.”

 Nah, kalau alasan itu saya percaya. Pulau ini sangat kecil. Saking kecilnya bisa dikelilingi dalam waktu kurang dari setengah jam berkendara dengan mobil. Kemarin, ketika kami telah selesai mendokumentasikan lokasi usaha dan stok milik Cik Sizuka, debitur yang sedang kami tinjau ini, memfasilitasi kami dengan sebuah mobil beserta supir untuk bertugas mengantarkan kami ke mana pun kami ingin pergi.

“Pakai saja ya, mobilnya. Jangan malu – malu. Pakai jalan – jalan. Mumpung lagi di sini,” kata Cik Sizuka ramah.

Ibu Deborah yang sangat antusias langsung memerintahkan sang supir untuk berangkat menuju lokasi – lokasi yang kira – kira menarik di pulau ini. Biasalah ya, mau cari spot – spot foto eksotis untuk diposting di sosmed. Hehe.

“Nah, kita sudah sampai di kantor PLN.” Supirnya Cik Sizuka, kita sebut saja Anto, mulai merangkap jadi tour guide.

“Hah?” Ibu Deborah tercengang. “Ngapain kita ke PLN?”

“Ya, ini yang paling ramai di sini, Bu.” Anto menjawab degan polos. Saya setengah mati menahan tawa. “Tadi mau saya bawa ke tempat makan di pelabuhan, tapi Ibu bilang sudah makan.”

“Iya, tadi kami memang sudah makan di rumah Cik Sizuka,” sahut Bu Deborah. “Duh, Anto, tidak ada tempat lain lagi apa? yang ramai – ramai.”

“Kita kan tadi siang sudah ke kebun salak dan kebun kelapanya Cik Sizuka.”

“Iya, jangan ke kebun lagi!” Ibu Deborah mulai kesal.

Anto kembali menghidupkan mobil dan kendaraan itu kembali melaju. “Nah, ini juga yang paling ramai di sini, Bu.”

“Rumah sakit?” Saya dan Ibu Deborah serempak berseru.

“Iya, Bu.”

“Ya ampun, Anto! Saya masih sehat walafiat. Sudah! Balik penginapan saja!” Kekesalan Ibu Deborah sudah sampai di ubun – ubun nih kayaknya.

Berbekal memori itulah, saya bisa memaklumi kalau Ibu Deborah akhirnya memaksa untuk pulang meski cuaca sedang ekstrim yang mengakibatkan kapal tidak bisa berlabuh di pelabuhan. Iya! Kamu tidak salah baca! Kapal tidak bisa merapat ke pelabuhan sehingga kami harus dibawa oleh perahu nelayan agak ke tengah laut.

“Ini gimana naiknya, Bu?” sampai ke tengah laut, di tepi kapal, di antara deru angin dan ombak yang kencang, saya bertanya panik karena tinggi kapal nelayan dengan pintu masuk kapal penumpang tidak sejajar. Harus ada tangga yang cukup tinggi supaya saya dan Ibu Deborah bisa menggapai di pintu kapal. Tapi, tidak ada tangga di sana.

“Naik di pundak saya saja, Nona!” pengemudi perahu nelayan mengusulkan sebuah hal yang menurut saya bukan solusi. Gila aja! Emang dia sanggup menanggung bobot tubuh plus berat dosa dan daki saya?

“Minggir! Saya duluan!” Tapi ternyata Ibu Deborah melihat usulan itu sebagai jalan keluar. Dengan sigap Ibu Deborah melempar sepatunya ke atas kapal cepat dan dengan cekatan naik ke pundak Pak Nelayan. Hup! Akhirnya dia bisa mencapai pintu kapal dengan selamat.

“Ibu! Tungguin dong!” Saya mulai cemas. Takut ditinggal dan takut kecebur ke laut.

“Ya, sudah ayo cepat!”

Dan entah bagaimana, akhirnya saya bisa membawa badan gemuk ini untuk naik ke pundak Pak Nelayan dan melompat masuk ke atas kapal cepat.

Penderitaan kami ternyata belum sampai di situ saja, kawan – kawan. Karena berlayar di kondisi cuaca yang kurang baik, naik kapal dalam perjalanan pulang ini seperti sedang naik wahana kora – kora di Ancol. Bikin perut mulas. Kami duduk di lantai 3 dengan beberapa penumpang yang dari logatnya bisa saya pastikan bukan berasal dari pulau itu. Mungkin mereka sedang jalan – jalan atau habis menghadiri kedukaan. Soalnya pada pakai baju hitam – hitam.

“Pak, ini nggak apa – apa, kan, Pak?”

Ruangan untuk crew kapal juga berada di lantai tiga dan setiap kali ada crew kapal yang melintas, seseorang dari rombongan yang duduk di sebrang tempat kami duduk selalu bertanya dengan nada cemas. “Ini kapalnya nggak akan kebalik, kan Pak?”

“Jangan khawatir, Bu. Sudah biasa begini. Pernah lebih parah dari ini.” Jawaban para crew kapal yang melintas tampak template. Ya mana mungkin juga kan mereka bilang, ‘siap – siap semua, pegangan yang kencang, kapal oleng, Kapten!’

 Sementara itu, di sebelah saya, Ibu Deborah menjadi lebih diam daripada biasanya. Biasanya dia kan cerewet.

“Bu, masih berapa lama lagi ya kira – kira kita sampai?”

Ibu Deborah masih diam.

“Bu, Ibu pernah naik kapal terus ombaknya tinggi begini?”

“Kamu bisa diam sedikit tidak, Nina? Saya lagi tahan – tahan mau muntah ini!”

Saya pun menutup mulut rapat – rapat. Maksud saya ngajak ngobrol kan biar suasana tidak tegang – tegang banget. Eh, malah disembur.

Kami akhirnya kembali berdiam diri untuk beberapa menit ke depan sambil menikmati wahana kora – kora yang ayunannya makin aduhai.

“Pelampung di sebelah mana ya, kira – kira?” Ibu Deborah tiba – tiba bergumam sambil celingukan. “Cukup nggak ini untuk seluruh penumpang?”

“Ngapain cari pelampung, Bu?” tanya saya. Ikut celingukan. Ngintip ke samping jendela sejenak dan belum bisa melihat daratan.

“Ya, kalau kapal ini oleng bagaimana?!”

 “Berarti yang harus kita cari tau itu arah pintu keluar, Bu. Saat kapal oleng percuma pakai pelampung kalau tidak tau pintu keluar. Nanti malah ikut tenggelam sama kapal.” Saya mengeluarkan sedikit kemampuan menganalisa dengan metode SWOT yang biasanya saya gunakan untuk menganalisa risiko pemberian kredit.

 “Aduh, ini kapan sampai ya, Nina?” Wajah Ibu Deborah mendadak cemas. Tidak tertarik mendengar analisa dadakan saya. “Berdoa saja supaya kita sampai dengan selamat.”

“Bu, jangan ngomong gitu, dong!” Gantian saya yang panik.

Dan syukurlah kami memang tiba dengan selamat meski tidak di tempat tujuan awal. Ya, kapal kami ternyata terdampar di pelabuhan yang jaraknya dua jam perjalanan naik mobil dari ibu kota. Biar kata terdampar, tetap beryukur karena masih bisa lihat daratan.

 Ketika sudah menjejak tanah dengan selamat meski lutut agak tremor, kami baru tahu ternyata kami menaiki salah satu kapal yang nahkodanya nekad mengarungi lautan padahal sudah diberikan red flag oleh pelabuhan tujuan, yang artinya berbahya, karena cuaca sangat buruk. Ya, ampun. Untung selamat!*

Nah, di atas tadi adalah beberapa kisah mengharu biru yang harus kami, para analis kredit lalui. Itu belum termasuk drama dengan debitur yang berbagai rupa wujud dan tingkah lakunya. Bekerja selama nyaris delapan tahun di Bank Bersama Kita Bisa membuat saya memiliki stok cerita konyol (garis miring aib – aib analis kredit) lainnya yang tentu saja akan dengan senang hati saya bagi ke kalian semua di lain kesempatan. Heheh. Gimana? Masih berpikir melupakan Reihan adalah yang paling syulit? Atau justru tertarik untuk jadi analis kredit di bank?[]

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@arinirifatia : Makasih ya udah mampir 😁😁😁
Lucu, Kak... Makasih ah nggak mau jadi analis kredit.. nggak mau aku berubah jadi gedebog pisang 🙈