Disukai
0
Dilihat
29
Kala Hening Menatapmu
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

KALA HENING MENATAPMU

Aksara yang Tak Terucap di Sudut Bibirmu

"Ada keindahan yang tidak perlu meminta izin pada cermin, dan di sudut bibirnya, sebuah titik kecil menjadi kompas bagi seluruh rinduku."

═══ 🌸 🌸 🌸 ═══

Bagian I: Titik Hitam di Tepi Senyum

Awal Mula Pengaguman yang Merampas Segala Bicara

🌸 🌸 🌸

Namaku Rafan Nashif Al Lubay. Seorang pemuda yang selalu meyakini bahwa kata-kata adalah perisai paling ampuh untuk menyembunyikan kerapuhan. Aku bisa merangkai puluhan lembar argumen akademis dengan logika yang tertata rapi, menyusun silabel dalam perdebatan sengit di aula kampus hingga lawan bicara terdiam kehilangan pijakan, atau membedah bait-bait puisi Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono di hadapan forum sastra tanpa setitik pun keraguan merayap di tenggorokanku. Namun, seluruh ketangkasan aksara itu lenyap tanpa sisa, rontok bagaikan daun kering yang diterpa angin basah musim penghujan, setiap kali gadis itu melintas di hadapanku.

Gadis itu bernama Alula Kirana. Namun dalam percakapan sunyiku dengan langit-langit kamar indekos, aku kerap memanggilnya sebagai perwujudan keteduhan yang nyata. Alula bukan tipe perempuan yang memerlukan lapisan bedak tebal, pulasan perona pipi buatan, atau gincu merah menyala untuk mencuri perhatian dunia. Kecantikannya adalah jenis kecantikan yang organik, alami, dan tulus—seperti aroma embun pagi pertama yang menempel pada daun pakis di lereng perbukitan sebelum matahari menyengat. Rambut hitam pekatnya dibiarkan jatuh bergelombang selembut sutra di bahunya, bergerak pelan mengikuti ayunan langkah kakinya yang tenang di koridor kampus tua kami.

Namun yang paling menyita seluruh kesadaranku, yang paling membuat debar jantungku mengacak ritme normalnya hingga darah mendesir ke seluruh tubuh, adalah sebuah tanda kecil yang dianugerahkan semesta di wajahnya: sebuah tahi lalat manis berukuran mungil yang bertengger abadi di sudut kiri bawah bibirnya.

Tahi lalat itu bukan sekadar bintik pigmen biasa. Bagiku, titik hitam lembut itu adalah tanda baca paling purba dalam tata bahasa asmara. Setiap kali Alula tersenyum tipis—senyuman yang hemat namun selalu sanggup meluruhkan keletihan siapa saja yang memandangnya—titik manis itu terangkat sedikit, seolah menandai awal dari sebuah bait puisi yang belum sempat diselesaikan oleh para pujangga dunia. Ketika ia terdiam seraya merenungkan kalimat dalam diktat kuliahnya, bibirnya sedikit mengatup rapat, dan tahi lalat...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi