Lokasi: Sungai Lubai, Desa Baru Lubai, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Waktu: Sekitar tahun 1970. Tokoh: Ayahanda, Kakak Rizmil, Aku (Amar, 10 tahun).
---***---
Tahun 1970, di tengah musim kemarau yang membuat air Sungai Lubai surut tenang, Ayahanda, Kakak Rizmil, dan aku (Amar, 10 tahun) menjala ikan untuk malam terakhir sebelum ayah merantau. Di tengah keseruan mengumpulkan ikan seluang yang melimpah, suasana mendadak senyap ketika tawa seorang perempuan bergeming dingin dari seberang sungai, mengolok-olok kehadiran kami.
Mengikuti isyarat aturan tak tertulis, ayah dan Kakak Rizmil memutuskan menyisihkan sebagian tangkapan ikan di tepian sungai sebagai 'persembahan', yang membuat tawa misterius itu perlahan mereda hingga kami bisa pulang membawa ember penuh.
Namun, misteri sesungguhnya baru terungkap bertahun-tahun kemudian ketika Amar menemukan sebuah catatan kecil di dalam kotak kayu tua milik ayahnya: tawa malam itu bukanlah makhluk gaib, melainkan isengnya para pemuda desa seberang yang bersembunyi di balik semak nipah demi menjahili ayah yang dikenal pemberani.
---***---
Demikianlah kisah nyata pertemuan penuh misteri di tepi Sungai Lubai.
Terima kasih sebesar-besarnya karena telah membaca kisah dari Desa Jiwa Baru ini hingga tuntas. Kami sangat menghargai waktu dan perhatian Anda. Nantikan dan ikuti terus cerita-cerita misteri serta legenda lokal lainnya yang siap membuat bulu kuduk Anda berdiri. Sampai jumpa di kisah selanjutnya!