Pagi itu, udara kota berembus dingin menyapu jendela kaca sebuah SUV hitam mewah yang terparkir anggun di halaman kafe bergaya industrial di pusat kota. Embun tipis menempel di permukaan kaca, membentuk pola abstrak yang perlahan meleleh seiring dengan naiknya sang surya dari ufuk timur. Di dalam kabin yang ber-AC lembut, beraroma kopi panggang dan lavender, duduklah seorang wanita dengan aura elegan yang terpancar alami.
Gita Pesona, wanita berusia tiga puluh dua tahun yang namanya kerap menghiasi majalah bisnis sebagai pemilik jaringan restoran dan kafe tersukses di negeri ini, tengah menatap kosong ke arah luar jendela. Di mata publik, hidupnya adalah definisi dari sebuah kesempurnaan mutlak. Ia memiliki kekayaan yang cukup untuk membeli apa saja, bisnis yang berkembang pesat tanpa hambatan berarti, serta paras rupawan yang selalu dirawat dengan sempurna. Tidak hanya itu, ia juga memiliki seorang kekasih bernama Arman—pria mapan dari kalangan elit korpora...