Disukai
0
Dilihat
29
TOXIC
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk berjalan menuju kantor. Aku tetap masuk kerja, meski sudah dua hari kesehatanku belum juga membaik. Badanku rasanya sakit semua, linu, seperti akan remuk, tapi ya sudahlah namanya juga orang dewasa.

"Eh Luna, udah sehat?" Mala, teman sekantorku itu bertanya dengan ramah, namun wajahnya mendadak panik saat melihat wajahku. "Kamu pucet banget, Lun."

Mala langsung berdiri dan menyentuh keningku. "Masih anget ih, kamu udah sarapan? Pasti belum kan? Aku beliin kamu bubur ya, mumpung belum briefing."

"Ga usah, aku udah sarapan ko," kataku berbohong.

Mala memang perhatian banget. Kami memang sudah lama berteman dan dia memang tahu kebiasaanku yang jarang sarapan pagi.

"Ah kebiasaan nih boong mulu, tapi obatnya dibawa?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk, lalu duduk menghadap komputer yang masih padam sampai aku bisa melihat sendiri pantulan wajahku yang sangat tidak enak dipandang. "Minta lipstik dong, La."

Tanpa tahu diri aku meminta, maksudku meminta satu oles saja. Kami memang sudah biasa sering bertukar lipstik, dan kali ini aku memang tidak membawanya.

"Nih." Mala langsung menyodorkan lipstiknya padaku, lipstik berwarna pink.

"Maaf ya aku minta mulu."

"Gapapa, Lun. Jadi sebenarnya kamu sakit apa?"

"..."

Aku terdiam, hanya senyuman yang bisa aku berikan saat ini. Aku tidak mau memberi tahu, aku sakit apa? Karena aku memang tidak pergi ke dokter. Dan aku tahu seperti apa Mala ini. Kalau aku bilang sakit perut, dia pasti akan bertanya macam-macam, lalu kepo setengah mati.

"Biasa, sakit haid, perut aku keram, tapi udah mendingan ko."

Tidak ada lagi perbincangannya di antara kami setelah aku menyalakan komputer dan briefing bersama. Aku juga mengoles lipstik pink sedikit, namanya juga minta, harus tahu diri, jadi jangan minta banyak-banyak.

Hingga jam setengah sepuluh pagi, perutku mulai tidak enak lagi. Segera aku beranjak ke toilet, mulas sekali, rasanya seperti ingin buang air besar tapi bukan, lebih mirip sakit haid, tapi aku sedang tidak haid.

Aku terduduk di kloset, lalu mengusap dahiku yang mulai berkeringat, sampai aku merasakan sesuatu keluar dari lubang vaginaku, diikuti dengan cairan yang keluar sedikit.

Aku melebarkan sedikit pahaku untuk mengintip. "Anjir itu apaan?!" kataku mulai menyeru, tidak mengontrol suaraku dan langsung menutup mulut karena terkejut melihat saluran itu.

Sebuah gumpalan merah kehitaman tak berbentuk, mirip seperti ati sapi kini tengah tenggelam di dasar kloset.

"Aku kan ga mengejan, tapi ko keluar? Njir, kenapa ga di rumah aja sih kayak gininya? Sial!"

Aku menekan tombol flush, sampai darah dan gumpalan itu tidak terlihat lagi. Dan tentunya aku juga membersihkan daerah kewanitaanku sampai bersih.

Cukup lama aku di dalam sana, hingga celana dalamku basah dan aku tidak punya gantinya. Terpaksa aku memakai kembali celana dalamku, karena pendarahan ringan ini tidak langsung surut, dan aku tidak mau sampai ada orang yang tahu hal ini atau darahnya sampai menetes ke lantai.

Dan aku memutuskan untuk izin lagi hari ini, tentunya menggunakan sisa hak cutiku, sebab kepalaku semakin terasa pengar, tak karuan.

Setibanya di rumah. Aku langsung istirahat tanpa mengobrol dengan ibu atau adikku. Dan tadi itu adalah kejadian kedua kalinya, aku pernah mengalami itu sebelumnya tapi secara disengaja, karena perintah Tio, pacarku.

Sebelum tidur, aku memutuskan untuk menghubungi Tio yang masih bekerja di perusahaan lain.

"Ada apa?" tanya Tio lewat panggilan. Tidak menanyakan kabar atau pertanyaan perhatian. Tapi tak apalah.

"Sayang, aku pendarahan lagi. Yang keluar gumpalan merah banyak banget, aku takut," keluhku.

Sebelumnya aku memang sudah mengabari Tio, atas kehamilanku itu, barangkali Tio mau tanggung jawab dan menikahiku.

"Baguslah," balasnya singkat, padahal aku berharap ditanya soal keadaan.

"Ko bagus? Aku pusing banget. Kamu kapan ke sini? Aku kangen."

"Ya Bagus dong biar ga hamil."

"..."

Aku terdiam, demi Tuhan balasannya benar-benar membuat hatiku sakit, sangat-sangat sakit, dia bahkan tidak berniat datang ke sini.

"Udah dulu ya, aku sibuk. Kita ketemu besok malem aja ya di PIK jam tujuh-eh jam delapan deh. Sambil ngebaso."

TUT

Panggilan itu berakhir tanpa kata-kata perpisahan yang aku harapkan. Kemudian aku tertidur dengan sangat lelap. Sampai sampai aku mengabaikan makan siangku.

Makanku pun tidak banyak, itulah kenapa tubuhku kurus, pantat dan dadaku juga tidak sebesar wanita lain. Tapi siapa lagi laki-laki yang mau nerima aku selain Tio? Jadi aku tetap harus bersyukur kan?

***

Keesokan harinya. Aku dan Tio benar-benar ketemuan di PIK, dan sesuai yang direncanakan, kami jajan bakso di sana. Dan syukurnya aku sudah tidak pendarahan lagi.

Setelah itu kami memutuskan untuk berjalan menyusuri jalan PIK, melintasi gerobak-gerobak dan penjual baju di pinggir jalan, sampai akhirnya kami berhenti di ujung sebuah jalan yang gelap, lebih tepatnya di taman yang lampunya tidak menyala sama sekali.

"Sayang, kita udah lima tahun loh begini-begini terus," kataku sedikit menunda arah pembicaraan, sengaja memancing Tio supaya paham apa yang aku inginkan.

"Iya, terus?"

"Aku juga udah 28 tahun, dan kamu udah 31. Bukannya kita udah cocok jadi orang tua? Kamu kapan dateng ke rumah, ketemu papa aku?"

Jujur saja. Aku sangat-sangat ingin dilamar, lalu menikah, punya anak dan menjalani kehidupan sewajarnya, seperti orang lain. Tapi selama lima tahun ini Tio tidak pernah menemui papa, sekalipun tidak, dan Tio tidak pernah bertamu ke rumah.

Jadi, bagaimana caranya supaya Tio mau serius? pikirku. "Sayang, ko diem aja? Kamu bakal nikahin aku kan?" tanyaku sambil mengguncang tangannya yang dingin.

"Jangan ngomongin itu, Luna. Aku lagi ga mood."

"Kamu bahkan ga nanya, gimana keadaan aku setelah keguguran!" Aku sedikit menyeru, kesal karena Tio berlagak seolah tidak mau mendengarkan. "Kamu sebenarnya serius ga sih sama aku?"

"Denger ya Lun. Aku itu udah lama nyari cewek yang kayak kamu, tapi ga ada!" timpalnya sedikit membentak.

"Maksudnya?"

"Tau ah. Bego!"

"..."

"Maksudnya kamu mau selingkuh? Terus nyari cewek lain?"

"Aku cuma pengen punya cewek yang enak dilihat," katanya sungguh sangat-sangat mengiris hatiku.

Aku berharap semua ucapan itu keluar karena pengaruh alkohol. Tapi tidak. Tidak ada aroma alkohol di napasnya. Aku tahu, karena beberapa menit yang lalu kami sempat berciuman.

Aku berdiri dengan tubuh yang gemetar. "Kita putus aja lah, kamu udah keterlaluan, padahal aku kurang apa, Tio? Aku selalu kasih jatah setiap kamu minta tidur bareng."

"Oh ya udah, pergi aja. Tapi kamu jangan lupa, celana dalam kamu masih ada di aku."

Aku terpaku ketika Tio mulai mengungkit celana dalam. Dia pernah bilang, celana dalam itu bisa Dia pakai untuk mengguna-guna pemiliknya.

***

Aku tidak tau lagi harus melakukan apa. Rasanya kepalaku akan meledak ketika mengingat semua tentang Tio. Pagi-pagi sekali, jam enam. Tio sudah meneleponku dengan mode video call. Tidak ada salam hangat atau hal manis yang dia katakan.

"Luna, kamu abis tidur sama siapa? Ko pake kaus kutang doang itu?!" Tio bersungut-sungut dari dalam panggilan. Ya. Semalam kami tidak jadi putus.

"Apa sih, aku tidur sendirian ko ini di kamar. Jangan suka fitnah ya," balasku tak terima. Beginilah aku selalu terlihat berani saat di telepon.

"Terus kamu abis video call sama siapa semalem pake kaus kutang doang begitu? Dikirannya bagus apa?"

"Aku cuma gerah aja semalem, terus ketiduran. Kamu kayak ga tau aja Jakarta sepanas apa."

"Halah boong, coba liat kamu pake celana apa engga?"

Dengan penuh rasa malas aku menunjukkan area perut dan kakiku yang masih mengenakan celana. "Tuh ga ada kan, makanya jangan fitnah."

Aku heran. Tio kadang terlihat cinta dan cemburu kalau aku dekat-dekat dengan laki-laki lain, padahal itu hanya teman. Tapi di saat kami bertemu, dia selalu cuek. Jadi sebenarnya dia cinta atau tidak? Atau dia hanya ingin mengontrolku saja?

"Ya udah ... kamu kerja hari ini?"

"Enggak, aku masih cuti, perutku sakit lagi, berdarah lagi," balasku berbohong, tapi aku memang masih mengambil cuti. "Kamu udah berangkat?"

"Belum, ini lagi sarapan. Ya udah cepet sembuh, ya."

TUT

Aku tersenyum ketika Tio kembali memberikan perhatiannya padaku. Bukankah itu tanda cinta?

***

Seharian di rumah, hanya makan tidur dan menonton TV saja, tidak terasa jenuh bagiku. Hingga jam empat sore pintu rumahku diketuk dan dibuka oleh ibu.

"Lun, ada temen kamu tuh," kata ibu.

"Hah, siapa?" tanyaku terkesiap, berharap yang datang adalah Tio.

"Mala, Lun. Kalo kamu masih sakit, biar Ibu suruh Mala aja yang ke sini ya."

"Oh ..." Aku mengangguk.

Ibu pun keluar dan tidak lama, aku melihat Mala masuk ke dalam kamarku. Kami segera berpelukkan seperti biasa. "Gimana kabarnya?" tanya Mala sambil terduduk di tepi kasur.

Aku beranjak dan langsung mengunci pintu rapat-rapat.

"Nih, aku bawa molen sama ayam lazato, buat kamu." Mala menyodorkan makanannya padaku.

"Wah, makasih banget. Tau aja aku lagi mager." Aku langsung membuka bungkus makanan itu. Aromanya langsung memancing perutku untuk segera menyantapnya. Aku mengambil satu molen dan menggigitnya. "Gimana keadaan kantor?"

"Ah gitu deh. Gimana? Perutnya masih sakit?" tanya Mala.

"Udah enggak. Paling besok masuk kerja."

"Terus Tio?" Kami bertatapan sejenak. "Dia jenguk ga?"

"Enggak. Ah, udah biasa dia mah. Semalem aku minta putus, tapi dia nolak."

"Kenapa ga mau? Kamu udah ga cinta sama dia?"

"Aku cinta ko, cuma lagi cape aja," kataku.

"Kalo cape ya break aja, bukan putus," celetuk Mala.

"Hahah, iya sih. Dia tuh Toksik."

Mala mendelik. "Maksudnya?"

Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang untuk bercerita atau tidak, karena aku tidak pernah menceritakan bagaimana hubunganku dengan Tio pada siapa pun. "Aku mau cerita, tapi kamu jangan bilang sama siapa pun ya?"

Mala terlihat mengangguk dan beringsut ke depan, semakin mendekatiku. "Pelan-pelan aja ngomongnya, biar ga ada yang denger."

Dengan santai aku menceritakan semua-bagaimana hubunganku dengan Tio selama lima tahun ini. Tidak ada yang aku tutup-tutupi, bahkan aku menceritakan juga kehamilanku dan tindakan berdosaku.

"Njir ... jadi kemarin itu kamu hamil dan keguguran?" Mala berucap pelan sambil membulatkan matanya.

"Iya, La."

"Putusin! Aku gamau tau, putusin dia sekarang juga, Lun!"

Aku tersenyum getir. "Ga bisa gitu aja, Mala."

"Kenapa? Itu bukan cinta, itu namanya orang toksik. Udah putusin aja, ga akan rugi juga kamu ninggalin sampah kayak tuh cowok. Najis banget!"

"Iya, tapi aku ga bisa," kataku bebal.

"Kenapa? Cowok banyak, Lun. Kamu percaya takdir, kan? Ya udah, percaya aja. Kalau memang bukan dia, pasti ada jalan lain."

Aku mendesah tak tenang. "Aku juga ngerti itu, La. Tapi aku ga secantik cewek lain, sedangkan aku udah setua ini."

"Lun, mau cewek cantik atau engga, semuanya harus dihargai."

"Aku udah ngerasa kayak sampah, emangnya ada yang mau sama cewek ga perawan kayak aku? Pernah hamil pula."

"Hus! Jangan ngomong begitu lagi. Sekarang jalan satu-satunya kamu harus putus sama Tio."

Aku yang tidak lelah ini kembali menggeleng, "Ga bisa."

"Kenapa sih? Njir, jadi aku yang emosi. Kalo anak aku yang digituin, aku ga akan terima sih."

"Karena aku udah kasih celana dalam aku ke dia," celetukku.

"Hah! Celana dalam? Buat apa emangnya?"

"Kamu ga pernah denger ya. Katanya celana dalam itu bisa jadi media buat mengguna-guna si pemiliknya."

"Oh, sejenis santet?"

"Iya. Dan aku takut diapa-apain sama dia," kataku berbicara seolah tak ada tenaga.

"Kamu tinggal bilang ke orang tua, kalau kamu diancam."

"Ah, aku udah muak sama semuanya. Ibu aku orang Lampung, dia juga suka nanya-nanya ke orang pintar gitu. Dia pernah nanyain soal hubungan aku sama Tio ke orang pintar."

"Terus?"

"Ibu bilang, aku suruh putus sama Tio. Katanya pas diterawang Tio itu cowok ga bener."

"Tuh kan. Nanti kalo terjadi apa-apa tinggal bilang aja. Kasus pengancaman pembunuhan bisa dilaporin ko ke polisi."

"Dan Ibu bilang, katanya ga setuju aku kalo sama Tio."

"Ya udah, ikutin apa kata Ibu. Dia aja ga pernah ke rumah kan, minimal nongol dikit kek ke rumah, lah ini bayangan aja ga pernah keliatan. Kirain dia ga separah itu."

"..."

Aku benar-benar merasa terhibur karena kedatangan Mala. Meski akhirnya Mala tahu urusan asmaraku dengan Tio seperti apa. Dan tidak ada kesimpulan pula yang diambil.

Hubunganku masih tetap jalan dengan Tio sampai aku benar-benar sembuh dan perutku sudah tidak sakit lagi.

Hingga dua minggu berlalu, kami jalan-jalan keliling Jakarta, dan berakhir menginap di salah satu hotel. Katanya Tio kangen. Kami mengobrol seperti biasa, makan dan membersihkan diri. Namun setelahnya bukan tidur yang kami lakukan.

Tio memintaku melepas semua kain yang melekat di badanku. Aku menurut saja, karena aku juga menginginkannya. Begitu pula Tio. Tanpa disuruh, aku tahu apa yang Tio sukai.

Malam itu kami kembali melakukan hal yang selama ini selalu membuatku merasa masih dicintainya. Setidaknya, begitulah yang ingin kupercaya.

Aku tahu hubungan ini tidak sehat. Tapi aku mencintai Tio. Dan sudah kuputuskan. Orang tuaku tidak berhak mengatur, aku akan menikah dengan siapa nantinya, meski Tio sama sekali belum menunjukkan keseriusan.

Dan aku percaya pada Tuhan. Aku lebih memilih mengikuti arus saja, meski hanyutnya sudah terlalu jauh, setidaknya aku tetap aman dan Tio tidak berbuat yang tidak-tidak.

-Selesai-

Aku harap di luaran sana tidak ada Luna-Luna yang lain. Dan kalaupun ada, semoga segara dibebaskan dari hubungan tidak sehat itu dan semoga mendapat pasangan yang baik-baik saja.

Jadi, menurut kamu gimana cerita ini?Awalnya sih pengen dijadikan novel saja. Tapi one shoot lebih bagus.

Kalau kamu ada di posisi Luna, apa yang akan kamu lakukan?

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)