PERJODOHAN

Nesya bergegas memasuki mobilnya. Telepon genggamnya tidak berhenti bergetar. Nesya tak bisa mengangkatnya karena tangannya penuh dengan barang tentengan. Setelah bersusah payah membuka pintu mobil, Nesya menghamburkan semua barang ke jok belakang dan langsung merogoh tasnya mengambil telepon genggam. Lima missed call. Nesya segera menelepon kembali sang penelepon. Bukan dari perawat rumah sakit yang biasa melaporkan keluhan pasien di bangsal atau sekedar menanyakan siapa dokter jaga yang bertugas menggantikan shift-nya, penelepon ini jauh lebih penting: mami.

“Kamu kok susah sekali ditelepon?” suara mami terdengar kesal.

“Echa baru bisa mengangkat telepon, Mami. Mami kan tahu kalau habis jaga malam itu ribet, Echa banyak bawaan, mana kemarin ada presentasi. Echa bawa laptop, tas jaga, bekal dari Mami, tadi sekalian ambil hasil rontgen-nya Papi, terus teman yang jaga selanjutnya datang terlambat, katanya supir jemputan sekolah anaknya nggak masuk jadi dia mengantar anaknya dulu, ini Echa baru keluar dari rumah sakit, Mami” Nesya menjelaskan panjang lebar.

“Lho kamu belum berangkat? Bagaimana sih, harusnya kamu sudah sampai!” suara mami terdengar panik, lalu terdengarlah rentetan omelan yang tidak terlalu dihiraukan Nesya karena dia harus konsentrasi menyetir.

“Cha.. kamu dengerin mami nggak sih? Pokoknya kamu jangan bikin malu mami ya. Percaya sama mami, kali ini kamu pasti suka, ingat, baju biru ya”. Tutup mami.

.

Nesya Kirana Rahadian, seorang dokter umum di sebuah rumah sakit swasta, si tomboy yang hari ini terpaksa berdandan walaupun rambutnya yang hanya dikuncir lepek karena jaga semalam cukup sibuk, menyetir mobilnya ke sebuah kafe yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya demi memenuhi permintaan maminya tercinta akibat permasalahan yang mungkin seharusnya tidak menjadi masalah kecuali yang bersangkutan mempermasalahkannya: perempuan usia 30 tahun, belum menikah.

Nesya bukannya tidak mau menikah, walaupun saat ini dia tidak punya pacar setelah putus cinta yang cukup menyakitkan tiga tahun yang lalu. Dia yakin jodoh akan datang pada waktunya, dan tidak mau dijodohkan. Berkali-kali Nesya berkelit dari perjodohan yang dibuat maminya dengan alasan kesibukan jaga malam, tetapi kali ini mami sangat bersikeras untuk mempertemukan Nesya dengan anak laki-laki teman lamanya, sampai mengancam Nesya tidak usah pulang saat lebaran.

.

Sesampainya di kafe, Nesya melihat sekeliling. Pandangan matanya tertuju pada sesosok pemuda berkemeja biru yang duduk sendirian di dekat jendela.

Nesya menarik nafas panjang sembari merapikan bajunya lalu menghampiri pemuda itu.

“Kamu Rama ya? Maaf aku terlambat.”

Pemuda itu menoleh, Nesya pun terkejut.

“Dika? Kamu Dika yang dulu di SMP Bina Bangsa kan? namamu kok jadi Rama?”

“Iya, nama gue eh aku kan Andika Ramaputera, Mami nggak bilang?”, Rama mengajak Nesya bersalaman dengan senyum usil tersungging di bibirnya.

Ingatan Nesya langsung terbang kembali ke masa SMP-nya. Dia pernah naksir dengan Dika yang ternyata di rumah dipanggil Rama. Cinta monyet masa remaja yang tidak berlanjut karena mereka hanya sekelas di kelas 11, lalu pemuda itu pindah sekolah.

Nesya ingat dia pernah menceritakan soal Dika pada mami, sama sekali tak menyangka mami berhasil menjebaknya namun untuk pertama kalinya Nesya tidak kesal.

Nesya berdebar, sesuatu yang lama tak dirasakannya, wajahnya memerah tersipu sambil membalas uluran tangan Rama. Sepertinya kali ini perjodohan mami berhasil.

5 disukai 2 komentar 829 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
hihi terima kasih kak ❤
Hohoho, so sweet...
Saran Flash Fiction