Disukai
0
Dilihat
4
NADA YANG TAK SENGAJA MENETAP
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BAB I: RIUH MALAM DI KOTA TAPIS

Langkah tanpa tujuan, aroma robusta, dan gema dawai dari kejauhan

°˖✧✿✧˖°

Malam itu, Kota Bandar Lampung terasa lebih ramai dari biasanya.

Lampu-lampu jalan berpendar di antara kendaraan yang berlalu-lalang, membiaskan rona keemasan di atas aspal jalanan Enggal yang masih hangat oleh sisa sengatan matahari siang. Dari kejauhan, di sela deru knalpot dan riak angin pesisir yang merayap naik dari arah Teluk Betung, terdengar suara musik gambus yang mengalun lembut. Petikan dawainya berayun perlahan, bertaut dengan denting perkusi yang teratur, berpadu dengan riuh suara orang-orang yang berduyun-duyun datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan rakyat di pelataran budaya terbuka.

Awalnya, aku datang hanya untuk menikmati suasana.

Tidak ada niat khusus. Tidak ada janji temu dengan kawan lama, tidak ada seseorang yang ingin kutemui di tengah kerumunan yang kian padat itu. Seharian penuh mataku telah lelah menatap tumpukan arsip cetak biru kolonial dan bidikan lensa kamera tua di studiolu di kawasan Pahoman. Pikiranku penat oleh garis-garis simetris bangunan kuno dan aroma kertas lapuk yang menyengat. Aku hanya ingin menghirup udara malam yang bebas, menenggak secangkir kopi hitam panas di pinggir jalan, mendengarkan musik, dan membiarkan diriku lebur menjadi penonton bisu dalam pertunjukan yang sedang digelar di jantung kota ini.

Di sekeliling lapangan, deretan tenda kain dan gerobak pedagang kaki lima menebarkan aroma yang akrab di rongga hidung: asap arang membakar sate cumi bakar khas pesisir, legit pisang beku lapis cokelat beku, dan uap pekat seduhan kopi robusta Lampung yang mendidih dalam ketel seng. Anak-anak berlarian mengejar balon lampu yang menyala warna-warni, sementara para orang tua duduk beralaskan terpal tipis sambil berbincang pelan dalam dialek Melayu dan Jawa yang berbaur akrab. Kota ini selalu memiliki cara unik merangkul siapa saja yang singgah di sudut-sudutnya.

Namun, malam itu ternyata menyimpan sesuatu yang tidak pernah kurencanakan.

Langkah kakiku yang mulanya sekadar menyusuri pinggiran trotoar terhenti ketika langkah para penonton tiba-tiba merapat ke arah panggung kayu sederhana yang didirikan di bawah rindang pohon trembesi tua. Panggung itu tidak megah; hanya diterangi beberapa lampu sorot halogen kuning hangat dan lampu gantung minyak hias yang sengaja dipasang untuk menciptakan nuansa tempo dulu. Di sisi kanan panggung, sekelompok pemusik paruh baya duduk memangku alat musik tradisi: dua buah gendang marwas kecil, sebuah darbuka keramik, dan sebuah gambus oud berkepala kayu jati tua dengan ukiran sulur khas Lampung yang mengilap disapu cahaya.

Ketika seorang penyanyi perempuan naik ke atas panggung, suasana seakan berubah.

Gumam kerumunan yang sedari tadi riuh perlahan mereda, seolah ada isyarat tak terucap yang meminta setiap orang menahan napas sejenak. Aku yang berdiri terselip di baris kelima di antara bapak-bapak bersarung dan pemuda berjaket jins seketika menegakkan pandangan. Pandanganku terkunci pada sosok yang baru saja melangkah keluar dari balik tirai kain merah marun...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi