Dunia Alternatif Satu: Keemasan Hindu dan Buddha.
Aku, Si Widoh memandangi suamiku, Si Sojara, yang dengan hisapan gudang garamnya, kembali bercerita begitu kuatnya kerajaan Indonesia, yang kini dipimpin oleh Ratu Gayatri Sanjaya.
Suamiku berkata, Indonesia adalah negara yang tidak terpengaruh masifnya kedatangan pedagang muslim. Yang mengislamkan banyak orang di berbagai negara yang mereka singgahi.
Juga tidak terpengaruh kolonialisme barat dengan keyakinan Katholik serta Kristennya. Indonesia dibawah kakek dari kakeknya lagi Gayatri, Airlangga Purnawirawan, bahkan dapat memukul mundur pasukan Portugis. Sehingga Belanda melalui VOC-nya sama sekali tak berani mendekat.
Pun dengan bangga ia bercerita, Indonesia dapat memukul mundur pasukan jepang, yang datang di medio perang dunia kedua. Nenek Ratu Gayatri, yaitu Sri Sanjaya membuat ciut nyali pasukan Jepang. Bahkan isunya, jenderal paling ditakuti di Asia, Jenderal Hiroshi, sampai kencing di celana.
Aku pun tertawa setelah mendengar fakta tersebut. Lalu suamiku menyinggung Thailand, yang kehinduan serta unsur buddhanya semakin terkikis, oleh budaya asia lain juga budaya barat.
Aku kemudian berkata pada suamiku itu, kita harus bersyukur pada Sang Buddha untuk aku, dan Sang Hyang Widi untuk dirinya. Bahwa bangsa kita berhasil mempertahankan identitas selama lebih dari seribu tahun. Meski aku juga menegaskan kerangka negara kita pun berasal dari budaya asing.
Ia mengiyakan, saat itu aku melihat Si Sojara begitu macho, sehingga akulah yang mulai mencumbuinya. Kami pun bercumbu. Aku merasa malam itu begitu syahdu, intim.
Sambil terus mencumbuiku, suamiku itu berkata, batas daya untuk mengisi mesin antar dimensi, untuk kembali mencapai dimensi kami segera penuh.
Aku pun mengangguk penuh senyum bahagia.
***
Dunia Alternatif Dua: Kejayaan Kolonialisme Kerajaan Belanda.
Kala itu suasana kafe begitu sepi. Hanya ada Saiman, serta dua sahabatnya Wongso, dan Karta.
Merela bertiga sedang membicarakan pemimpin dari pusat, yaitu Raja Jan Cornelis yang akan berkunjung.
Wongso begitu membanggakan dirinya yang agak mirip raja Belanda tersebut. Saiman mengiyakan, tetapi meledek. Mereka mungkin saudara yang dipisahkan sejak lahir, dengan ibu yang berbeda. Satunya murni Belanda, yang satu dari kalangan babu. Karta pun terkekeh mendengarnya.
Lalu Saiman berkata yang agak sensitif, tidakkah rakyat Indonesia bosan dengan diri mereka yang masih hidup dengan sistem kolonialisme. Sedangkan negara lain sudah banyak yang merdeka dengan sistem mereka sendiri.
Karta dengan nada santai berbisik, jangan terlalu keras. Mereka bisa dipenjara. Jika begitu daya waktu mesin antar dimensi mereka keburu habis. Ia tak mau menunggu lama sampai daya terisi kembali.
Wongso pun mengiyakan. Dirinya juga tak mau terlambat ke ulang tahun mertuanya yang asli Belanda. Ia yang pribumi bisa jadi bahan mainan keluarga yang lain jika terlambat. Wongso tak tega jika Isah, sang putri, melihat ayahnya dipermalukan.
Mereka bertiga pun membicarakan soal piala dunia. Dengan semangatnya Karta bercerita, di dimensi tersebut, akan ada lima orang dari Indonesia yang akan dipanggil ke timnas pusat di Belanda sana, atas nama tim nasional.
Meski mereka sudah tahu siapa juaranya, karena mereka dari masa depan serta dimensi yang berbeda, mereka tetap bersemangat.
Pembicaraan mereka pun sampai pada Ujang Cecep yang ditarik keluar, karena oleh pelatih Hendrik dianggap sudah tidak klop dengan strateginya, juga dianggap sudah terlalu lelah. Akibatnya mereka kembali tersingkir di semifinal, sama seperti empat tahun sebelumnya.
Mereka yang sudah tahu hasil akhirnya sedikit mengapresiasi. Karena piala dunia di zaman dimensi yang mereka datangi paling tidak dapat merebut posisi ketiga, ketimbang edisi sebelumnya.
Tapi Saiman berujar, prestasi di tahun 1974 dan 1988 dimana menjadi juara tak ada bandingannya dengan prestasi di tahun tersebut.
Wongso pun membalas, itu ada benarnya, sebab di dimensi tersebut sudah dua kali Belanda jadi runner up, di tahun 1998 dan 2010. Jadi mendapat peringkat ketiga di tahun tersebut, bukan sesuatu yang pantas untuk dibanggakan rakyat.
Karta kemudian bermimpi, kapan bangsa Jawa dan sekitaran Nusantara lainnya bisa mengangkat piala dunia secara mandiri, di dimensi tersebut juga di dimensi mereka. Karena di dimensi mereka, Timnas Belanda bahkan paling mentok di babak 8 besar.
Saiman dengan nada bercanda pun berceloteh. Mungkin ada dimensi yang lebih buruk dari dimensi mereka. Dimensi asing yang berada di sudut ruang waktu. Dimensi dimana Nusantara, baik mandiri atau masih menjadi bagian timnas pusat, hanya satu kali lolos ke piala dunia. Itu pun hadiah.
Karta dan Wongso terkekeh mendengarnya.
***
Dunia Alternatif Tiga: Indonesia Sebagai Komunis Super Power.
Naryo memperhatikan ke dalam. Seorang mahasiswa, Bejo. Yang ia kenal sering mengotori lantai yang baru dibersihkannya sedang gugup.
Sesi tanya jawab dari pemuda Pemalang itu tidak berjalan lancar. Ada saja sanggahan dari dosen penguji.
Naryo melihat, nampaknya Bejo kesulitan menjawab, karena saat membuat skripsi, ia terlalu prokrastinasi. Ia ingat Bejo pernah curhat padanya bahwa temanya tentang celah yang digunakan koruptor untuk lolos dari hukuman mati dalam sistem perundang komunis, progresnya tidak berkembang. Sehingga ia kadang menunda.
Bejo pun pernah lagi curhat padanya, ayahnya yang sedang diperiksa soal dugaan korupsi jalan layang, juga membuat isi skripsinya sedikit ia rem. Bejo tak mau skripsinya dianggap sebagai pembelaan pada sang ayah.
Meski Naryo yang aslinya datang dari lain dimensi itu, melihat bahwa antara bab awal sangat sinkron dengan bab selanjutnya, Bejo masih berpikir bahwa kerja kerasnya dibayangi pembelaan pada sang ayah.
Naryo masih mendengarkan, sambil merokok kretek. Ia duduk santai. Ia mendengarkan dengan seksama. Memperhatikan bedanya antara skripsi di negara komunis yang saat ini ia singgahi, dengan skripsi di negara yang menyanjung demokrasi seperti di dimensinya.
Satu hal yang ia sesali dari dimensinya ialah, negara di dimensinya layaknya negeri dagelan. Bukan super power seperti dimensi yang kini ia kunjungi.
Naryo melihat tidak ada perbedaan besar. Hanya saja di dimensi komunis yang ia jejaki saat ini, ia melihat ada ketegasan otoriter. Membuat dirinya paham, mengapa bukan hanya Bejo yang ketakutan saat sedang sidang skripsi, tetapi banyak mahasiswa dan mahasiswi lain.
Naryo berlalu dengan alat pel dan embernya. Pergi. Tidak lagi mendengarkan skripsi dari Bejo, yang masih berjalan. Naryo sangat hapal, Bejo akan disuruh mengulang, dengan medio nilai antara C atau C Minus.
***
Dunia Alternatif Empat: Dinasti Soeharto.
Eko diam mematung. Duduk di depan televisi usang miliknya. Di tahun yang sudah mencapai 2026, dan sedang dipimpin oleh Bento Soeharto. Cucu Soeharto yang namanya diambil dari sarkasme Iwan Fals bersama grupnya, Swami.
Eko buta serta tuli, akibat kecelakaan saat memperbaiki mesin dimensinya. Ia yang tak bisa lagi memperbaiki akibat keadaan fisiknya yang kekurangan, hanya duduk mematung agak jauh dari televisi.
Ia sadar duduk dengan jarak agak dekat, bisa berakibat tak baik baginya. Ia tahu sebab dalam dimensinya dirinya seorang ilmuwan.
Ia mau datang ke dimensi era Soeharto, sebab sedang meneliti kehidupan di dimensi tersebut. Ingin membuktikan apakah benar kehidupan era tersebut sangat otoriter, atau justru lebih merdeka ketimbang dunia demokratis yang ia tinggali. Sayangnya kecelakaan membuatnya sama sekali tak bisa pulang.
Ia yang buta dan tuli akhirnya dirawat oleh orang terkaya di kampung. Meski tinggal terpisah, Eko dipersilahkan menempati rumah satunya. Walau sama mewahnya, Eko merasa terasing.
Di berita kini tersaji ulang tahun putri Bento, yaitu Sasa Soeharto. Ulang tahunnya yang kedelapan belas. Tak heran seluruh media bahkan sejak beberapa hari sebelumnya meliput.
Sasa yang sangat cantik karena uang untuk perawatan kecantikannya tak terbatas, nampak anggun dengan rambut bondol, serta poni tipis.
Lalu muncul running text. Kecelakaan pesawat di Timika, Papua. Menelan tiga puluh lima korban. Sedang berita di televisi tetap fokus pada ulang tahun Sasa.
Sepersekian detik kembali muncul running text, kali ini tentang peringatan tragedi reformasi tahun 1998, yang oleh negara dianggap sebagai pemberontakan besar.
Dituliskan kembali di running text selanjutnya, beberapa tahanan politik ditengok oleh keluarga mereka. Sedang kini siaran utama televisi sedang menyiarkan tamu undangan, yang satu per satu hadir ke pesta ultah Sasa.
Eko hanya mematung di depan televisi. Yang ada di pikirannya hanyalah penyesalan. Mengapa ia yang dulu datang ke dimensi yang terbukti kotor tersebut, tak mengajak teman.
Terbukti, ia mengalami kecelakaan. Dan karena pergi sendiri, ia yang akhirnya jadi buta serta tuli, tak bisa memperbaiki mesin antar dimensi.
Penyesalan karena tak mengajak teman, menghantui pria yang sudah menghabiskan waktu selama tiga puluh dua tahun di dimensi yang menurutnya sama buruknya.
Bedanya di era Soeharto korupsinya lebih sistematis dan hanya dilakukan pembesar. Sedangkan di dimensi asal Eko, korupsi sudah menjalar sampai ke akar rumput.