Kedamaian di Dalam Air

Suara decitan berkarat terdengar nyaring, aku memijak dua ranting pagar berniat menanjak, melompat, menginjak tanah coklat tertutupi rumput dengan sepatu usang. Mata lebam kiriku kembali berdenyut, aku mengelap kasar darah yang keluar dari sudut bibir, mempercepat langkah, menghampiri kolam renang belakang hutan sekolah. Gosip kolam renang angker telah menjadi buah bibir dari angkatan satu ke angkatan yang lain, mengatakan bahwa tempat tersebut merupakan tempat keramat yang tidak boleh didatangi, aku cukup tahu hal itu, namun, tak pernah mempedulikan apa yang mereka bicarakan karena merasa semuanya hanyalah bualan.

Memangnya apa yang paling menyeramkan dibanding terlahir tuna wicara, dirundung dimintai uang, sampai dibuat babak-belur?

Napas berat terhembus, melepas kedua sepatu beserta kaus kaki, detik setelahnya dengan sengaja aku menceburkan diri ke kolam renang kotor bercampur dedaunan kering bersama tanah bebatuan, merendam-tenggelam, menyorot lurus langit biru terik tertutupi air. Mereka menyebutku, cacat, tidak seharusnya dilahirkan sebab memiliki kekurangan, akibat tidak dapat berbicara dengan benar, mereka menghampiriku, memberi tatapan intimidasi-menusuk menunjukkan ekspresi kriminalitas menakutkan beserta tinggi tubuh yang jauh diatasku, tak mempedulikan segala teriakan, ringisan, erangan maupun suara tercekat milikku yang tidak bisa berbicara, sampai mereka mendapatkan kepuasan-menjadi pemenang, pula... beberapa lembar uang.

Ketika berada di dalam air, sekujur tubuhku seolah terbalut dekapan tak kasat mata yang diberikan hukum tekanan, mengingatkanku oleh pelukan ibu sebelum kecelakaan mobil merenggut nyawanya, detak jantungku bertalu mengikuti ritme yang semakin lama, semakin lambat, dalam artian menjadi tenang, menyadari bahwa luka-lukaku tak begitu terasa sakit membuat perasaan melegakan hinggap begitu saja dalam benak, aku mengeluarkan gelembung oksigen dari mulut sejenak, untuk tetap bisa bertahan di kedalaman kolam berlumut. Rasanya, ibu benar-benar sedang memelukku, memejamkan mata sebentar, perlahan demi perlahan otakku mencoba melupakan kenangan yang tak ingin kuingat. Ibu... aku benar-benar merindukanmu.

Televisi menyala, menampilkan sesosok pembawa acara yang sedang menjelaskan berita terkini pagi hari pada awak media, di bagian bawahnya tertulis, "Lima Siswa Sekolah Dasar Menghabisi Teman Sekelas Tuna Wicara Hingga di Buang ke Kolam." Si saksi: penjaga kebun sekolah, menjelaskan bahwa ia menemukan korban dengan tubuh membusuk-mengambang penuh kubangan darah di dalam air.

649 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction