Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
12
Si Raja Ketik
Komedi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Firman masih memandang layar handphonenya. Sejak tadi ia berpikir, mana yang salah dari ketikannya.

‎Firman memang pemuda tanggung yang perfeksionis, tapi sayangnya bukan di hal penting, tapi lebih ke hal sepele seperti penempatan titik dan koma. Jangan salah paham, dia bukan penulis, profesinya adalah mekanik mesin. Tapi ia justru menjadi polisi grammar untuk... Bahkan komen sepele di medsos.

‎Selain titik koma, ia juga selalu memikirkan terlebih dahulu, ketikan yang akan dia guratkan di medsos. Bukan trauma pernah dapat masalah, masalahnya cuma satu. Mode polisi grammarnya selalu menjadikan dirinya sendiri Kriminil kambuhan yang patut dicurigai.

‎Ya, kriminal. Karena ia sudah berkali-kali mendapati dirinya sendiri salah ketik, bahkan di komentar yang sudah berbulan-bulan ia ketik. Entah bagaimana cara kerja akun medsos miliknya, sampai-sampai komentar lama dirinya bisa ia lihat lagi. Sesuatu yang mustahil, bahkan bagi Mark Zuckerberg sekalipun. Benar benar anomali.

‎Kali ini pun dia mengedit berulang-ulang komentarnya, di salah satu reels Facebook milik Bang Jenda. Salah satu komentar yang ia anggap respek, tapi setelah selesai dipost, merasa ada yang salah untuk tanda baca.

‎"Ini koma aja atau titik dan selanjutnya gue ketik huruf kapital?"

‎Karena sebentar lagi ia mengantar adiknya yang paling kecil ke sekolah, pikiran Firman pun tergesa-gesa. Akibatnya dirinya tidak bisa berpikir jernih. Apalagi sang adik sudah selesai mandi. Artinya waktu memperbaiki ketikannya makin menyempit.

‎Firman bukan ahli bahasa, juga bukan penulis, jadi masalah yang harusnya sudah selesai dari tadi, belum kunjung ia selesaikan. Padahal ada hal simple, misal bertanya pada AI, atau searching google. Tapi sial bagi Firman, ia yang biasa bertanya, tiba-tiba kelupaan tentang jurus ampuh tersebut.‎

‎Firman masih garuk-garuk kepala, padahal sang adik, Gracia, sudah hampir menyelesaikan sarapannya. Ya! Waktu berpikir sudah dipepet jam berangkat Gracia. Untungnya Gracia yang bocil centil itu, belum memakai lipstik favoritnya, dan itu bagaikan berkah yang turun dari surga. Karena bagi Gracia, "no lipstick no school."

‎Sambil berpicu waktu dengan Gracia yang mulai melukis bibirnya, Firman memejamkan mata. Menggunakan seluruh kemampuan otaknya agar ketikannya tidak salah. Jantungnya berdegup, ada rasa cemas sampai keringat dingin, saat sedang memproses kebenaran. Bahkan kaos bergambar partai Golkar yang ia kenakan kuningnya menghitam karena keringat.

‎Pada akhirnya sepuluh detik sebelum Gracia minta diantar dengan nada tinggi sok memerintah, yang amat ditakutinya, sebab Firman takut pada Gracia, disebabkan masalah kepergok saat sedang olahraga, Firman berhasil mengedit komentarnya.

‎Kalimat, "Lucu, Bang Jenda." pun ia ketikkan. Benar, tapi mengingat sifat Firman, cicak yang sejak tadi ada di dinding dan memperhatikan tingkah pria gempal tersebut, sangat yakin bahwa Firman akan kembali, untuk tugas sakralnya.

‎MEMPERBAIKI BERULANG KETIKAN TAK PENTING, YANG IA TULIS SENDIRI.

‎Sang cicak pun terpingkal-pingkal membayangkan tingkah Firman. Sampai akhirnya binatang kecil tersebut jatuh ke dalam kopi yang belum sempat Firman minum, dan baru akan dia nikmati, setelah mengantar Gracia.‎

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi