Entah sudah berapa musim matahari terbit dan tenggelam tanpa pernah benar-benar aku hitung.
Waktu di balik jeruji besi tidak bergerak maju; ia hanya berputar, mengunyah hari demi hari sampai hancur tak bersisa.
Setiap pagi tampak sama, berbau karat dan putus asa. Yang terdengar hanya suara para tahanan, manusia-manusia kotor dengan kisah berbeda namun bernasib serupa.
Serta tawa penjaga yang terlalu santai membicarakan hidup kami, seolah masa depan hanyalah kartu permainan yang sedang mereka kocok sebelum dibagikan ke meja pengadilan.
Aku tidak mengingat wajah-wajah mereka. Ingatanku menolak menyimpan kisah orang lain.
Pikiranku hanya menetap di satu tempat: rumah kecil kami, dan istriku yang terbaring di sana tanpa aku.
Aku tidak pernah bertanya bagaimana kabarku sendiri. Yang terus menggerogoti benakku hanyalah satu pertanyaan yang berdetak seperti luka menganga:
Apakah ia masih bernapas dengan tenang tanpaku di sisinya, atau justru semakin sekarat karena aku direnggut dari hidupnya?
Aku bukan penjahat, setidaknya tidak dalam definisi yang kupelajari sejak kecil.
Aku hanyalah seorang suami yang terlalu takut kehilangan. Ketakutan itu tumbuh menjadi keberanian yang salah alamat. Demi perempuan yang kucintai, aku rela memeluk dosa versi negara, walau di mataku itu hanya bentuk lain dari doa yang putus asa.
Aku menanam ganja di rumah.
Ya, itu melanggar hukum. Daun-daun hijau itu tumbuh diam-diam, seperti harapan yang harus disembunyikan.
Aku tahu risikonya, aku tahu pasal-pasalnya, aku tahu jeruji besi menungguku. Tapi apa pilihan yang tersisa ketika satu-satunya obat yang mampu meredakan penyakit langka istriku justru dikunci rapat oleh undang-undang?
Aku tidak belajar dari buku tebal atau rumah sakit megah. Aku belajar dari layar ponsel, dari percakapan sunyi dengan seorang dokter di negeri lain, melalui aplikasi pesan yang sinyalnya sering tersendat.
Di sana, obat itu legal, dibicarakan dengan bahasa ilmiah dan empati. Di sini, ia hanya disebut sebagai tanaman terlarang, tanpa ruang untuk penjelasan, tanpa celah untuk belas kasihan.
Mereka tidak peduli pada alasanku. Mereka tidak mau mendengar kisah tentang malam-malam tanpa tidur, tentang tubuh istriku yang semakin ringan seolah sedang bersiap pergi.
Yang mereka lihat hanya pot-pot tanaman dan tanganku yang kotor oleh tanah. Vonis sudah ada bahkan sebelum mulutku dibuka.
Aku diseret keluar rumah seperti pencuri martabat, sementara istriku menangis tanpa suara perlawanan. Tangisnya jatuh ke lantai, bercampur dengan debu dan ketidakadilan.
Tanpa toleransi. Tanpa pembenaran. Tanpa satu pun kalimat yang bertanya: mengapa.
Maka aku tiba di sini. Seorang tahanan yang dihukum karena terlalu mencintai, bersalah karena memilih harapan di negeri yang menganggap harapan tertentu sebagai kejahatan.
“Seratus delapan belas.”
Suara itu memantul di lorong, menghantam jeruji, lalu masuk ke telingaku seperti bentakan.
Aku tersentak dari lamunan. Selembar surat disodorkan melalui celah besi. Tanganku bergerak meraihnya, tubuhku menurut sebelum pikiranku sempat menolak.
Aku membuka surat itu dengan kepala kosong. Kalimat-kalimat awalnya manis, basa-basi administrasi yang rapi dan dingin. Pemanis sebelum gigitan terakhir.
Lalu tanganku membeku.
Air mataku jatuh tanpa izin. Otakku berhenti, seolah ada nadi yang diputus paksa.
Di sana tertulis kabar tentang istriku. Tentang napas terakhirnya yang tidak sempat kugenggam. Tentang kematian yang datang lebih cepat dari keadilan.
Duniaku runtuh tanpa suara. Semua jerih payahku, semua keberanian bodohku, berubah menjadi debu yang diterbangkan angin hukum.
Aku tidak akan pernah lagi melihat wajahnya, tidak akan pernah lagi mendengar keluh kesahnya. Hidupku dirampas bersamaan dengan nyawanya.
Aku bertanya pada langit-langit sel penjara:
mengapa mereka membiarkannya sekarat tanpa perawatan saat mereka menangkapku?
Mengapa tidak ada setitik iba, secuil alasan, demi peluang hidupnya?
Apakah karena kami miskin, sehingga sakit hanya dianggap kepura-puraan? Ataukah karena di mata mereka aku terlalu hina untuk diberi ruang kemanusiaan?
Jika ini cobaan dari Tuhan, aku telah mencoba menjalaninya dengan segenap daya.
Namun yang benar-benar merenggut segalanya bukanlah takdir ilahi, melainkan tangan-tangan manusia dan hukum dunia yang tuli terhadap cinta.
Di balik jeruji besi ini, aku tidak lagi menghitung hari. Aku menghitung kehilangan. Dan setiap hitungan selalu berakhir pada satu kesimpulan pahit:
Mencintai dengan sepenuh hati bisa menjadi kejahatan paling mahal di negeri yang salah mendefinisikan belas kasihan.
Epilog
Di negeri ini, hukum berdiri paling tegak justru saat manusia sedang paling sekarat.
Ia menepuk dada sendiri, menyebut dirinya adil, sambil melangkahi jenazah yang tak sempat ia tolong.
Cinta dihukum karena tak punya pasal pembelaan.
Belas kasih ditolak karena tidak tercantum di ayat undang-undang.
Istriku mati tanpa pernah melanggar apa pun, kecuali miskin dan sakit.