Disukai
1
Dilihat
11
Racun Menghalalkan
Sejarah

Matahari sore menyelinap lewat sela-sela gedung tua kantor kami, seperti pengintip yang tahu semua rahasia, tapi memilih diam karena sudah terlalu bosan.

“Wah, rajin amat kamu,”

ucapnya dengan senyum selebar niat tersembunyi.

Teman sekantorku, tetanggaku, pria berseragam rapi yang wajahnya selalu menang undian simpatik,

tapi matanya—tak pernah berbohong.

“Iya, ini bentar lagi selesai.”

Sahutku, sambil tetap menari dengan angka-angka yang tak bisa berdusta.

“Hari ini kan gajian… mau ikut gak? Biasa, cari hiburan malam-malam,”

ujarnya sambil cengengesan. Tawanya ringan,

seolah malam bukan tempat setan berbisik, tapi taman bermain bagi kaum yang penat.

“Maaf ya, aku capek banget. Mau langsung pulang aja.”

Kataku, sambil menekuk keinginan yang tak pernah tumbuh.

“Ah, kamu gak asik. Tiap diajak gak pernah mau. Ya udah, aku cabut dulu.”

Ia melenggang, seperti biasa.

Ke mana? Entahlah. Tapi aroma dosa yang dipoles jadi rutinitas, sudah bisa kutebak tujuannya.

Aku hanya membalas dengan senyuman.

Bukan senyum ikhlas, lebih seperti usaha terakhir untuk tak ikut menilai.

Ia, pria baik di siang hari. Suami humoris di depan keluarga.

Dan malam… adalah dimensi lain yang tak pernah dimasukkan dalam daftar pertobatan.

*****

Laporan selesai.

Aku pun beranjak, keluar dari kantor yang dinginnya tak berasal dari AC,

melainkan dari sistem yang membekukan nurani.

Angkot melaju perlahan.

Kota ini terlalu bising untuk memikirkan benar dan salah.

Lampu jalan menatapku seperti saksi bisu yang terlalu sering melihat dosa tapi malas bersaksi.

Di sudut kota, gang sempit menyambutku.

Lorong sempit yang tahu banyak rahasia, tapi memilih jadi batu.

Aku berjalan cepat. Lelah ingin segera diobati, bukan dengan pelukan,

tapi dengan keheningan rumah yang tak pernah menghakimi.

Langkahku terhenti.

Di depan, sekumpulan wanita sedang menyemarakkan malam dengan obrolan moralitas.

“Pulang kerja, Mas?”

tanya salah satunya.

“Iya, Mbak,” jawabku sopan.

Sopan karena capek, bukan karena hormat.

“Kok gak bareng suami saya, Mas? Dia ke mana?”

Pertanyaan yang terlalu tajam untuk dijawab jujur.

“Wah… kurang tahu, Mbak. Saya buru-buru pulang soalnya.”

Ucapku, seperti pembohong pemula yang terpaksa jadi profesional.

“Oalah… Eh Mas, tahu gak, tetangga kita yang di sana itu, suaminya nikah lagi. Kasihan ya istri pertamanya.”

Komentar yang dilempar dengan gaya peduli, tapi nadanya—lebih tajam dari belati warisan turun temurun.

“Laki-laki zaman sekarang tuh gak bisa adil, Mas. Satu aja gak beres, apalagi dua. Nanti anak-anak yang jadi korban.”

Aku hanya diam.

Diam adalah bentuk paling sopan dari ketidaksetujuan.

“Maaf ya, Mbak. Badan rasanya gak enak. Saya istirahat dulu.”

Aku pun melangkah pergi.

Meninggalkan percakapan yang lebih penuh prasangka ketimbang logika.

*****

Dalam sepi kamar, pikiranku menggugat.

Mereka mencibir sesuatu yang sah—dengan narasi keadilan yang dibumbui luka dan air mata,

seakan kesakitan adalah dalil,

dan opini adalah hukum.

Tapi…

apa mereka tahu,

suami-suami mereka yang tampak suci itu,

telah lama menjadikan layar sosial media sebagai taman bermain hasrat?

Apa mereka sadar,

lelaki yang tidur sekasur itu,

bisa saja baru saja menanggalkan tawa di pangkuan wanita yang tidak tahu nama anak-anaknya?

Betapa ironisnya:

Yang haram dibungkam, karena rapat dan rapi.

Yang halal dihujat, karena jujur dan terbuka.

Apakah kita sedang membalikkan makna dosa?

Atau sedang menjadikan syariat sebagai bahan lelucon sosial?

Jika memang tak sanggup mendua,

maka silakan memilih satu,

tapi jangan memukul orang yang memilih jalur sah karena tak pandai menyembunyikan selingkuh.

Dan kalian—yang berkata soal adil,

tapi tak pernah bertanya kenapa wanita tak diberi hak yang sama…

itu bukan karena agama tak adil,

tapi karena kalian tak sudi bertanya lebih dalam.

Karena kalian lebih takut dikomentari tetangga,

daripada mematuhi Tuhan.

*****

Di negeri ini,

segala sesuatu bisa jadi benar,

asal dibisikkan dengan suara pelan dan bumbu norma sosial.

Dan segala yang sah bisa terlihat menjijikkan,

asal dilakukan tanpa topeng dan kepura puraan.

*****

Epilog

Malam kian larut. Di balik tirai jendela, bulan menggantung setengah hati—seperti bangsa ini yang tak pernah bulat dalam menilai.

Aku rebah, membiarkan tubuhku luruh, tapi pikiranku tetap berdiri—seperti nurani yang tak mau ikut rebahan di atas kasur kompromi. Di luar sana, para pendosa masih bersolek, para suci masih sibuk menunjuk, dan para netral… ya, mereka sibuk mencari sinyal.

Besok pagi, dunia akan kembali seperti biasa. Penuh senyum di bibir, penuh racun di balik kata "selamat pagi". Kantor akan tetap berdiri, sistem akan tetap beku, dan mulut-mulut akan terus bekerja keras—bukan untuk berkata benar, tapi agar tetap terdengar benar.

Karena di negeri ini, kebenaran tak harus utuh. Asal cocok dengan selera mayoritas, maka ia bisa dimaklumi. Dan kesalahan? Tak akan jadi dosa, selama dibungkus rapi dan dibagikan dengan tawa.

Tapi aku tak ingin ikut pesta itu. Aku cukup jadi penonton—yang tahu, mencatat, tapi tak ingin ikut menyuap.

Karena tak semua saksi diam itu kalah. Kadang, ia hanya tak ingin merendahkan suara hatinya jadi sekadar debat warung kopi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Rekomendasi