April, 1949
Pada masa-masa yang tegang, dan aroma tanah tanam paksa masih mengintai negara baru yang bernama Indonesia.
Pada persimpangan di antara Republik Kesatuan dan Republik Serikat. Para petinggi kini sudah sibuk dengan urusan rakyatnya. Terutama Departemen Pengajaran, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan.
Seorang Dr. Buta Huruf berdiri di depan anak-anak dan dewasa, di sebelahnya tampak papan tulis yang disandarkan pada sebuah kursi.
Tangan kanannya membawa tongkat untuk menunjuk huruf yang telah ia tulis sejak pagi hari, sebelum muridnya datang.
Di tangan kirinya buku yang dilipat ke belakang dipegangnya erat-erat. Ia hanya memakai celana pendek dan kemeja.
Sedang murid-muridnya ada yang memakai baju lengkap dengan kopiah, ada satu yang hanya menggunakan kaos kutang. Yang kesemuanya laki-laki.
Dr. Buta Huruf, "Bu....Di"
Murid-murid menirukan dengan sedikit berteriak, "Bu........Diiiiii"
Sementara proses belajar terus berlangsung di bawah pohon rindang yang melindungi dari terik matahari yang hampir berada tepat di atas kepala.
Di kejauhan, seorang laki-laki yang tampilannya rapi mengamati Dr. Buta Huruf tampak mengetuk-ngetuk papan tulis dengan tongkatnya. Ia lalu bergumam dalam hati, "Mereka sedang belajar huruf latin. Ini sepertinya program pemberantasan buta huruf yang dimaksud dalam koran tempo hari." Ia coba menerka-nerka.
Ia lalu teringat dengan data sensus tahun 1930, “Ada 93% pribumi yang buta huruf. Artinya hampir semua orang pribumi buta huruf, termasuk bayi baru lahir, yang tidak bisa berbuat apa-apa, telah dihitung sebagai buta huruf.” Data ini ia temukan dalam sebuah laporan yang pernah ia baca di koran pada beberapa bulan lalu.
"Ini sungguh tidak masuk akal." Gumamnya.
"Assalamualaikum Sjatrie, kenapa melamun saja siang bolong begini." Dr. Buta Huruf yang tadi di depan murid-muridnya kini sudah di depan Sjatrie tanpa ia sadari.
Sjatrie seketika sadar, tampak murid-murid tadi kini telah meninggalkan tikar tempat duduknya, dan berlalu meninggalkan kelas terbuka itu.
"Waalaikumsalam Anwar, sejak kapan kamu jadi guru?" Tanya Sjatrie pada Anwar, nama asli dari Dr. Buta Huruf tadi.
Anwar, adalah karib Sjatrie, mereka termasuk pemuda yang mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah lokal yang berbasis agama islam, seperti madrasah.
Meskipun Anwar lebih muda dari Sjatrie, namun mereka akrab karena tinggal di satu desa yang sama.
"Kamu tak tahu? Pemerintah memberi gelar kehormatan Dr. Buta Huruf bagi semua orang pribumi yang melek huruf, dan mau mengajar di desa-desa atau lingkungan tempatnya tinggal meski hanya satu dua anak saja. Tidak harus lulusan Guru untuk jadi Dr. Buta Huruf." Anwar mencoba menjelaskan.
"Sekarang namamu jadi Dr. Anwar si Guru Aksara Latin?!" Ucap Sjatrie bercanda.
"Ah, apa kamu gak mau menjadi guru sepertiku ini? Ini sama mulianya dengan berperang di medan perang, Bung!" Anwar coba menawari Sjatrie, lalu ia duduk di bawah pohon di dekat mereka berdiri.
Sambil mengikuti Anwar, Sjatrie duduk di sebelahnya dan jawabnya, "Bukankah kita sudah punya surau-surau untuk mengajari anak-anak kita tentang agama dan mengaji? Rasanya, tidak pas kalau mereka itu dikatakan buta huruf sama sekali, meski memang betul mereka buta dengan huruf latin."
Sjatrie, adalah salah satu anak dari tokoh guru di salah satu surau di desa ini. Dan Sjatrie memang dikenal pandai dan ulung dalam membaca maupun menulis, ia beberapa kali mencoba mengirim tulisannya ke koran dan majalah. Dan ada satu majalah yang bersedia memuat tulisannya.
Anwar sedikit serius mencerna apa yang barusan dikatakan oleh Sjatrie.
Ia lalu teringat sebuah selebaran dari pemerintah yang memuat bagaimana kondisi buta huruf di Indonesia dan Dunia.
Kemudian ia memberi pendapat, "Ini tidak hanya di sini, tapi di seluruh dunia, hampir satu per dua dunia buta huruf. Termasuk buta huruf juga ada di Amerika dan Jepang, tentu dengan kriteria mereka. Misalnya di New York, seseorang dianggap melek huruf jika dapat menulis namanya. Sederhana. Atau di Jepang, seseorang yang mengetahui 400 kata akan dianggap melek huruf."
"Nah! Kemarin aku ada baca, kalau melek huruf di sini sudah diatur, kalau gak salah bunyinya: 'Dapat membaca prosa sederhana, dapat menyampaikan secara lisan apa yang dibaca, dapat menyusun dan menulis sendiri surat sederhana.' Apa semua orang yang melek huruf akan jadi sastrawan beraksara latin?" Tanya Sjatrie dengan sedikit sinis.
"Sebenarnya ada kebaikan di sana, setelah selesai belajar, para murid juga akan diberi bahan bacaan berupa buku sederhana dalam bahasa Indonesia. Mulai dari buku masak sampai Dostoyevsky, sesuai pilihan mereka. Agar mereka tidak kehilangan pengetahuannya karena kekurangan bahan bacaan." Anwar memberikan sudut pandangnya.
"Ya, saya pikir pemerintah sudah memikirkannya, namun ini akan meminggirkan pengetahuan lokal kita. Memutus pengetahuan tentang aksara-aksara yang sudah diketahui. Bapak-Ibu sepuh yang mengajar di surau-surau itu akan masuk dalam jenis yang buta huruf." Sjatrie bicara sambil mengubah posisinya, kini ia sudah berdiri.
"Ini semua demi kebaikan bangsa, dua juta anak memang sudah menerima pendidikan, namun masih ada delapan juta anak yang belum. Untuk jumlah guru, kita juga masih sangat kekurangan, kita setidaknya perlu 225.000 guru untuk mampu memberikan pendidikan pada 8.000.000 anak itu. Ini bukan soal angka saja, ini soal manusia, soal penerus bangsa ini." Anwar bicara dengan nada yang sedikit kencang agar Sjatrie yang berdiri mendengarnya.
"Saya juga membaca data-data itu. Seluruhnya saya mendukung apa yang telah menjadi program pemerintah." Ucap Sjatrie sambil menyodorkan tangannya pada Anwar.
Kini Anwar dan Sjatrie berjabat tangan, dan ditariklah tanggan Anwar hingga ia berdiri.
"Soal manusia, soal penerus bangsa." Sjatrie melepas jabatan tangan, dan terdiam sejenak. Lalu...
"Aku akan mengajar huruf latin di saung bapak-ibuku, tanpa menyisihkan pelajaran agama dan mengaji. Dan selamat atas Dr. Kehormatanmu, aku pamit dulu."
"Assalamualaikum." Pungkas Sjatrie, serta berbalik melangkah meninggalkan Anwar.
"Waalaikumsalam, Terima Kasih Sahabatku." Ucap Anwar sedikit berteriak.
Senyum Anwar merekah, kini dilihatnya tikar yang kosong serta papan tulis yang tampak tenang, Sjatrie mengingatkannya pada tulisan-tulisan arab di belakang papan tulis itu.
Tamat.