Bulan bagus datang seperti tamu lama yang membawa kabar bahagia. Langit bersih, angin lembut, dan suara gamelan mulai merambat dari rumah-rumah yang bersiap menyambut hari pernikahan. Di lereng Karangwatu, desa yang memeluk laut dan memelihara sunyi, suasana berubah menjadi perayaan. Bagi banyak orang, bulan bagus adalah waktu bersyukur. Waktu berpesta. Tapi bagi Jono, lelaki paruh baya dengan tangan kapalan dan punggung yang mulai melengkung, bulan bagus selalu datang seperti ujian. Jono dikenal sebagai buruh serabutan: kadang tani, kadang tukang batu, kadang hanya duduk di warung menunggu panggilan kerja. Tapi ada satu peran yang membuatnya tak tergantikan: setiap hajatan di desa, dialah yang dicari untuk membuat teh.
Teh buatan Jono bukan sembarang teh. Ginastel, kata orang-orang. Legi, panas, kenthel. Manis, kental, dan panas. Teh itu bukan sekadar minuman, melainkan penyejuk hati bagi keluarga yang sibuk, pelipur lara bagi tamu yang datang jauh-jauh, dan pengikat suasana dalam setiap perayaan.
Namun, di balik uap teh yang mengepul, ada batin yang mendidih dalam diam.
Permintaan yang Tak Mungkin Ditolak
Hari itu, Jono duduk di ruang tamu rumah Pak Karmin, yang akan menikahkan anak perempuannya minggu depan. Di meja, kacang rebus dan segelas teh tawar menunggu. Pak Karmin membuka percakapan dengan senyum gugup.
“Jon, sampeyan bantu ya. Tehnya, seperti biasa. Kalau sampeyan yang bikin, tamu pasti senang.”
Jono mengangguk pelan.
“Inggih, Pak.”
Namun dalam hatinya, gelombang kecil mulai mengguncang. Ia tahu, seminggu ke depan ia tak akan pergi nukang ataupun ke ladang. Tak ada pemasukan. Dan seperti biasa, ia harus ikut menyumbang lebih besar dari tamu biasa, karena dianggap ‘orang dalam’ hajatan.
Jono pamit dengan senyum yang tetap hangat, lalu pulang melewati jalan berbatu. Di rumah, ia duduk di dipan bambu, memandangi langit yang mulai jingga. Di luar, suara kentongan latihan gamelan menggema. Di dalam, pikirannya keruh.
Perut yang Keroncongan
Di desa, menolak hajatan sama saja dengan menolak ikatan sosial. Tapi di rumah Jono, kebutuhan sehari-hari menggonggong seperti anjing lapar. Anak bungsunya, Indah, meminta uang buku. Istrinya, Sri, mulai sering mengeluh pinggang sakit karena terlalu lama menumbuk pakan ternak.
“Pak… kalau banyak hajatan terus bapak gak kerja, kita makan apa?” tanya Sri lirih malam itu, sambil memijat pinggangnya dengan minyak kelapa buatan sendiri.
Jono diam. Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang telah membuat ribuan gelas teh untuk orang lain, tapi jarang bisa memastikan nasi di piring keluarganya sendiri. Di sela-sela garis kapalan itu, ia seperti membaca sejarah hidupnya: kerja tanpa upah, senyum tanpa balasan, pengabdian tanpa pengakuan.
Ia ingin menjawab, ingin berkata bahwa hajatan adalah bagian dari hidup desa, bahwa menolak berarti mencabut akar dari tanah tempat mereka berdiri. Tapi kata-kata itu terasa hampa di hadapan mata Sri yang mulai redup oleh lelah.
“Kalau aku bilang tidak, nanti orang bilang aku sombong. Kalau aku bilang ya, kita makin susah,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Sri tak menjawab. Ia hanya menarik selimut, pelan, seperti menutup harapan yang terlalu sering digantung.
Jono berdiri, membuka jendela, membiarkan angin malam masuk. Di luar, suara kentongan dari rumah tetangga masih terdengar—latihan gamelan untuk hajatan yang akan datang. Nada-nada itu dulu terdengar meriah, kini terasa seperti irama yang menagih: kerja, sumbangan, senyum, tanpa jeda.
Ia teringat Indah yang tadi siang menunduk saat teman-temannya membahas buku baru. “Bapak, aku gak minta banyak. Cuma buku tulis, yang ada gambar burungnya itu.”
Burung. Simbol kebebasan. Tapi di rumah ini, burung hanya ada di gambar, bukan di kenyataan.
Jono menatap langit. Di sana, bulan bagus menggantung dengan anggun, seolah tak tahu bahwa di bawahnya ada keluarga yang sedang menimbang antara martabat dan perut kosong.
Ia bergumam pelan, seperti berbicara pada malam:
"Kalau teh yang kubuat bisa menghangatkan orang lain, kenapa tak bisa menghangatkan rumahku sendiri?"
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Jono merasa bahwa menjadi bagian dari tradisi bukan berarti harus kehilangan dirinya sendiri.
Malam Gelap dan Godaan
Dua malam sebelum hajatan, Jono terjaga. Angin laut bertiup dingin, menusuk hingga ke tulang. Ia duduk di tepi dipan, menatap gelap yang seperti menatap balik. Lalu ia bangkit, melangkah pelan melewati istrinya yang terlelap, dan keluar rumah.
Jono terjaga di malam yang dingin, duduk lama di dipan bambu. Ia menatap langit yang gelap, lalu menunduk, memandangi tangannya sendiri. Di sela-sela kapalan itu, ia seperti membaca sejarah hidupnya: kerja tanpa upah, senyum tanpa balasan, pengabdian tanpa pengakuan.
Ia teringat masa kecilnya, saat ibunya pernah berkata, “Kalau lapar, jangan mencuri. Tapi kalau tak ada pilihan, mintalah dengan jujur.”
Tapi ia juga ingat hari ketika ibunya sendiri pulang dari pasar dengan seikat bayam yang ia sembunyikan di balik kain jarik. “Tadi ada yang jatuh di jalan,” katanya, tapi Jono tahu, itu bukan jatuh—itu diambil.
Sejak saat itu, Jono belajar bahwa kadang, orang baik pun bisa tergelincir oleh lapar.
Ia menatap sudut dapur, tempat Sri menyimpan minyak kelapa buatan sendiri. Minyak itu tak cukup untuk memasak seminggu ke depan. Ia teringat Indah yang tidur dengan perut kosong, hanya makan singkong rebus.
Angin laut masuk lewat celah jendela. Dingin. Tapi yang lebih menusuk adalah rasa gagal sebagai ayah. Ia ingin jadi teladan, tapi hidup terus mendesaknya ke sudut yang gelap.
Langkahnya menuju warung Bu Minah, tetangganya, yang baru saja menimbun gula pasir, teh kering, rokok, dan minyak goreng. Pintu bambunya tak terkunci rapat. Jono berdiri di depan pintu itu cukup lama.
“Hanya sedikit… Nanti kubayar… kalau ada rezeki,” bisiknya—entah kepada dirinya, kepada malam, atau kepada Tuhan yang mungkin sedang memalingkan wajah.
Tangannya masuk. Bukan hanya gula. Ia mengambil minyak goreng dan beberapa slop rokok. Jemarinya gemetar, tapi cepat ia masukkan ke karung kecil yang ia bawa. Lalu ia bergegas pergi, keringat dingin membasahi punggung meski udara laut menusuk kulit.
Saat ia sampai rumah, Indah, anak bungsunya, terbangun.
“Bapak dari mana?”
Jono terhenti. Mata anak itu jernih, polos, tak tahu apa-apa tentang beban yang menghimpit ayahnya.
“Bapak… nyari angin, Nak. Supaya besok kuat kerja,” jawabnya.
Ia tersenyum. Senyum itu kaku, seperti retakan di batu kering.
-----
Keesokan paginya, langit masih abu-abu ketika Jono berangkat ke pasar di desa sebelah. Ia membawa karung berisi barang-barang yang ia ambil semalam. Pasar sudah riuh dengan suara tawar-menawar, bau ikan asin, dan teriakan penjual sayur. Jono memilih sudut dekat kios kelontong.
“Bu, ini ada rokok, minyak goreng sama gula pasir, murah. Mau?” tanyanya kepada seorang pedagang kelontong.
Pedagang itu menoleh, matanya berbinar melihat harga yang Jono tawarkan.
“Murah iki. Nggak usah mikir. Yowis, tak borong kabeh.”
Jono mengangguk, pura-pura santai.
“Nggih, bu. Itu titipan, sisa acara hajatan dari Pak Yanto. Saya cuma disuruh jualin.”
Bohong itu meluncur ringan, seperti sudah lama ia latih. Tapi saat uang berpindah ke tangannya, ada rasa pahit yang mengalir lebih pekat dari kopi hitam.
Ia berjalan pulang melewati sawah yang mulai menguning. Di kejauhan, terlihat rumah-rumah warga dengan atap seng berkilau terkena matahari. Semua tampak biasa saja, tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang bergolak.
“Apa ini harga dari ingin tetap dianggap ‘orang baik’ di desa?” pikirnya.
Ia menggenggam uang itu erat. Bukan karena bahagia, tapi karena takut—takut kehilangan wajah di depan tetangga, takut ketahuan anaknya, takut pada dirinya sendiri yang semakin pandai berdusta.
Hajatan dan Hantu Rahasia
Hajatan pun tiba. Seperti biasa, Jono sudah bersiap sejak fajar. Tangannya cekatan, teh panas mengalir dari panci besar ke gelas-gelas kaca. Uapnya mengepul, meruapi udara dengan aroma yang akrab bagi siapa pun yang pernah singgah di hajatan desa Karangwatu. Setiap tamu yang menyeruput, tersenyum.
“Tehnya Jono, selalu juara!”
Pujian datang bertubi-tubi, seperti angin yang membawa daun-daun jatuh ke pangkuan.
Namun, setiap kali uap itu naik, Jono merasa ada yang ikut terangkat bersamanya—bau gula yang ia ambil diam-diam, minyak goreng yang ia selipkan di balik baju lusuh, rokok yang ia sambar dalam gelap warung. Senyumnya makin kaku, dadanya makin sesak. Ia tetap menuang, tetap tersenyum, tapi dalam dirinya ada suara yang tak bisa ia padamkan: suara malu yang tak bersuara, suara lapar yang menyamar jadi tanggung jawab sosial.
Siang itu, di tengah riuh gamelan dan obrolan tamu, Bu Minah muncul. Langkahnya cepat, suaranya lantang, menusuk seperti duri yang tak terlihat.
“Kalian lihat gula, rokok, minyak goreng di warungku hilang?” tanyanya pada beberapa orang yang duduk tak jauh dari panci teh. Suasana yang semula hangat mendadak riuh. Bisik-bisik mulai tumbuh seperti rumput liar.
Jono pura-pura tak dengar. Tangannya tetap bekerja, menuang teh ke gelas-gelas yang terus datang. Tapi keringat dingin menetes dari pelipisnya, jatuh tepat ke dalam panci. Uap teh naik lagi, pelan, seolah menertawainya dalam diam. Seolah berkata: “Manisnya teh ini, apakah juga manis di hatimu?”
Ia menunduk, menatap gelas terakhir yang ia isi. Di dalamnya, bukan hanya teh—ada rasa bersalah yang tak bisa ia aduk, ada harga diri yang mulai larut, pelan-pelan, seperti gula yang tenggelam tanpa suara.
Pengakuan di Bawah Pohon Waru
Malam terakhir sebelum hajatan berakhir, Jono duduk di bawah pohon waru tua di halaman rumahnya. Angin laut membawa aroma garam. Ia menatap langit, mencari bintang yang dulu sering ia tunjukkan pada Indah.
“Bapak, itu bintang apa?”
“Bintang yang tahu kita sedang berjuang,” jawabnya dulu.
Kini, ia hanya bergumam pelan:
“Bintang… apakah kau juga tahu aku mencuri?”
Air matanya jatuh. Ia sadar, ia telah menjaga kehormatan sosial, tapi mengorbankan kehormatan pribadinya.
Esok paginya, setelah hajatan selesai, ia datang ke warung Bu Minah.
“Bu… maafkan saya. Gula, rokok, dan minyak goreng itu… saya yang ambil. Saya butuh sekali tapi saya akan mengganti hanya tidak bisa sekarang,” katanya lirih.
Bu Minah terdiam lama. Lalu ia hanya berkata:
“Jon… lain kali, minta saja. Di desa, kita saling bantu, bukan saling sembunyi.”
Jono menunduk, tapi hatinya terasa lebih ringan.
Di Karangwatu, cinta tak selalu berbentuk pelukan atau puisi. Kadang ia hadir dalam gelas teh manis, dalam tangan yang tak pernah menolak kerja, dalam keberanian mengakui salah.
Jono tahu, hidupnya mungkin tak stabil. Tapi kali ini, uap teh yang ia buat benar-benar jernih—tak hanya menghangatkan tamu, tapi juga dapur dan hatinya sendiri.
Blora, Oktober 2025