Kirim izin baca kepada penulis skrip ini?
Blurb
Setiap malam, Nora menyalakan enam batang lilin. Lilin ketujuh selalu ia serahkan kepada seorang perempuan tua yang bahkan tak lagi yakin siapa dirinya.
Perempuan itu adalah Bunda Aimah—ibunya.
Puluhan tahun lalu, perceraian memisahkan Nora dari sang ibu saat usianya baru tujuh tahun. Kini, setelah menemukan kembali ibunya di sebuah panti jompo, Nora memilih bekerja di sana agar dapat merawat perempuan yang perlahan kehilangan seluruh ingatannya. Hanya ritual tujuh lilin yang sesekali mampu membangkitkan kenangan tentang putri bungsu yang pernah direnggut darinya.
Namun ketika Bunda Aimah mulai mengenali Nora kembali, keenam saudara tirinya justru memperebutkan warisan dan menolak mengakui keberadaan perempuan yang selama ini mereka anggap orang asing.
Di tengah ingatan yang datang dan pergi, Nora hanya memiliki satu harapan: sebelum lilin terakhir padam, ibunya sempat mengingat satu hal yang paling penting—
bahwa ia adalah anak bungsunya.
Perempuan itu adalah Bunda Aimah—ibunya.
Puluhan tahun lalu, perceraian memisahkan Nora dari sang ibu saat usianya baru tujuh tahun. Kini, setelah menemukan kembali ibunya di sebuah panti jompo, Nora memilih bekerja di sana agar dapat merawat perempuan yang perlahan kehilangan seluruh ingatannya. Hanya ritual tujuh lilin yang sesekali mampu membangkitkan kenangan tentang putri bungsu yang pernah direnggut darinya.
Namun ketika Bunda Aimah mulai mengenali Nora kembali, keenam saudara tirinya justru memperebutkan warisan dan menolak mengakui keberadaan perempuan yang selama ini mereka anggap orang asing.
Di tengah ingatan yang datang dan pergi, Nora hanya memiliki satu harapan: sebelum lilin terakhir padam, ibunya sempat mengingat satu hal yang paling penting—
bahwa ia adalah anak bungsunya.
Premis
Seorang perempuan yang telah mengorbankan bertahun-tahun hidupnya untuk merawat ibu yang sakit mendapati dirinya justru diperebutkan dan disingkirkan dari hak warisan keluarganya karena tidak memiliki bukti sah atas kelahirannya. Di tengah pertarungan hukum dan pengkhianatan saudara-saudaranya, sang ibu mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan: makna di balik satu dari tujuh lilin yang selalu ia minta dinyalakan oleh putrinya sejak kecil. Untuk membuktikan siapa dirinya sebenarnya, perempuan itu harus mengungkap masa lalu keluarganya—sebuah kebenaran yang dapat mengubah arti darah, kasih sayang, dan warisan selamanya.
Pengenalan Tokoh
Setiap malam, sebelum memejamkan mata, Nora menyalakan enam batang lilin. Lilin ketujuh selalu ia serahkan kepada seorang perempuan tua yang duduk termenung di sudut kamar panti jompo.
Perempuan itu adalah Bunda Aimah—ibunya sendiri.
Tak seorang pun di panti mengetahui hubungan mereka. Bagi penghuni dan para pegawai, Nora hanyalah seorang perawat yang begitu sabar merawat seorang lansia berusia sembilan puluh tahun yang perlahan kehilangan ingatannya. Bagi enam anak Bunda Aimah yang sesekali datang menjenguk, Nora tak lebih dari seorang pegawai panti.
Mereka lupa bahwa Nora adalah anak bungsu Bunda Aimah.
Puluhan tahun silam, ketika Nora baru berusia tujuh tahun, perceraian memisahkannya dari sang ibu. Ayahnya membawa Nora pergi, sementara Bunda Aimah kehilangan hak untuk membesarkannya. Sejak hari itu, mereka tak pernah benar-benar bertemu lagi. Yang tersisa hanyalah kenangan ulang tahun terakhir Nora, ketika Bunda Aimah menyalakan tujuh lilin dan berpesan agar lilin ketujuh tak pernah padam, sebagai pengingat bahwa mereka akan selalu menemukan jalan untuk saling mengenali.
Kini, ketika usia menggerogoti ingatan Bunda Aimah, hanya tradisi tujuh lilin itulah yang sesekali mampu membangkitkan sepotong kenangan tentang putri bungsunya. Di sela-sela kesadaran yang datang dan pergi, Bunda Aimah terkadang memanggil nama Nora, lalu beberapa saat kemudian melupakannya kembali.
Harapan Nora hanya satu: sebelum Tuhan memanggil ibunya, ia ingin sekali saja didengar sebagai seorang anak, bukan orang asing.
Namun ketika kondisi Bunda Aimah memburuk dan pembagian warisan mulai dipersoalkan, keenam saudara tirinya menolak mengakui keberadaan Nora. Mereka menganggap pengakuan sang ibu hanyalah bagian dari ingatan yang rapuh. Di tengah pertikaian keluarga, Nora harus memilih antara memperjuangkan haknya sebagai anak kandung atau mempertahankan satu-satunya hal yang benar-benar ia cari selama ini—pengakuan dari perempuan yang paling ia cintai.
Di antara nyala tujuh lilin, kenangan yang perlahan kembali, dan rahasia keluarga yang selama puluhan tahun terkubur, Lilin untuk Minora adalah kisah tentang cinta seorang ibu yang tak pernah benar-benar hilang, meski ingatan memudar; tentang seorang anak yang tak pernah berhenti menunggu untuk dikenali; dan tentang cahaya kecil yang sanggup menuntun pulang, bahkan ketika seluruh dunia telah lupa.
Perempuan itu adalah Bunda Aimah—ibunya sendiri.
Tak seorang pun di panti mengetahui hubungan mereka. Bagi penghuni dan para pegawai, Nora hanyalah seorang perawat yang begitu sabar merawat seorang lansia berusia sembilan puluh tahun yang perlahan kehilangan ingatannya. Bagi enam anak Bunda Aimah yang sesekali datang menjenguk, Nora tak lebih dari seorang pegawai panti.
Mereka lupa bahwa Nora adalah anak bungsu Bunda Aimah.
Puluhan tahun silam, ketika Nora baru berusia tujuh tahun, perceraian memisahkannya dari sang ibu. Ayahnya membawa Nora pergi, sementara Bunda Aimah kehilangan hak untuk membesarkannya. Sejak hari itu, mereka tak pernah benar-benar bertemu lagi. Yang tersisa hanyalah kenangan ulang tahun terakhir Nora, ketika Bunda Aimah menyalakan tujuh lilin dan berpesan agar lilin ketujuh tak pernah padam, sebagai pengingat bahwa mereka akan selalu menemukan jalan untuk saling mengenali.
Kini, ketika usia menggerogoti ingatan Bunda Aimah, hanya tradisi tujuh lilin itulah yang sesekali mampu membangkitkan sepotong kenangan tentang putri bungsunya. Di sela-sela kesadaran yang datang dan pergi, Bunda Aimah terkadang memanggil nama Nora, lalu beberapa saat kemudian melupakannya kembali.
Harapan Nora hanya satu: sebelum Tuhan memanggil ibunya, ia ingin sekali saja didengar sebagai seorang anak, bukan orang asing.
Namun ketika kondisi Bunda Aimah memburuk dan pembagian warisan mulai dipersoalkan, keenam saudara tirinya menolak mengakui keberadaan Nora. Mereka menganggap pengakuan sang ibu hanyalah bagian dari ingatan yang rapuh. Di tengah pertikaian keluarga, Nora harus memilih antara memperjuangkan haknya sebagai anak kandung atau mempertahankan satu-satunya hal yang benar-benar ia cari selama ini—pengakuan dari perempuan yang paling ia cintai.
Di antara nyala tujuh lilin, kenangan yang perlahan kembali, dan rahasia keluarga yang selama puluhan tahun terkubur, Lilin untuk Minora adalah kisah tentang cinta seorang ibu yang tak pernah benar-benar hilang, meski ingatan memudar; tentang seorang anak yang tak pernah berhenti menunggu untuk dikenali; dan tentang cahaya kecil yang sanggup menuntun pulang, bahkan ketika seluruh dunia telah lupa.
Sinopsis
Disukai
0
Dibaca
0
Tentang Penulis
Vitri Dwi Mantik
Still a little girl, who believes in her heart, in fulfilling her calling to draw the colours of the Wonderland.
Bergabung sejak 2021-10-07
Telah diikuti oleh 558 pengguna
Sudah memublikasikan 91 karya
Menulis lebih dari kata
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Lilin Untuk Minora
Vitri Dwi Mantik
Flash
Kembali ke Hindia
Afri Meldam
Novel
Sampiran Durian
Azul
Novel
Beruang Es
Vivilutfia41
Skrip Film
Andai Esok Tak Pernah Datang
Dina Ivandrea
Novel
Proyek Buku Besar
Foggy FF
Novel
THE PAIN
St. Aisyah
Novel
LAMPA'
A. F Rianti
Flash
Gelas Kedua
Afri Meldam
Novel
Alunan Langkah
Wida Ningsih
Novel
MetaMorphoo
Jeni Octavitaloka
Cerpen
JILBAB
Iman Siputra
Novel
The Sniper
Shafa Maurrizka
Novel
Atas Nama Cinta, Aku Bangga
Lia Dwi Seftarini
Flash
Siang Seberang Istana
Aldi Cendikia Nugroho
Rekomendasi
Skrip Film
Lilin Untuk Minora
Vitri Dwi Mantik
Novel
Borderline
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Bronze
Biarkan Aku Pulang
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Cyber Security
Vitri Dwi Mantik
Skrip Film
Skema Wilwatikta
Vitri Dwi Mantik
Skrip Film
Berburu Ropen
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Bronze
Pahatan Hati
Vitri Dwi Mantik
Flash
Suara Maddie
Vitri Dwi Mantik
Flash
Rumah Besar Di Surga
Vitri Dwi Mantik
Skrip Film
A YOTTABYTE R.A.M
Vitri Dwi Mantik
Flash
Adi Parasakti
Vitri Dwi Mantik
Novel
Lima Dara
Vitri Dwi Mantik
Flash
Barata dan Bahubali
Vitri Dwi Mantik
Flash
Andromeda"s Cry
Vitri Dwi Mantik
Cerpen
Bronze
Moirai, Tiga Takdir
Vitri Dwi Mantik