Siang Seberang Istana

"HARI INI KITA PESTA SEPUASNYA!" Itu adalah suara teriakan yang menggema menyatu dengan sorak gembira dari lautan orang-orang kaya.

Suara itu menggema dari dalam sebuah rumah megah nan mewah, bagaikan sebuah istana.

Para orang kaya itu tengah menikmati hidangan mahal sambil bersendagurau. Beberapa dari mereka tengah sibuk membicarakan bisnis, sebagian fokus dengan ponsel canggihnya, sisanya tengah saling memamerkan kekayaan mereka.

Di saat yang sama seorang Pria berumur 17 tahun dengan tubuh kurus berbalut pakaian lusuh tengah sibuk menggendong Adiknya yang bersimbah darah. Mereka adalah korban tabrak lari.

"Sabar ya Dek, sebentar lagi kita sampe ke rumah sakit. Kakak mohon bertahan ya." Sang Kakak terus berjalan sambil membawa Adiknya yang terluka parah.

"Kakak berhenti dulu ya. Kakak kecapekan kan? Jangan terlalu maksain Kak." Sang Adik menjawab dengan suara lemah

"Bodoh. Kamu pikir siapa yang lebih parah kondisinya sekarang? Kakak gak apa-apa." Sang Kakak terengah.

"Kalo gitu kenapa Kakak ngos-ngosan dari tadi? Kakak pikir Aku gak bisa ngeliat keringet yang ada di badan Kakak? Lagi pula Kaki Kakak sendiri juga luka kan?"

"Kakak gakpapa. Kakak masih kuat. Sekarang Kamu diem, jangan banyak omong."

"Lagi pula kalo Kita sampe ke rumah sakit Kita mau bayar biaya obat Aku pake apa Kak?"

"Kalo masalah itu sih Kakak bisa pikirin nanti, yang penting kamu–" tiba-tiba pegangan sang Adik terlepas, punggung perempuan itu menyentuh aspal. "DEK BANGUN! KAMU GAKPAPA? DEK!"

"Aku gakpapa Kak, Aku cuman...ngantuk." mata sang Adik mulai sayu.

"Kamu tunggu sini, Kakak mau cari bantuan."

"Kakak jangan pergi! Temenin Aku disaat-saat terakhir Aku." Adik perempuan itu menahan Kakaknya untuk beranjak.

"Kamu jangan ngomong gitu. Kamu harus kuat oke? Kamu sendiri yang bilang mau tinggal di istana dan jadi puteri kerajaan, jangan nyerah sekarang oke?" Sang Kakak berusaha untuk menguatkan si Adik dan juga dirinya sendiri. Dia sadar bahwa kata-katanya terlalu naif.

"Aku gak nyangka Kakak masih inget percakapan Kita pas masih kecil. Iya, dulu Aku selalu pengen hidup kayak keluarga kerajaan. Makan makanan enak, pake gaun mengkilap, dipanggil tuan puteri... hidup di istana bareng Kakak, Papah sama Mamah.

"Tapi sebenernya kenapa Aku selalu ngomongin soal impian itu disela-sela waktu kerja Kita, itu karena aku pikir rasanya seru, Aku tau gak mungkin rasanya buat Kita yang bukan siapa-siapa bisa hidup bahagia di negeri ini." Air mata mulai meleleh di wajah kusam perempuan itu.

"Maafin Kakak yang udah gagal jadi Kakak yang baik. Seharusnya Kakak bisa ngasih Kamu hidup yang enak, seharusnya Kamu gak hidup sebagai sampah kayak sekarang ini." Sang Kakak juga mulai menitikkan air mata.

"Aku udah gak bisa ngomong kuat-kuat, rasanya tenggorokan Aku kering dan sakit." Suara sang Adik begitu kecil, seperti berbisik dengan campuran suara tercekik.

"Kak... Mereka semua memandangi Kita dari dalam istana megah Mereka. Aku bisa ngerasain mata-mata yang tertuju ke arah Kita. Dulu di buku cerita yang biasa Mamah bacain buat Aku, disitu tertulis kalo para keluarga kerajaan itu adalah orang-orang dermawan.

"Kak... kalo Aku tinggal di dalam istana itu... apa Aku juga akan jadi orang jahat?" Sang Adik bertanya pada Kakaknya.

"Enggak. Kamu bukan orang jahat seperti mereka."

2 disukai 2.6K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction