The Groom

Aku bertemu dengannya sekilas saat keluarga kami pertama kali berkunjung ke rumahnya. Sebagai sesama pedagang besar, Ayah merasa perlu berkenalan akrab dengan keluarga Syahir. Ah, Ayah memperlakukanku seperti anak kecil rupanya.

Jika untuk kepentingan bisnis, mengapa pertemuan ini tidak cukup antara Beliau dan Pak Syahir saja? Aku yakin, kedua orang tuaku memiliki agenda lain. Kudengar, Pak Syahir memiliki empat anak gadis.

Salah satunya sempat bertatapan denganku tadi saat menunggu gerbang dibuka. Dia mengintip dari balik daun jendela yang terbuka di ruang atas. Meski sekejap, raut wajah bulat dengan sepasang mata beningnya sempat membuatku tertegun. Sebelum mengalihkan pandangan, masih tertangkap semburat kemerahan di pipinya kala tersenyum menunduk.

Di tengah perbincangan, Pak Syahir memanggil dan memperkenalkan keempat putrinya. Aku tak pernah sanggup lagi memandangi mereka, meski aku masih mengenali gadis idaman itu dari warna ujung pakaian. Ternyata, namanya Fahira.

Siapa sangka, sepulang dari sana, nama itu makin menggema mengisi sudut-sudut rumah. Ibu suka sekali menyebut dan membahas tentangnya. Lebih tepatnya, Beliau ingin menjadikannya menantu.

Entah mengapa dia yang dipilih. Padahal, Ibu sudah melihat indahnya hasil jahitan Fairuz, mencicipi lezatnya masakan Fatma, dan mendengar kesaksian Pak Syahir tentang betapa telitinya Faiza selama ini menghitung keuangan bisnis.

Mengapa justru Ibu memilih Fahira yang gemar membaca dan terampil berkuda? Aku tidak bisa melihat relevansinya sebagai calon istri. Sebanyak apa informasi yang didapat Ibu selama berbincang dengan keempatnya di bilik keputrian? Apakah ungkapan bahwa ibulah yang paling tahu tentang anaknya itu memang benar?

"Kamu tanya dulu ke putramu," saran Ayah.

Oh, Ayah. Pria gila mana yang akan menolaknya?

***

Ibu sungguh serius dengan niatnya. Ayah pun mendukung saja dengan melayangkan surat untuk melamar Fahira dan memberi waktu keluarganya berpikir. Di hari yang disepakati, kami kembali bertandang ke rumah itu untuk menerima jawaban.

Raut wajah kedua orang tuaku secerah mentari siang ini begitu mendengar persetujuan dari Pak Syahir. Ibu pun menyematkan sebentuk cincin ke jari manis kanan Fahira sebagai hadiah. Cincin manis sederhana itu kupilih bersama Ibu karena yakin akan serasi menemani sejuta pesonanya.

Lantunan bacaan surat Al Fatihah pun berkumandang serentak dari bibir kami sebagai ungkapan syukur dan doa. Jantungku berdegup kian kencang. Hari itu sungguh akan tiba. Minggu depan, Fahira resmi menjadi bagian keluargaku.

***

Rumah makin semarak dengan juntaian kain dan kerlip lampu. Aku baru saja memasang yang terbesar di atas pintu masuk Fahira nanti saat sudah berganti status sebagai istri. Aku tak kuat lagi membayangkan. Tiba-tiba, kepalaku terasa terbang dari tempatnya dan semua gelap.

***

Aku tahu, ini adalah Malam Pacar. Perhiasan di tangan Fahira akan bertambah dengan henna yang dipasang dari ujung jari. Abang Latif datang menunjukkan gamis putih bersulam benang emas untuk akad nikah besok.

Aku mengangguk lemah dan memaksakan senyum. Tubuhnya jadi lunglai dan duduk di sebelah ranjang tempatku berbaring. "Kata dokter, engkau perlu istirahat setidaknya sebulan. Padahal, besok adalah hari penting yang membutuhkan kehadiranmu."

Aku menggeleng. "Nikah itu harus ada mempelai perempuan, mempelai pria, wali, mahar, ijab kabul, dan dua saksi yang adil. Sedangkan aku, bukan salah satunya. Pernikahanmu tetap bisa berlangsung tanpa aku."

26 disukai 22 komentar 2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Sukaa... Narasinya ngena banget.
@alwindara : Kata2mu lebih keren 🥰👍
@sfarhanisa : Hiks..
@rinafryanie : Maaf, ya
Duh kata katanya
Yah God :(
Duh, ternyata bukan sama dia. Kasihan...
Ho'oh, kakak sendiri lagi saingannya 😅
@ummidzakayfat : Ternyata... Periihhh..
@choirunisaismia : Ho oh 😋
Saran Flash Fiction