Putri Dangdut

"Pan-ti wre-da. Apa itu, Bun?" tanya Aryo yang membuat Putri tersadar dari pikiran kalutnya.

"Itu tempat merawat orang-orang yang sangat tua. Kenapa?"

"Oh, jadi Bunda kerja di situ kalau malam. Eh, malam tetap kerja, ya?"

"Eh, iya. Mereka tetap harus ada yang jaga, kan?"

"Oh, iya. Kata Vino, neneknya harus dibantu kalau ke kamar mandi. Kalah sama anak-anak. Hahaha!"

Putri ikut tertawa lega melihat anaknya mendapat jawaban tak terduga tentang pekerjaannya selama ini. Tadinya dia hendak menunjukkan kantor stasiun TV itu, tetapi Aryo justru melihat bangunan mungil di sebelahnya.

***

"Ayo, Mas ..." ucap Putri begitu menutup pintu taksi di tengah kelamnya malam.

"Wah, suara Mbak ini mirip Putri Dangdut, ya?" celetuk sopir.

Putri tersentak menyadari kecerobohannya. Segera dia menyetel pita suara agar lebih melengking, "Ah, masa saya yang jelek ini disamakan dengan Putri Dangdut. Apartemen Anggrek ya, Pak."

Sopir menyalakan argometer dan mulai mengendalikan mobil dengan tenang sambil menyahut, "Toh, Putri Dangdut juga enggak ketahuan tampangnya kan, Mbak. Wong pakai topeng terus."

Putri tertawa kecil menutupi kegugupannya. Dia terlalu antusias malam ini. Kabar rating yang semakin meningkat dan pujian produser membuat hatinya jauh melambung. Sampai lupa menutupi jati diri lebih rapi.

Untung saja jarak perjalanan hanya 10 menit. Putri bisa bergegas menemui putra semata wayang yang sudah biasa ditinggal sendiri. Ya, Putri sengaja memilih jam kerja malam selepas Aryo tidur.

Dia ingin selalu hadir di hari-hari Aryo, mendampingi dan menyaksikan setiap perkembangannya. Usai beraktivitas seharian, anak penurut itu akan langsung berbaring di ranjang begitu jam 9 malam.

Dia tidak akan bangun hingga keesokan pagi, kecuali untuk ke kamar mandi. Memberi waktu Putri berkemas dan berangkat syuting siaran langsung hingga tengah malam.

***

"Bun, aku diajak Vino ke vilanya di Puncak malam tahun baru ini."

"Bukannya kita mau tahun baruan berdua?"

"Iya, sih. Tapi, aku ingin tahu vila itu seperti apa."

Putri tersenyum. Anggukannya menerbitkan pekik riang Aryo. Diraihnya ponsel untuk mengirim pesan ke produser, [Aku free malam tahun baru ini. Kuambil deh, job dari jam 11 sampai jam 1 itu. Bayarannya masih 3x lipat, kan?].

***

"Mas, cerita, dong. Ngapain aja di vila?" tanya Putri lembut sambil mengguncang pelan bahu Aryo yang masih mengantuk sepulang liburan. Tubuh mungil itu menggeliat sejenak, bergumam malas, berganti arah, lalu meringkuk kembali.

"Bunda enggak sabar ini nungguin dari semalam. Ayo, Mas ..."

Tiba-tiba Aryo menoleh dan membuka mata, "Ih, Bunda kayak Putri Dangdut, deh. Hihihi ..."

Putri terkesiap, "Kamu tahu Putri Dangdut dari mana?"

Aryo terlonjak bangun dengan tatapan takut-takut. Segera dia menghambur dan membenamkan wajah ke pangkuan Putri, "Maaf, Bun. Aryo melanggar peraturan, ya? Kemarin malam, mobil Vino mogok karena hujan. Kita jadi berteduh di warung. Di situ orang-orang lagi nonton Putri Dangdut. Bunda marah?"

Putri diam saja, tak sanggup berkata. Aryo makin takut. Tangisnya pun meledak. Dipeluknya kencang tubuh ibunya, "Bunda jangan marah terus. Aryo janji enggak nonton TV lagi. Maafin Aryo, ya."

Tubuh Putri merinding. Bibirnya bergetar. Butir-butir bening jatuh menimpa helai rambut Aryo. Bunda yang minta maaf, Aryo, bisik Putri dalam hati.

13 disukai 4 komentar 3.8K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@alwindara : huaa... pedih sekali kata-katamu, kisanak
Wanita, sang bidadari pembohong tuk anak anaknya
@suciasdhan : Ya, begitulah
Keren, hubungan ibu dan anak memang selalu bikin baper
Saran Flash Fiction