SSB

-- Untuk Boy --

"Anak baru, ya?" Kusodorkan tangan sambil menyebut nama, "Zain." Anak tak berseragam itu menyambut malu-malu, "Reyhan." Kami duduk di rumput sambil menunggu rekan yang lain. Kali ini aku memang datang kepagian.

Ingatanku menerawang ke tahun lalu. Aku baru bergabung dengan Sekolah Sepak Bola Elang ini. Perasaanku waktu itu tak karuan. Tentu senang karena ayah meluluskan keinginanku, tapi rasa itu bergantian dengan takut, malu, canggung. Banyak lah! Untung kemudian ada Rafly yang langsung mengakrabiku di hari pertama. Seumuran denganku tapi lebih dulu masuk SSB, Rafly selalu memompa semangatku.

Minggu-minggu pertamaku yang canggung terasa berat. Bukan hanya kesulitan menghafal nama dan wajah rekan-rekan setimku, aku memang sulit mengingat wajah. Aku sering salah memanggil Adit adalah Rafly, Septian adalah Dimas. Yang lebih berat adalah kemampuanku jelas tertinggal dibanding rekan seusiaku yang bergabung lebih awal. Sekilas pun sudah terlihat, mereka lebih jago dariku. Berkat Rafly, kemampuan dan kepercayaan diriku meningkat hingga pelatih berkali-kali memujiku ketika latihan.

Pada turnamen pertama yang kami ikuti, pelatih juga mengangkatku ke angkasa. "Tadi kalian main cukup bagus. Terutama kamu, Zain, dan kamu Rafly. Kalian jadi motor tim. Tidak apa-apa kalah, SSB Kijang memang paling bagus di kota ini. Kalian semua sudah membuat Bapak bangga." Aku melirik Rafly yang kulihat juga melirikku sebelum kami menunduk lagi. Berkat umpan Rafly, aku berhasil mencetak satu-satunya gol meski tak mampu mengejar tiga gol lawan.

Kesedihan akibat tidak lolos babak selanjutnya sedikit terobati oleh pujian khusus itu. Minggu-minggu berikutnya kami berlatih lebih keras. Aku yakin, jika ada turnamen lagi, kemampuan dan mentalku sudah lebih baik. Takkan kulupakan, semua berkat Rafly.

Aku berharap apa yang dilakukan oleh Rafly padaku bisa kutiru. Ini kesempatanku mengubah bocah pemalu di depanku menjadi kekuatan tambahan tim kami di masa depan. Kami akan berbalik mengalahkan SSB Kijang di turnamen berikutnya.

"Aku juga baru setahun latihan. Harusnya lebih awal, sih. Kita termasuk terlambat," aku mengulang ucapan Rafly tahun lalu. "Tapi tenang saja, asal kita tekun berlatih, kemampuan kita akan meningkat," lanjutku. "Latihan terus. Di sini, di rumah, di mana saja selama ada kesempatan. Dan, jangan sombong." Semua yang dikatakan Rafly kutirukan, sambil menepuk pundak Reyhan yang mengangguk-ngangguk tanpa melepas pandang dari rumput dekat kakinya. Dasar pemalu, batinku. Dari senyumnya kulihat ia senang ada yang langsung akrab dengannya. Aku tahu rasanya.

Terlintas pujian pelatih padaku. "Dulu aku juga malu dan tak bisa apa-apa. Setelah berlatih keras, kemarin aku berhasil cetak gol ke Kijang. Kau tahu? SSB terkuat di kota ini," sambungku serendah mungkin, tak ingin terdengar sombong. Terdengar sedikit juga tak mengapa, toh? Reyhan mengangkat kepalanya.

"Wah, Zain udah akrab aja nih sama Reyhan," suara Rafly mengejutkanku. Ia merangkul pundak kami dari belakang. "Rey, ini kukembalikan sepatumu. Makasih, ya," katanya sambil menyodorkan bungkusan kepada Reyhan.

"Eh? Kau kenal Reyhan?" tanyaku.

"Lah, gimana sih Zain? Reyhan ini yang cetak dua dari tiga gol ke gawang kita. Mereka juaranya. Itu piala ketiga untuk Kijang tahun ini! Reyhan top scorer di setiap turnamen."

"Dan Zain satu-satunya yang mampu membobol gawang kami di turnamen itu. Kalian hebat!" Ucapan Reyhan membuatku tak karuan.

23 disukai 2 komentar 2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@jbenedictus : Udah nahan diri biar gak sombong, masih suka khilafπŸ™
Malu aku malu. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ udah PD, eh taunya
Saran Flash Fiction