Baju Pantas

"Ayah, segeralah mandi, sebentar lagi kita berangkat," ucap anakku.

Ah, iya, aku harus segera mandi.

Seisi rumah sudah hafal kelakuanku. Kalau belum disuruh tiga kali, belum beranjak ke kamar mandi. Hari ini cukup dua kali, aku sudah melesat ke kamar mandi di dalam kamarku.

Selagi mandi aku memikirkan baju yang nanti pantas dikenakan. Teringat baju terbaik, baru dibelikan istriku minggu lalu.

Selesai mandi, kucari baju itu. Di lemari kamarku takada. Sementara kusambar dulu baju lama, lalu keluar kamar menuju kamar anakku.

"Bajuku takada di lemari. Jangan bilang 'kalau cari pakai mata!'" aku mengomel sambil keluar kamar. "Ayah cari di lemarimu, ya, barangkali Bunda lupa memasukkan ke sana," ujarku pada anakku yang duduk di ruang tengah menghadap bundanya. Mereka hanya diam.

Lama kucari, tak kutemukan juga. Di tumpukan pakaian yang baru kemarin selesai disetrika pun takada.

Ibuku menyusul. "Sudah, pakai ini saja," ujarnya sambil menyodorkan baju warna putih.

"Aku mau pakai yang hitam, Ma. Bunda baru membelinya minggu lalu." Aku menepis sodorannya. "Sebentar aku tanya ke Bunda." Aku melangkah menuju ruang tengah.

Semua mata pelayat menatapku. Ibuku memeluk dari belakang. Anakku meraung memeluk jenazah bundanya.

67 disukai 18 komentar 11.4K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
sad banget. 😭 😭😭😭😭/😭😭😭😭😭 alias 4/5 dari aku. πŸ€—πŸ™
Ending yang menyedihkan 😭.
@tiranikukuh : Terima kasih sudah mampir baca, Teh πŸ™πŸΌ
A, jadi sedih.
@alwindara : Terima kasih sudah mampir, KangπŸ™
Aku juga nulis FF sedih sedih kak. Nasi pun bisa menangis . mungkin karena lagi musim buat kata kata puitis
@agunghutari : Iya kak. Saya melihat beberapa orang mengalami kejadian mirip ini. Terima kasih sudah mampir yaπŸ™
Ini sedih critanya kak
@kaanunun : Bisa jadi sudah pikun, sampai lupa kalau istrinya baru saja ...
Kupikir bapanya pikunan ternyata... Sedihh 😭
Saran Flash Fiction