ANAK-ANAK KONGLOMERAT

Romi, Ferry dan Sofyan telah bersahabat sejak kecil. Kemana-mana selalu bersama, sekolah di tempat yang sama, bermain bersama dan belajar bersama. Mereka semua adalah anak konglomerat yang tajir luar biasa. Mereka sering mendapat sebutan The Rich Child. Namun mereka harus berpisah karena masing-masing harus melanjutkan studi ke perguruan tinggi di universitas-universitas luar negeri sesuai keinginan orangtua mereka.

Romi melanjutkan kuliah di London. Ferry kuliah di New York. Sementara Sofyan kuliah di New Delhi.

Empat tahun pun berlalu. Mereka lulus kuliah semua. Persahabatan mereka tetap terjalin. Mereka sepakat untuk bertemu di Jakarta sesuai dengan waktu yang ditentukan. Akhirnya mereka bertemu di tempat dan waktu yang disepakati. Reuni anak konglomerat. Dan mereka sepakat untuk tidak menggantungkan masa depan kepada ayah mereka masing-masing.

Ferry menceritakan jika dia telah menghubungi beberapa pemilik perusahaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan usaha ayahnya.

"Semuanya sudah dapat pekerjaan, " kata Ferry.

"Hebat sekali kamu Fer, " puji Sofyan, "Jadi kamu bisa memilih bekerja di salah satu perusahaan itu, lengkap dengan kondisi sesuai yang kamu inginkan?"

"Bukan begitu maksudku, " sahut Ferry, " Yang kumaksud berhasil mendapat pekerjaan, justru semua perusahaan itu. Mereka langsung mendapatkan order dari ayahku begitu ayah mendengar aku melamar kerja pada mereka. Aku sih belum tertarik menerima kerja yang ditawarkan."

Sofyan dan Romi tertawa riuh.

"Hei kawan, itu sih sama dengan yang kualami, " ucap Romi terkekeh.

"Ayahku menganggap aku telah gagal di divisi pemasaran sehingga aku dipindah ke divisi teknis operasi." lanjut Romi.

"Wah, hebat kamu, luar biasa!" sahut Ferry.

"Sebenarnya aku masih heran waktu itu, kenapa ayahku menganggap aku telah gagal, sebaliknya aku merasa berhasil." keluh Romi.

"Mengapa bisa begitu?" tanya Sofyan penasaran.

"Waktu itu aku sangat antusias menerima order senilai sembilanratus juta, padahal ayahku memberi instruksi agar aku menerima order minimal sembilan juta." ucap Romi.

"Pasti ada yang salah nih, prestasi yang ambisius seperti ini kok dibilang sama ayahmu kamu telah gagal, aneh!" celetuk Ferry.

Romi terkekeh, "Ternyata ada yang terlupa, ayahku bicara dengan satuan dolar Amerika, sedangkan aku dengan satuan rupiah!"

"Wah, kalian hebat semua, berhasil bekerja di luar afiliasi ayah kalian semua. Aku minta sarannya dong, aku kan masih menganggur." ucap Sofyan.

"Fyan, kenapa kamu mesti bingung, kamu kan kuliah di New Delhi, kenapa nggak melamar jadi artis Bollywood saja!" celetuk Ferry yang disambut tawa Romi, sementara raut wajah Sofyan terlihat manyun.

"Kalau saranku, bilang saja kamu sudah siap menjadi penerus ayahmu di perusahaannya. Kamu pasti akan langsung diangkat jadi eksekutif dan gajimu jelas akan berlipat-lipat di atas uang sakumu semula... " ucap Romi.

Sofyan hanya bisa melongo sambil menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.

2 disukai 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction