TAHAN KOMENTAR

Merah ranum seperti apel. Cantik manis menawan hati....

Tak jemu Saroja binti Zamzani memandang jemari-jemarinya. Tak jua ia berhenti mengagumi. Seulas senyum menghias bibir. Bola mata berbinar cemerlang.

Tapi lalu, senyumnya lenyap, binar bola matanya padam. Bak angin puting beliung yang menerjang, Manikam istri Jasmani berseru senyaring petasan,"Cih, pasti kau tak shalat,kan? Mana boleh shalat pakai kuteks. Shalat mana sah!"

"Ingat hijab itu tak cuma pakaian. Tak hanya supaya cantik!" tambah Manikam dengan mata berkilat, bibir mengerucut sinis, memandang Saroja dari bawah ke atas. Dari atas ke bawah, lalu Manikam pergi sambil buang muka.

Oh...Em...Ji! Sungguh sungguh OMG! Saroja tertegun, ia speechless. Kok bisa ada manusia yang nyinyir seperti itu? Ia tidak kenal dekat dengan Manikam. Mereka jarang bertemu karena memang Saroja berkumpul dengan anggota blog Antariksa Pelangi hanya satu kali sebulan, di hari minggu, setiap minggu kedua.

Ia tahu Manikam itu kasir di minimarket Antariksa Pelangi, letaknya sebelah kiri dari restoran seafood Antariksa Pelangi dan Manikam bukan anggota blog. Perlu dicatat : BUKAN ANGGOTA BLOG!😡

Duh, Saroja betul betul kesal dengan kenyinyiran Manikam. Lebih kesal lagi kenapa juga ia speechless, harusnya tadi ia jawab : Memangnya kalau shalat harus lapor sama kamu! Memangnya kamu siapa? Polisi syariah? Kenapa sih nyinyir amat! Lagian ini bukan kuteks, ini...

Saroja menghela napas. Ia kok jadi angot. Lah, apa bedanya ia dengan Manikam?

(Kawanku, lihatlah betapa kejahatan bisa menular. Jadi janganlah berlaku macam Manikam istri Jasmani. Nyinyir. Tak mampu tahan komentar, tak mau bertanya dengan santun. Langsung nyolot tanpa cek and ricek.)

Saroja kembali menghela napas. Sabar. Sabar. Tenang. Tenang. Janganlah bara dalam hati ini membakar jiwa. 

Saroja menghembuskan udara lewat mulut, seolah sedang pernapasan yoga.

Tiba tiba ada tangan hangat menyentuh pundak kanannya. Ternyata Melati Hati, ia membawakan segelas air putih untuk Saroja. Lalu bicara dengan bahasa isyarat : Harap maklum, Uni. Kak Manikam itu memang manusia galau tingkat dewa. Semua orang jadi korban nyinyirnya.

Saroja tersenyum kaku karena hatinya masih dongkol. Usai minum mereka pun ke lantai dua, masuk ke dalam ruang makan VIP, tempat berkumpulnya anggota blog Antariksa Pelangi. Baru ada 2 orang selain mereka. Wan Husein yang sedang mengedit naskah dan Fressia yang asyik membaca novel dengan earphone terhubung ponselnya.

Saroja mengeluarkan dari tas belanjanya, 9 kotak henna aneka warna.

"Pesananmu yang warna pink, kan?" ujar Saroja pada Melati Hati.

Iya, Uni. Sama dengan Uni Adawiyah dan Verna. Melati Hati menjawab dengan bahasa isyarat.

 Bukanlah kuteks yang dipakai Saroja tapi henna. Henna ini bisa dibilang inovasi baru. Ada 12 warna pilihan, mulai dari original henna, sampai hijau juga ungu. Bahkan ada warna hitam. Gothic, kesukaan Nandini.

Tampilannya memang seperti kuteks, tapi dijamin halal. Sah dipakai shalat. Cara pakainya semudah kuteks.

Saroja tahu Strawbery Henna dari Saruni, kakak sulungnya. Lantas ia pun promosikan pada anggota blog Antariksa Pelangi.

Uni, apa satu kita kasih ke Kak Manikam? goda Melati Hati dengan bahasa isyarat.

 "Nggak usah. Ogah!" Saroja bersungut.

Melati Hati mengulum senyum, Wah, Uni masih jengkel ya? Jangan Uni, entar jadi jerawat lho....(dks)

 

3 disukai 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction