HUJAN DAN PELANGI

Hujan selalu punya celah untuk dicela.

“Hujan deras semalam membuat seluruh tanah mencelat dari pot-nya,” ujar Sadiah binti Zumar, ibundanya Saroja binti Zamzani.

“Hujan nggak niat. Cuma sebentar. Tak deras pula,” ujar Purnama, ibundanya Dahlia pada hujan yang terjadi seminggu yang lalu. Padahal itu adalah hujan yang akhirnya turun setelah lima belas hari kota ini panas gementang.

“Hujan deras tadi malam bikin aku takut. Gunturnya bersautan, kilat menyambar-nyambar. Semalaman aku jadi tak bisa tidur,” ujar ibunya Adawiyah.

Adawiyah, Dahlia, dan Saroja hanya bisa menghela napas mendengar celaan itu. Kenapa tak cukup berucap Alhamdulillah? Kenapa harus berlanjut dengan mencela?

Tapi tak pernah ada yang mencela Pelangi. Ia selalu dipuja. Padahal hujan itu nyata, bisa disentuh, dan berkah tak terkira. Sementara pelangi sesungguhnya hanya bayang cahaya.

Adawiyah, Dahlia, dan Saroja bukan tak suka pelangi. Mereka suka, hanya saja kenapa hujan selalu dicela?

“Itu karena kalian pecinta hujan,” kata Wan Ali. “Sudah biasa orang mencela hujan. Jangan terlalu sensitif, tanggapi saja dengan santai. Yang penting kan kalian tak pernah mencela hujan. Setuju?”

Adawiyah, Dahlia, dan Saroja hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Malas berkomentar lebih lanjut. (dks)

 

9 disukai 1.2K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction