Sudah tiga hari ini warung pecel lele milik Kang Leman ramai. Hal itu tentu menimbulkan tanda tanya. Sebab, biasanya warungnya sepi.
Terutama Zaki. Sebab kedai baksonya yang biasa ramai justru beberapa hari terakhir sepi. Zaki curiga, sebab sejak kedai sepi, mendadak warung Leman jadi ramai.
Ia pun searching di Google. Apakah ada pelet pemindah rezeki. Zaki memang percaya pada hal tak jelas seperti itu. Dia juga punya 'orang tua'. Istilah untuk paranormal keluarga.
Paranormal yang sebetulnya usaha jual jimatnya sedang down itu pun menyatakan, supaya jangan menjawab salam dari Leman. Karena sekali balasan salam didapat, maka rezeki Zaki akan berpindah kepada Leman.
Zaki yang mendengar itu langsung naik pitam dan mengatakan pada Mbah Pitoy, sang paranormal, supaya Leman diberi santet balasan. Mbah Pitoy menolak, karena 'orang tua' Leman satu perguruan.
Zaki yang merasa tak bisa menentang pada sang orang tua bertanya, apa yang sebaiknya tak dilakukan. Dan jawabannya membuat istri Zaki, Elva, yang juga ikut, sedikit keberatan. Mereka disarankan jangan menjawab salam dari Leman.
Elva menyampaikan keberatannya pada Zaki saat pulang, tapi tak digubris. Karena Zaki merasa, sebagai kepala keluarga, dia wajib dihormati, dan keputusannya mendengar Mbah Pitoy, absolut.
Esoknya, seperti biasa Zaki membuka kedai bakso. Pun Leman membuka warung pecel lele. Seperti biasa Leman kembali mengucapkan salam, Zaki berakting tak mendengar. Berlagak membersihkan gerobak dengan serius.
Sedangkan Elva yang baru datang dan melihat dari jauh serta mendengar, sebetulnya ingin membalas, hanya saja ia takut kena omel sang suami. Elva pun memilih untuk menjawab di dalam hati seperti yang diajarkan agama saat kecil.
Tapi, meski hari sudah hampir tengah malam, kedai Zaki tetap sepi, sedang sejak tadi pelanggan banyak yang singgah ke warung pecel lele yang dijalankan oleh Leman. Bahkan lima menit sebelum tutup pun masih ada pelanggan yang datang ke warung miliknya.
Zaki keheranan. Padahal saran dari orang tua keluarga sudah ia jalankan. Merasa curiga, ia pun mengintrogasi Elva, juga putri mereka, Amel. Dengan nada intimidasi, pria kurus yang sebetulnya mendapatkan usaha kedai dari warisan mertua, menanyai istri juga putrinya.
Elva menjawab memang ia mengucapkan salam, tapi belum selesai, perkataannya langsung dipotong tamparan Zaki. Amel hanya bisa tertegun. Ia yang lupa tadi menjawab salam Leman atau tidak, akhirnya mulai gugup.
Melihat kegugupan, tanpa ragu Zaki menendang kursi yang diduduki Amel. Amel jatuh dengan posisi duduk. Remaja putri 14 tahun tersebut pun menangis meraung. Elva berusaha membantu putrinya, namun baru bergerak sedikit, ia kembali ditampar oleh Zaki.
Leman merasa tak enak hati, karena pertengkaran terdengar sampai ke rumahnya. Sebab ia dan Zaki juga tetangga dempet rumah. Leman pun mencoba menghubungi beberapa kawan sekolah dan juga mantan rekan kerja almarhumah istrinya.
Isinya tentang promo keluarga dan sahabat terpaksa ia hentikan dulu. Supaya keluarga dan juga sahabat Leman, esok tak datang lagi. Ya, yang datang ternyata beberapa orang dekat Leman, dimana Leman sedang promosi.
Sekarang Leman bimbang, jika ia tak promosi lagi, tak ada kolega terdekat yang datang. Dan ia kembali kesulitan untuk kebutuhan harian. Apalagi Dini, sang putri, sedang sakit yang tak bisa dicover. Pun ia promosi supaya dapat uang cepat demi putri tersayang yang kian memburuk.
Tapi Leman bukanlah duda yang suka cari ribut, ia pun browsing internet, usaha apa yang sekiranya bisa dimulai dengan modal kecil. Ya, Leman sadar jika ia meneruskan membuka warung pecel lele, Zaki bakal tersulut lagi.
Memang belum Leman temukan malam itu, tapi ia percaya esok akan menemukan jalan. Sekarang Leman fokus untuk paling tidak memulihkan Dini dulu dari gejala. Tentu dari hasil penjualan selama ini, termasuk empat hari terakhir. Meski... Tentu tak cukup.
Leman tak dendam pada pikiran buruk Zaki. Ia memasrahkan semua itu pada Yang Kuasa. Leman tak berharap Zaki mendapat balasan. Ia hanya mengharapkan salam darinya bisa kembali Zaki balas. Kelak.
Lalu muncullah chat dari tantenya Leman. Isinya,
"Mau tante kenalin engga sama 'orang tua' tante? Namanya Mbah Pitoy"
Leman diam beberapa saat.
Lalu... Ia pun...