Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
21
Habib Gadungan Kena Azab Instan
Komedi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tertawa dalam hati, ketika seorang turunan Yaman yang mereka panggil Habib Bakar, mencoba merukiyah aku. Padahal aku hanya sedikit emosi, bahkan sudah cenderung sabar. Alasannya uang lemburku selama dua tahun belum pernah dibayar.

‎Aku yang mantan santriwati ini sebetulnya ingin sekali tertawa, habib abal-abal itu membaca doa dengan bahasa arab. Aku paham artinya, karena di pesantren pun aku belajar bahasa arab. Intinya ia hanya merubah doa yang aslinya bahasa indonesia, ke bahasa arab. Jelas itu tidak ada di Al Qur'an atau Hadits.

‎Wajahnya memang seperti orang arab. Sebelum habib gadungan itu datang, aku berdebat dengan orang tuaku. Aku sudah mengatakan dia memang berdarah arab, tapi Arab Yaman, bukan berasal dari Arab Saudi. Lagipula silsilah keturunan nabi banyak yang dipalsukan.

‎Orang tuaku tak percaya, bahkan aku yang berwajah mungil nan mulus ini digampar ayahku, sampai bermata biru. Entah apa yang besok aku katakan pada bos dan rekan-rekan kerja soal mata lebam ini.

‎Saat di awal habib palsu itu datang, bukannya menanyai keadaanku, ia malah membicarakan mahar. Sebuah bukti kalau ia memang gadungan. Dan 15 juta rupiah yang keluar dari mulutnya, yang sok memakai logat arab itu, makin meyakinkan keyakinan dan pengetahuanku selama ini.

‎Jempol kakiku dipencet-pencet dengan kasar, yang tentu orang normal pun akan berteriak kesakitan. Bahkan rambutku sampai digunting, yang tentu aku tak terima, karena itu mahkotaku sebagai wanita. Apa kata pacarku nanti kalo rambutku pitak.

‎Wajahku pun disemburnya. Aku yang sangat menjaga kecantikan kulit ini tentu naik pitam, kata binatang pun akhirnya keluar dari mulutku. Aku lupa kalau makianku itu, makin membuat keluargaku percaya kalau aku kerasukan jin.

‎Setelah itu aku kembali didoakan oleh doa karangannya sendiri. Aku melihatnya membaca beberapa kali, kemudian meludahkan dahaknya, ke dalam air putih, lalu aku disuruh meminumnya.

‎Aku tentu saja menolak. Gila aja, bisa sakit aku. Tapi orang tuaku memaksa sambil mengancam. Aku pun terpaksa meminumnya, dan setelah itu aku muntah. Wajar, karena aku merasa jijik. Tapi habib gadungan itu berkata pada orang tuaku, itu pertanda jin nya sudah keluar.

‎Rukiyah abal-abal pun selesai. Ayahku yang bekerja sebagai buruh pabrik, yang gajinya hanya satu juta delapan ratus per bulan, menyerahkan uang yang ia kumpulkan selama berbulan bulan. Kami sekeluarga kadang hanya makan dengan lauk garam atau ikan asin karena itu. Aku pun diminta patungan, dan ternyata uangnya masih kurang.

‎Asisten habib gadungan, yang aku hapal wajahnya karena pernah menjadi tersangka kasus curanmor, mengatakan masih kurang satu juta dua ratus. Ibuku pun menawarkan gelang emasnya, aku hendak melarangnya, tapi aku tahu, aku tidak akan didengar. Salah-salah aku bisa dituduh kerasukan jin lagi, dan orang tuaku makin banyak keluar uang.

‎Habib Bakar dan asistennya pun pamit, dengan mobilnya yang seharga milyaran hasil menipu umat muslim. Baru mobil berjalan beberapa meter, saat di tikungan, karena rumah kami sekeluarga di pinggir jalan raya, tiba-tiba mobil itu oleng. Habib Bakar meleng, setelah senyum-senyum sendiri melihat posternya yang begitu besar.

‎Mobil mewah Bakar pun menabrak mobil pickup yang mengangkut tabung gas. Mobil sang habib gadungan terbakar karena ledakan, dan membakar Habib Bakar serta asistennya. Ajaibnya bagian depan mobil pickup sama sekali tak terbakar. Dan supir pickup bisa keluar dengan selamat.

‎Sedang aku dan kedua orangtuaku, serta beberapa pengguna jalan hanya bisa melongo, ketika mendengar teriakan rasa panas dan terbakar dari Bakar serta asistennya.

‎Mau bagaimana lagi, kami tak bisa menolong, karena api sudah terlalu besar. Saat itu aku melongok ke dalam rumah, ternyata uang dan gelang emas ibuku lupa mereka bawa. Saat itu dalam hati aku berkata, "Alhamdulillah."

‎Aku pun melihat mobil mewah serta Bakar dan asistennya masih terbakar, teriakan mereka sudah tak terdengar lagi. Mereka berdua telah tewas. Saat itu aku yakin Allah tidaklah tidur, dan menjaga umatnya yang tertindas dari tipu daya setan. Terutama setan berwujud manusia, salah satu contohnya, Bakar dan juga asistennya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi