Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
13
Menit-Menit Genting
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Mobil bak masuk ke pelataran rumah sakit, supirnya terlihat terburu-buru sedangkan tangis bercampur kekhawatiran dan ketakutan besar tumpah ruah, Udin si supir berkeringat dingin, ia pun memarkir mobilnya asal asalan, kemudian dia dengan sigap segera berlari ke bagian belakang mobil, terlihat Yudi sudah bersimbah darah, kondisinya memprihatinkan, pingsan dan mengeluarkan suara dengkur, liur menetes dari kedua sisi bibirnya. Rosa, istri Yudi, yang sejak tadi menangis berusaha membantu Udin untuk membopong tubuh suaminya tersebut, sambil berusaha membopong Udin berteriak memanggil perawat atau dokter jaga, tapi tidak ada respon sama sekali. Merasa lama direspon padahal kondisi Yudi amat kritis, Udin pun masuk ke dalam dan meminta agar Rosa menunggui suaminya itu.

Di dalam ia disambut resepsionis yang mencoba ramah namun ramah formal, ia menyatakan adiknya mengalami kecelakaan berat dan saat ini sedang bersama iparnya menunggu penanganan medis darurat, tapi entah tidak punya empati atau apa, setelah tahu Yudi tidak punya BPJS, sang resepsionis justru meminta agar Udin mengisi formulir dulu, Udin pun mau tak mau mengisinya, dia tak mau ribut, mengira setelah mengisi formulir adiknya akan segera ditangani, tapi resepsionis tersebut hanya bilang tunggu dan ia santai menekan beberapa nomor seolah tidak terjadi apa apa.

Sudah sekitar tiga menit Udin menunggu, karena sudah terlalu lama, Udin pun bertanya apakah dokternya sudah siap, namun resepsionis tersebut hanya mengangkat tangan ke arahnya sambil terus bertelepon, Udin yang tidak mau cari ribut pun diam, waktu sudah berjalan lima menit, resepsionis tersebut selesai menelepon, Udin pun menanyakan apakah adiknya sudah bisa ditangani, tapi justru jawaban menohok diterimanya. Resepsionis tersebut berkata dokter jaga sedang beristirahat, ia meminta Udin memberinya waktu karena hanya ada satu dokter jaga malam itu dan dokter tersebut baru saja beristirahat sekitar dua puluh menit, dengan santainya sang resepsionis berkata lebih baik Yudi dimasukkan ke dalam dulu, saat ditanya oleh siapa dengan santai si resepsionis menjawab agar Udin membawanya sendiri.

Udin yang tak mau cari ribut karena keadaan sudah genting pun segera berlari menuju ranjang dorong yang ada di dekat situ, Ia sendiri melakukannya, tanpa satpam atau siapapun yang membantu, sebab kondisi ruangan tersebut kosong melompong, hanya ada dirinya, si resepsionis, serta si satpam dan seorang office boy yang entah kenapa sejak awal kedatangan Udin langsung buru buru pergi ke lantai dua, Udin tadi sempat mendengar keduanya menganggap enteng dan berkata paling hasil dari kebut-kebutan dan sekarang konsekuensi sedang ditanggung, ucapan mereka berdua diakhiri tawa tanpa perasaan.

Dengan sangat sigap dan cepat Udin berlari mendorong keranjang dorong, ia sendirian membuka pintu rumah sakit yang besar dan berat itu, kemudian mendorong kembali ranjangnya dan segera menghampiri Yudi dan Rosa. Tapi kenyataan pahit yang ia terima, Dengan isak sesak Rosa berkata Yudi telah menghebuskan nafas terakhir, pria paruh baya yang mengalami kecelakaan saat hendak pulang setelah ngojek tersebut telah tiada sekitar dua menit yang lalu, Udin menunduk, hatinya amat hancur, ia tidak bisa berbuat apa apa lagi, ia masuk ke mobil, kemudian dengan hati yang remuk redam mengendarai mobil bak nya untuk pulang, ia berniat segera mengabari rt dan rw serta warga desa untuk segera melakukan pemakaman Yudi dan segala jenis prosesnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi