Wahyu masih menonton televisi. Ia terlihat cemas. Bagaimana tidak? Putranya, Alfin, belum ada kabar sejak dua hari lalu.
Sedang televisi menyiarkan demo di berbagai wilayah yang sudah berlangsung selama beberapa hari. Wahyu yang duda cerai tersebut berdoa, memohon pada yang kuasa, supaya putranya selamat.
Dalam doanya ia mulai membayangkan putranya dulu. Dimana bersama sering melewati jembatan tak layak dengan arus sungai yang sangat deras.
Wahyu juga mengingat, saat masih sangat kecil, Alfin takut melewati jembatan sehingga harus digendong Wahyu. Dan setelah memasuki sekolah dasar Alfin mulai memberanikan diri lewat tanpa bantuan sang ayah.
Alfin sudah ditinggal ibunya yang menikah lagi dengan orang terkaya di kampung sejak bayi. Jadi ia tak punya ikatan dengan wanita yang telah melahirkannya tersebut. Dan memang, sang ibu juga tidak peduli.
Wahyu yang memutuskan tidak akan menikah lagi setelah bercerai tersebut nekat menjemput Alfin. Setahu dia Alfin ada di sekitar gedung dewan perwakilan rakyat.
Namun untuk sampai ke jalan raya, Wahyu harus melewati jembatan yang dulu sering ia lalui bersama Alfin. Tapi tanpa firasat apapun, Wahyu hilang keseimbangan. Ia jatuh, terbawa arus deras. Karena tak bisa berenang ditambah panik, pria asal Solo tersebut tenggelam. Tewas.
Tak ada yang menolong karena kala itu sepi, warga lainnya lebih memilih jalan memutar karena punya motor.
Sedangkan Alfin sendiri ada di Polsubsektor Palmerah. Ia ditahan atas dasar melempar bom molotov ke halaman gedung dewan. Selama interogasi Alfin memang tidak dipukuli, tapi ia disiksa secara mental.
Sudah empat hari Alfin sendirian di kantor polisi, karena para rekan demo sudah dijemput satu persatu. Alfin sadar alasannya.
Ia tahu ayahnya tak punya uang untuk ongkos menjemput dan dirinya juga menyadari sang ayah tahu bagaimana kondisi saat ia. Tapi yang tak Alfin tahu, Wahyu meminjam uang salah satu tetangga untuk menjemput, tapi berakhir tewas tenggelam.
Alfin tahu dia akan dipenjara, mungkin delapan sampai sembilan bulan. Ia tahu masa depannya sudah hancur. Mana ada perusahaan yang mau menerima mantan napi.
Pemuda 20 tahun itu pun berniat memohon maaf pada ayah nya, karena selama ini hanya bisa mengecewakan. Tanpa tahu ayahnya telah tenggelam, Alfin bertekad untuk bersujud pada sang ayah, kemudian mencuci kakinya sebagai bentuk bakti, jika sudah bebas nanti.
Berniat setelah bebas, akan merawat Wahyu semaksimal mungkin. Karena sejak bayi sampai menjadi mahasiswa, hanya Wahyu seorang diri yang mau merawat.
Sebulan kemudian Alfin masih berpikir positif meski ayahya tak kunjung datang selama ia disidang. Bahkan setelah setengah hukuman dijalani ia masih positive thinking.
Tapi kemudian tetangga yang dulu meminjami Wahyu uang menjenguk. Pria asal Siantar bernama Hendra menyatakan Wahyu tidak lagi nampak setelah meminjam uang dua ratus ribu untuk pergi ke sekitaran jalan DPR, demi menjemput Alfin.
Warga sudah mencari. Tapi hasilnya nihil. Alfin kemudian bertanya kenapa warga tak mengabari dirinya dari dulu. Hendra menjawab, masyarakat jaman sekarang cenderung individualistis.
Ia sendiri pun mengaku seperti itu, makanya baru menengok Alfin sekarang. Pun pencarian Wahyu, dilakukan apa adanya. Hendra sedikit menyindir para tetangga. Jika Wahyu orang berduit mungkin mereka akan lebih peduli.
Menyatakan watak banyak orang negatif. Dimana mereka mau tulus membantu asal dengan syarat dibayar demi kebutuhan perut. Sedangkan warga sama sekali tak dibayar saat pencairan Wahyu, ditambah tak viral. Membuat mereka setengah hati membantu.
Hendra pamit. Sebelumnya ia menyatakan jika pemerintah dan anggota dewan bekerja lebih baik, sikap individualistis warga kemungkinan tak akan pernah ada. Mereka seperti itu karena sudah memperhitungkan semua. Semua demi keluarga di rumah.
Alfin mengangguk. Kemudian menerawang ke arah seorang sipir yang terlihat garang, namun semalam curhat pada sipir lainnya, jika rumahnya akan digusur dengan alasan tak jelas.
Alfin sadar negara kini sedang dicerabut, dan ia sadar siapa saja yang paling bertanggungjawab.
Alfin pun berniat solat ashar, waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Ia berniat mendoakan ayahnya yang setahu ia entah kemana. Berharap Wahyu suatu saat muncul dan menengok. Sebab Alfin tak pernah tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada sang ayah.