***
“Kamu terluka?” Kailana Akasha menghampiri seorang anak perempuan yang sedang menangis sendirian.
Anak perempuan itu menggeleng.
“Orang tua kamu di mana? Kenapa kamu sendirian?” tanya Kailana.
Alih-alih menjawab anak kecil itu menangis lebih keras.
Kailana melihat sekitar mencari petunjuk atau mungkin bantuan lain. Orang-orang angkuh, mereka hanya berjalan menuju tujunya, tak memedulikan orang lain.
“Mau permen, nggak? Kakak punya permen, nih.” Kailana mengeluarkan beberapa jenis permen yang selalu ada di tasnya. “Kamu suka yang mana? Manis atau asam?” tanya Kailana.
Rayuannya tidak dihiraukan. Sang anak terus menangis.
“Kakak temanin, ya. Bahaya kalau kamu sendirian di sini. Nama kamu siapa?”
Dan lagi, tak ada jawaban yang diterima Kailana.
“Aku Kailana Akasha.”
Kali ini, ia menoleh pada Kailana yang duduk di sampingnya. Tangisnya berhenti, ia menatap Kailana yang juga sedang menatapnya.
Kailana tersenyum, “Nama kamu siapa?”
Anak kecil itu memeluknya erat seakan takut ditinggalkan.
Kailana membalas pelukannya. Pelukan itu berlangsung lebih lama daripada yang Kailana bayangkan.
“Kamu gapapa?”
“Aku nggak mau ada di sini.” Anak itu akhirnya berbicara.
“Terus kamu mau ke mana? Rumah kamu di mana?”
Anak itu menggeleng, “Aku nggak punya rumah.”
“Orang tua kamu ada di mana?”
“Aku nggak punya siapa-siapa.”
“Terus kamu tidur di mana selama ini?”
“Di rumah.”
Bukannya tadi dia bilang nggak punya rumah? pikir Kailana.
“Yaudah, kamu ingat alamat rumah kamu nggak? Kakak antar ke sana.”
Ia menggeleng lagi dan memeluk Kailana lebih erat, “Jangan tinggalin aku. Aku nggak mau sendiri di sini.”
“Kakak nggak akan ninggalin kamu sendiri, tenang yaa.”
Telepon polisi aja kali, ya? Siapa tahu ada laporan anak hilang.
Saat Kailana mengeluarkan ponselnya, anak itu melepas pelukannya dan berlari menuju taman besar yang ada di sebelah kanan tempat mereka berdiam.
“Eh, tunggu,” Kailana mengejarnya.
Taman ini cukup luas dibandingkan taman pada umumnya, dilengkapi ayunan, serodotan, dan jungkat-jungkit. Tulip berwarna-warni yang mengelilinginya juga membuat taman ini terlihat semakin cantik.
Anak perempuan itu berhenti di pohon paling besar yang menaungi ayunan berkapasitas dua orang. Ia memutar tubuhnya, menghadap Kailana yang sedang berlari ke arahnya.
Setengah berteriak, ia bertanya pada Kailana, “Kita pergi dari sini, yuk. Kamu juga nggak bahagia, kan, sama hidup kamu?”
Pertanyaan anak itu membuat Kailana menghentikan langkahnya.
Kailana lupa alasan dia kembali ke sini, lingkungan tempat tinggalnya saat ia masih kecil, tempat semuanya bermula.
Kailana kini melangkah perlahan menuju anak itu.
“Kamu juga kesepian, kan?” tanya anak itu lagi.
Setelah tak ada lagi jarak di antara mereka, Kailana berlutut, menyejajarkan dirinya dengan anak itu, lalu memeluknya. Kali ini, Kailana yang memeluknya erat, sangat erat seakan dekapan adalah satu-satunya hal yang sangat ia inginkan di dunia ini.
Sebelah tangan Kailana mulai mengelus lembut rambut anak perempuan yang sedang dipeluknya, ”Kai, hidup bareng aku aja, ya? Lepasin mereka. Dengan atau tidak adanya cinta dari mereka, aku mau hidup sama kamu. Aku mau kita bahagia dan meraih segala.”
Anak itu melepaskan pelukan Kailana, “Nggak, aku nggak mau. Aku nggak suka ada di sini. Semua orang punya apa yang mereka mau, terus aku? Kenapa aku nggak punya siapa pun? Apa karena aku bukan anak yang baik?”
Ia mulai menangis lagi.
“Enggak, Kai. Ini semua bukan karena kita baik atau jahat.”
“Terus apa? Kenapa aku sendirian di sini? Kenapa mereka punya orang lain di samping mereka sementara aku selalu sendiri?”
Saat tangisannya mengencang, Kailana kembali memeluknya.
“Aku nggak mau di sini. Aku mau pergi.”
“Kai, kita jalanin sama-sama, ya. Aku kesepian tanpa kamu. Maaf, aku ninggalin kamu sendirian selama ini. Maaf, aku selalu menolak keinginan kamu. Maaf, membuat kamu percaya bahwa apa yang kamu inginkan nggak berarti, nggak layak.
Aku salah selama ini. Aku pikir semakin aku menyenangkan mereka terlebih dahulu, mereka akan lebih sayang dan perhatian sama aku. Ternyata enggak. Yang aku sadari adalah ternyata bagaimana seseorang bersikap ke kita itu bukan berdasarkan kita baik atau jahat ke orang itu, tapi benar-benar tentang bagaimana perasaan mereka ke kita.
Dan selama ini aku ninggalin kamu. Aku buang kamu karena aku ingin mendapatkan cinta dari mereka. Sekarang aku ingin cinta kamu, Kai. Aku nggak mau ngebuat kamu sedih lagi, berharap sama orang lain yang akhirnya bikin kamu kecewa.”
***
Dinginnya air laut dan hantaman ombak mengombang-ambingkan tubuh kecilnya. Kegelapan mencoba menyelimuti dirinya yang selalu memerlukan kehangatan.
Demburan ombak yang semula memenuhi telinganya kini berganti dengan suara derap langkah. Kailana Akasha kembali tersadar setelah mencoba menenggelamkan diri di laut.
***
Setelah tangisnya mereda, Kailana menatap diri kecilnya lekat-lekat.
“Kai, temani aku hidup, ya, sampai selamanya, sampai kebahagiaan kita di Bumi habis.”
--END--
-24-