Resiko

Mark kembali update arah dan kecepatan angin. Tidak jauh berbeda, tapi dia tidak mau ambil resiko. Kelalaian kecil bisa menentukan antara gagal dan berhasil, antara hidup dan mati. Ia putar knop di teropong senapannya menyesuaikan dengan angka yang baru. Targetnya akan berada di jarak dua ratus meter. Peluru kaliber lima puluh akan memerlukan dua detik penuh untuk mencapai target; jeda yang bisa memberi peluang intervensi apapun. Untuk saat ini, variabel yang bisa ia ukur hanya angin.

Matanya memicing, meneropong lensa, memberinya pandangan dekat trotoar Wilshire Boulevard yang menembus Taman MacArthur. Los Angeles masih tenang. Jam sibuk tidak lama lagi dan targetnya akan lewat di sana sebagaimana biasa.

Targetnya bernama Richard Boone, lima puluh tahun dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter. Kliennya minta secara spesifik dia mati di pinggir jalan--semacam pesan tersembunyi yang ia tidak tahu.

Headset di kepala Mark berbunyi.

“Target sedang bergerak. Stand by.” 

Mendengar itu Mark bisa bayangkan tubuh atletis Richard Boone telah terbalut sweater abu-abu, celana training hitam dan sepatu lari hitam. Turun dari tangga gedung apartemen di 6th Street. Ia akan jogging ke tempat kerjanya di bilangan Korea Town. Ia seorang pengacara yang sedang dalam misi menjadi Walikota Los Angeles, dan itu memprovokasi seseorang menyewa jasa Mark.

Mark sendiri tidak sembarangan menerima pekerjaan. Dari file yang ia dapatkan, Richard adalah mantan marinir yang telah dua kali tur ke Afganistan dan Irak. Sang target tahu resiko memilih jalur karir militer. Death always loom the path of a warrior. Itu sudah cukup buat Mark untuk menerima pekerjaan itu. 

“Target terlihat,” ucap Mark pada headsetnya. 

“Roger.”

Teropong senapan mengikuti arah targetnya berlari. Konstan dan terukur. Picu siap ditekan. Namun mendadak targetnya hilang. Mark terkesiap dan merunut teropongnya mundur. Ia lihat tergetnya berhenti berlari. Matanya sesaat terlepas dari teropong untuk melihat pemandangan utuh dari targetnya. Ia melihat targetnya berhenti karena membantu seorang tunawisma tua menyeberang jalan. Jalan sebenarnya masih sepi, tapi targetnya tergerak untuk membantunya. 

Mark tersenyum, lalu bicara ke headsetnya, "Batalkan kontrak."

"A-apa? Kamu serius? Klien tidak akan suka, kamu tahu itu?"

"Aku bisa ambil resiko itu."

"Well, kamu yang rugi."

Mark matikan headsetnya sambil menatap Richard yang kembali meneruskan joggingnya.

"Tidak, kawan," gumamnya, "aku sedang berinvestasi...."

6 disukai 1.5K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction