Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
10
Black Horizon
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Los Angeles malam itu penuh sesak.

Arena konser Black Horizon telah dipadati ribuan penggemar. Tiket habis terjual, dan sebagian besar penonton adalah perempuan yang sejak sore memenuhi area sekitar panggung. Lampu kota berkilauan, suara musik terdengar dari dalam arena, sementara teriakan para penggemar semakin keras ketika nama Jason dan Sammy mulai disebut.

Di belakang panggung, dua sahabat itu bersiap.

Jason dan Sammy mengenakan pakaian yang hampir sama. Kaos hitam, jins hitam, sepatu hitam, serta tato yang memenuhi lengan mereka. Rambut keduanya memiliki warna berbeda pada bagian belakang, membuat penampilan mereka semakin mencolok di bawah sorot lampu.

Mereka memang terlihat seperti dua bintang rock yang sulit disentuh dunia.

Tetapi bagi mereka, panggung adalah rumah kedua.

Ketika lampu padam, Jason dan Sammy muncul.

Arena langsung bergemuruh.

Jason mengangkat mikrofon, sementara Sammy berdiri di sampingnya. Begitu musik pertama dimainkan, keduanya langsung menguasai panggung. Suara mereka berpadu, langkah mereka mengikuti irama, dan ribuan penonton ikut bernyanyi.

Jason sesekali menggoda Sammy dengan gerakannya. Sammy membalas dengan senyum dan gelengan kepala. Persahabatan mereka terlihat jelas, bahkan tanpa banyak kata.

Lagu pertama selesai.

Tidak ada waktu untuk beristirahat.

Lagu kedua langsung dimulai.

Kali ini suasananya lebih liar. Jason bergerak ke ujung panggung, Sammy mengambil sisi lainnya. Mereka saling memberi ruang, kemudian kembali berdiri berdampingan ketika bagian terakhir lagu tiba.

Suara mereka berpadu dengan suara ribuan penonton.

Untuk beberapa saat, Jason dan Sammy berhenti bernyanyi.

Mereka membiarkan penonton mengambil alih.

Arena berubah menjadi lautan suara.

Ketika lagu berakhir, keduanya membungkuk bersama. Keringat membasahi wajah, tetapi tidak ada tanda-tanda kelelahan yang berarti.

Mereka masih tersenyum.

Dua lagu saja, tetapi cukup untuk membuat Los Angeles mengingat malam itu.

Setelah turun dari panggung, Jason dan Sammy masuk ke ruang belakang. Seorang kru memberikan dua cangkir jahe hangat.

Mereka duduk berdampingan sambil menikmati minuman itu.

Dulu, setelah konser, mereka biasa mencari soda.

Sekarang jahe hangat menjadi pilihan mereka.

Semua gara-gara Martha.

Jason tersenyum ketika mengingat istrinya.

Sammy hanya tertawa melihatnya.

Sammy sudah merasa cukup dengan satu anak. Baginya, satu anak saja sudah membuat hidup penuh warna.

Jason berbeda.

Ia sudah memiliki lima anak, dan masih saja menjadi lelaki paling bucin ketika menyangkut Martha.

Mereka berbeda, tetapi justru itulah yang membuat persahabatan mereka tetap kuat.

Jason adalah lelaki yang mudah terbawa perasaan.

Sammy lebih santai.

Jason punya lima anak.

Sammy merasa satu sudah cukup.

Namun ketika berada di atas panggung, mereka menjadi satu kesatuan.

Tidak peduli berapa banyak penggemar yang meneriakkan nama mereka, tidak peduli seberapa besar panggung yang mereka hadapi, Jason dan Sammy tetap dua sahabat yang tumbuh bersama dari mimpi kecil hingga berdiri di hadapan ribuan manusia.

Malam semakin larut.

Lampu arena mulai padam satu per satu.

Para penggemar pulang membawa kenangan tentang dua lagu yang mereka dengar malam itu.

Sementara Jason dan Sammy berjalan keluar dari ruang belakang dengan cangkir jahe hangat yang sudah kosong.

Mereka masih tertawa.

Masih bertenaga.

Dan masih memiliki perjalanan panjang bersama Black Horizon.

Sebab bagi mereka, panggung boleh berakhir malam ini.

Tetapi musik mereka belum selesai.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi