Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
4
Dia Namanya Anto
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

    Bibi sedang memakan ayam goreng di rumahnya yang sepi, tetapi beberapa suara hembusan di sekitar merangkap ke dalam telinga seperti sejumlah lembaran yang akan tengah dibawa. Lalu, suara ketukan pintu menjatuhkan lembaran tersebut. Dan ayam goreng Bibi pun meloncat dari mulutnya. Tulang dengan sisa daging itu, beristirahat di permukaan piring.

  Bibi beranjak ke pintu utama rumah panggungnya. Langkah sedikit terseok-seok akibat terlalu lama duduk dengan kaki terlipat di lantai. Ototnya belum sempat terenggang. Dan harus berjalan agak sedikit terbirit-birit karena suara ketukan itu berlangsung sengit. Lalu, sedetiknya, pintu pun terbuka. Tatapan Bibi yang semula tidak ada sorot memaknai apapun, menjadi senja tengah menuntut paruhnya.

  "Ibu, jenengan masih ingat saya?"

Dia adalah anak yang Bibi kasih makan dengan ayam goreng dan ikan asin tetapi berujung menghanyut ke dalam sungai. Bibi tidak tahu mengapa anak itu tidak menyelesaikan makanannya, justru bermain ke dalam sungai dan hanya mengikuti arus derasnya sungai. Bibi tidak bisa berteriak melainkan matanya sudah terlanjur penuh pecahan. "Ibu, masih ingat Anto?" tanyanya lagi. Sosok di dalam pakaian bersih, berkemeja. Tubuhnya menjulang tinggi. Anak itu sudah besar. Tampak tidak sekurus dahulu. Pipinya bersih, putih. Matanya mengkilat syahdu. Potongan rambut dahulu yang pendek serta tipis, menjadi riak-riak tebal, menggemaskan. Bibi ingin membelai rambut itu.

Sayangnya, tubuh Bibi masih menjadi benang kisut. Kepalanya membubung entah ke mana. Di tempatnya, Bibi hanya bisa mendoakan sosok anak itu bisa hidup tentram bahagia.

   Bibi tersenyum, Bibi menutup mulutnya. Perlahan, matanya berair lalu menetes hingga menjadi pusaran para buaya.

Anto ikut tersenyum, menyadarkan Bibi untuk sesuatu hal di balik sungai itu.

Bibi mengernyitkan dahi, dan berbicara sendiri.

  "Anto! Baju kecilmu kan masih ada di sungai itu! Di tanah sungai itu, loh, Anto!" Bibi menjerit seketika. "Aku ambilkan dulu, sebentar!" Dengan cucuran air mata, Bibi menoleh ke belakang. "Inyong! Jaga rumah! Aku mau ke sungai dahulu!" lanjutnya. Dan suara dari dalam rumah sesaat menyahut.

"Ngapain Bi ke sungai? Udah malam."

Bibi tampak kebingungan untuk melakukan apa terlebih dahulu.

"Bentar, cari sendalku," katanya pada diri sendiri dengan mata yang menjalar ke lantai kayu. Anto sendiri hanya diam dengan wajah tak kalah bingungnya.

  "Bibi mau ngapain?" Sosok bertelanjang dada dengan mengalungkan sarung itu muncul, dan mengerutkan dahi ke arah Bibi yang terlihat aneh.

Bibi segera mengenakan sendalnya di sudut ruangan, dan menoleh ke Inyong yang hanya diam, termenung ke arah Bibi.

  "Aku mau ambil bajunya Anto, kata dia, namanya Anto. Bukan Iyan," ucap Bibi lalu meraih selendang di gantungan dekat pintu. Inyong diam saja, menatap Bibi. Bibi segera menjubahkan kepalanya dengan selendang. "Aku kembalikan ke Anto, mumpung warga tidak ada ke sungai, dan bilang dia namanya Iyan."

  Inyong segera mengedipkan mata saat Bibi beranjak keluar dari rumah panggung. Lantas, bersuara. "Bibi!"

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)