Matahari di atas langit kabupaten siang itu terasa sangat terik, memancarkan hawa panas yang membakar ubun-ubun kepala. Jarum jam dinding di ruang kelas baru saja melewati angka dua, menandakan bel panjang tanda pulang sekolah telah selesai berkumandang dengan nyaring. Suara riuh rendah dari ratusan murid langsung pecah, berhamburan keluar melewati pintu gerbang besi besar yang dipenuhi karat. Halte bus pojok sekolah, begitu orang-orang biasa menyebutnya. Sebuah struktur bangunan yang terbuat dari beton tebal bergaya arsitektur lama dengan atap asbes yang sudah retak di beberapa sudut. Dinding bangunan itu tampak sangat kumal, penuh dengan coretan spidol permanen, bekas tipe-x, dan goresan benda tajam hasil perbuatan para murid dari berbagai angkatan.
Tiga orang anak berjalan beriringan menuju ke arah halte tersebut dengan langkah yang tampak sangat lambat, seolah kaki mereka terbebani oleh rasa lelah dan gerah setelah seharian belajar di dalam kelas. Seragam putih-abu-abu yang mereka kenakan sudah tidak lagi rapi. Dasi sekolah sudah dilepas dan dimasukkan ke dalam saku celana, sementara bagian punggung baju mereka tampak basah oleh keringat hingga menempel ketat pada kulit. Dimas berjalan di sisi paling kiri, sesekali menendang batu kerikil kecil di sepanjang jalanan dengan sepatu hitamnya yang sudah mulai memudar warnanya menjadi keabu-abuan akibat debu jalanan. Di posisi tengah, Gani berjalan sambil sibuk memutar-mutar antena pada handphone milik ibunya yang diam-diam dia bawa ke sekolah hari ini, sebuah ponsel layar monokromik yang sangat populer di zaman itu. Sementara di sebelah kanan, Bayu berjalan dengan sangat tenang, menenteng sebuah tas ransel berbahan kain lusuh yang tampak sangat berat, membuat bahunya agak turun ke bawah.
Hari ini panasnya benar-benar parah sekali, tidak masuk akal, kata Gani sambil menyeka keringat yang mengalir di lehernya menggunakan selembar sapu tangan handuk kecil yang sudah kusam warnanya. Bisa gosong berdiri kita di sini kalau bus kotanya sampai terlambat lagi seperti kejadian kemarin sore. Dimas mendengus pelan, matanya menyipit mencoba menembus fatamorgana panas yang tampak bergoyang di atas permukaan aspal jalanan kabupaten yang sepi. Mau bagaimana lagi, namanya juga bus jam pulang sekolah, Gani. Paling tidak mereka pasti berhenti lama dulu di depan pasar induk untuk mencari penumpang para pedagang.
Mereka bertiga akhirnya melangkah masuk ke dalam area bangunan halte beton tersebut. Suasana di dalam halte tua itu terasa sedikit lebih sejuk dibandingkan dengan jalanan terbuka di luar. Halte pojok itu siang ini benar-benar terasa sangat sepi dan mati. Gani langsung mendudukkan dirinya di atas bangku semen panjang yang berada di dalam halte, diikuti oleh Dimas yang langsung menyandarkan punggungnya pada dinding beton. Sementara itu, Bayu memilih untuk tetap berdiri di dekat tiang besi pembatas bangunan halte yang sudah berkarat.
Saat Dimas hendak meluruskan kedua kakinya untuk melepaskan rasa pegal, pandangan matanya menangkap sebuah benda yang terletak di sudut paling ujung dari bangku semen tempat mereka duduk. Benda tersebut tampak terselip dengan sangat rapi di antara retakan beton kuno dan salah satu cabang akar pohon beringin tua yang menyembus masuk melewati sela-sela dinding belakang bangunan halte. Amplop itu tampak sangat rapi, lurus, dan sama sekali tidak terkena percikan tanah, seolah-olah baru saja diletakkan di tempat tersebut beberapa menit sebelum mereka bertiga tiba di sana. Di bagian depan amplop putih yang misterius itu, terdapat sebuah tulisan menggunakan tinta pulpen berwarna hitam pekat dengan gaya tulisan tegak bersambung yang sangat rapi dan beraturan. Tulisan di atas amplop tersebut membentuk sebuah nama yang sangat mereka kenal yaitu Untuk Bayu.
Dimas seketika mengernyitkan dahinya dengan dalam. Eh, Gani, coba kamu lihat ke arah sebelah kanan kamu. Itu di sudut bangku ada benda apa? Gani menolehkan kepalanya ke arah sudut yang ditunjuk oleh jemari Dimas. Ada apa memangnya? Jangan mencoba membohongiku ya. Aku serius, itu ada sebuah surat. Coba kamu ambil dan lihat sendiri, kata Dimas. Gani kemudian menjulurkan tangan kanannya, menjepit ujung amplop putih bersih tersebut dengan menggunakan dua jarinya, lalu mengangkatnya ke atas dengan gerakan penasaran. Matanya seketika melebar dengan sangat jelas saat membaca baris tulisan tangan yang tertera di permukaan amplop kertas tebal itu. Wah, ini aneh sekali. Bayu, coba kamu lihat ini! Ini ada sebuah surat khusus buat kamu! Luar biasa, ada orang yang sengaja menaruh surat misterius di halte ini untuk kamu. Tulisan tangannya sangat rapi dan bagus sekali, mirip dengan tulisan tangan guru kita. Mendengar namanya disebut, seluruh otot di tubuh Bayu mendadak berubah menjadi sangat kaku seperti batu. Dia membalikkan posisi badannya dengan cepat, memandangi amplop tersebut.
Gani segera mengambil amplop misterius itu lalu menyerahkannya kepada Bayu yang seketika sudah tampak pucat pasi. Dengan tangan gemetar, Bayu merobek ujung amplop itu dan membaca secarik surat kasir lama bergaris ganda merah. Tulisan tegak bersambung hitam di dalamnya berbunyi sangat tegas menghunjam jantung: Aku tahu apa yang kamu lakukan Jumat sore lalu di jembatan gantung sungai barat. Baju pramukamu yang ternoda darah sudah kamu kubur, tapi mataku tidak bisa dibohongi. Rumah hijau pojok desamu akan jadi tempat peristirahatan terakhirmu jika tidak menemuiku di sini besok malam.
Napas Bayu memburu hebat, dadanya naik turun tak beraturan menahan ngeri. Dimas dan Gani memandangnya penuh curiga serta takut. Kamu benar-benar pergi ke jembatan gantung itu, Bay? tanya Dimas berbisik pelan. Tiba-tiba, keheningan halte pecah oleh bunyi langkah kaki berat yang terseret dari balik tembok beton belakang halte. Aroma melati layu mendadak menyeruak pekat menyengat hidung mereka, disusul munculnya siluet bayangan hitam jangkung tak wajar merayap di lantai semen.
Lari, cepat lari! teriak Gani histeris. Dia langsung melompat keluar bersama Dimas, melarikan diri sekencang mungkin menyusuri jalan kabupaten tanpa menoleh lagi ke belakang. Kini hanya tersisa Bayu sendirian, kakinya kaku membeku bagai terpaku dalam semen halte yang pengap.
Tepat saat bayangan itu mendekat, selembar kertas kecil jatuh dari atap seng yang bocor. Di atasnya tertulis kalimat tinta basah: Temanmu tidak akan bisa menolongmu. Aku sudah di sini dari tadi. Detik berikutnya, sebuah bisikan anak kecil sedingin es terdengar tepat di belakang daun telinga kiri Bayu: Ayo kita pulang sekarang. Bayu terkejut menyadari bahwa beberapa jenis rahasia kelam masa lalu tidak pernah benar-benar terkubur aman dalam tanah, melainkan terus berjalan mengikuti langkahmu dari balik kegelapan malam tanpa pernah kamu ketahui dengan pasti siapa pelakunya yang sebenarnya.