Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
11
Siasat Prank Ulang Tahun di Kantin Sekolah: Misteri Virus Digital Jam Dua Pagi
Misteri

Uap soto ayam berbaur kuah bakso mengudara hebat di ruang kantin SMA Garuda siang itu. Jam istirahat kedua tahun 2026 selalu menjadi medan laga bagi perut lapar yang menolak menu sehat buatan pemerintah. Di sudut paling riuh, dekat mesin pendingin minuman yang berderit konstan, atmosfer mendadak turun hingga titik beku paling kelam. Sepuluh pasang mata laki-laki dari satu angkatan kini duduk melingkar, mengunci satu titik fokus yang sama. Gibran, sang ketua kelas yang biasanya penuh tawa, kini melipat tangan di dada dengan gurat amarah yang menggaris tegas di dahi mudanya. Di depannya, duduk bersila seorang pemuda bernama Doni yang menunduk dalam, meremas ujung seragam putihnya yang mulai lecek.

"Gue nggak butuh alasan basi lo, Don," desis Gibran, memecah kesunyian kantin yang mendadak senyap di area sudut tersebut. "Lo tahu ini proyek angkatan. Kita udah urunan pakai e-wallet masing-masing, begadang bikin konsep hologram buat pensi, dan lo hancurin semuanya dalam semalam. Lo itu teman atau anjing, hah?"

"Gue nggak sengaja, Gib. Sumpah," suara Doni bergetar, nyaris tenggelam oleh suara riuh murid lain di seberang sana yang tak menyadari ada persidangan darurat sedang digelar.

"Nggak sengaja kepala lo peang!" sahut Farel dari sebelah kanan, menggebrak meja kayu kantin hingga mangkuk kosong di atasnya berdenting nyaring. "File utama di system launcher lo hapus, cadangan di cloud lo acak-acak formatnya. Sekarang sisa waktu tinggal dua hari, dan semua data kita lenyap jadi cookies gak berguna. Lo benar-benar perusak suasana paling ulung, keparat!"

Tujuh anak laki-laki lain yang mengepung meja itu mendengus serempak, mengembuskan napas penuh kekecewaan yang membakar udara. Aris, Kevin, Tian, Riko, Dika, Bagas, dan Johan—semuanya saksi hidup bagaimana kerja keras tiga bulan runtuh karena kecerobohan satu orang yang mereka sebut kawan. Mereka adalah tim inti yang emosinya sudah di ujung tanduk, siap meledak kapan saja di tengah kepungan uap makanan kantin.

"Kita udah anggap lo saudara, Don. Lo yang megang kunci enkripsi karena kita percaya lo paling paham sistem," kata Aris dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman nyata. "Tapi kelakuan lo barusan ngebuktikan kalau lo cuma benalu yang numpang nama di angkatan kita."

"Gue beneran panik semalam, Ris. Ada virus kiriman dari luar yang masuk ke jaringan lokal gue, gue kira itu berkas sampah makanya gue sapu bersih pakai cleaner" bela Doni, mencoba mendongak meski matanya merah menahan air mata yang siap tumpah.

"Halah, bualan anak zaman sekarang! Virus apa yang bisa nembus sistem enkripsi ganda kalau bukan lo sendiri yang ngebuka pintunya?" Kevin menimpali, menunjuk wajah Doni dengan sendok bakso yang dipegangnya. "Lo sengaja kan? Biar pensi angkatan kita gagal dan kelas sebelah yang maju?"

"Jaga mulut lo, Kev! Gue nggak se-rendah itu!" teriak Doni, emosinya mulai terpancing karena merasa disudutkan tanpa celah untuk bernapas.

"Lalu apa buktinya lo nggak bersalah? Data nggak bisa bohong, Don. Log aktivitas digital menunjukkan akun lo yang masuk jam dua pagi dan melakukan penghapusan massal," Gibran kembali mengambil alih kendali persidangan, suaranya dingin menghujam jantung.

Suasana kantin di sudut itu semakin mencekam, kontras dengan latar belakang suara denting sendok dan gelak tawa murid perempuan di sudut lain. Sepuluh anak laki-laki itu tenggelam dalam pusaran amarah yang realistis, sebuah pengkhianatan nyata di era modern di mana sebuah persahabatan bisa hancur hanya karena hilangnya deretan kode digital dalam hitungan detik. Doni hanya bisa diam, pasrah menerima tatapan tajam yang seolah siap mengulitinya hidup-hidup di depan publik sekolah.

"Selesai lo, Don. Angkatan kita nggak akan pernah lupa sama apa yang udah lo lakuin hari ini," ucap Riko dengan nada final, berdiri dari bangkunya sebagai tanda bahwa sidang telah usai dan hukuman sosial dimulai.

Namun, tepat ketika air mata Doni benar-benar menetes membasahi meja kantin, Gibran mendadak menghentikan ketukan jarinya. Dia menatap jam tangan digitalnya yang menunjukkan angka waktu istirahat tinggal lima menit lagi. Sebuah senyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat, terbit di sudut bibir sang ketua kelas yang sedari tadi berwajah garang bak algojo.

"Oke, tiga, dua, satu... waktu habis!" seru Gibran tiba-tiba dengan nada suara yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sangat ceria.

Farel yang tadinya menggebrak meja langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. Kevin menurunkan sendoknya sambil terkekeh geli, sementara tujuh anak lainnya serempak bertepuk tangan riuh, membuat Doni mendongak dengan wajah bingung yang luar biasa bodoh. Air matanya masih menggantung di pipi, namun otaknya macet total mencoba memproses perubahan atmosfer yang mendadak ini.

"Selamat ulang tahun, Doni si perusak suasana!" teriak mereka kompak, menggema di sudut kantin hingga murid lain menoleh penasaran.

"Hah? Maksudnya apa ini?" tanya Doni gagap, suaranya masih serak sisa tangisan tadi.

"File pensi kita aman kok, ada di flashdisk di rumah gue," Gibran menepuk bahu Doni keras-keras hingga pemuda itu tersedak ludahnya sendiri. "Log aktivitas semalam itu cuma simulasi yang sengaja gue buat pakai akun lo. Kita semua udah ngerencanain ini dari minggu lalu buat ngerjain lo yang berulang tahun hari ini. Akting kita keren kan?"

Doni melongo, menatap wajah teman-temannya satu per satu yang kini dipenuhi tawa kemenangan. Rasa kesal, lega, dan malu bercampur aduk di dadanya menjadi satu rasa yang sulit didefinisikan. Dia benar-benar kena tipu mentah-mentah oleh akting kelas kakap teman seangkatannya yang semula tampak ingin menghabisinya.

"Sialan lo semua! Gue udah mau jantungan tahu nggak!" umpat Doni sambil menyeka air matanya kasar, disambut tawa rona merah persahabatan dari yang lain.

Di tengah riuhnya tawa sepuluh anak laki-laki itu, sebuah ganjalan mendadak melintas di benak Gibran. Dia teringat ucapan Doni di tengah kepanikan tadi tentang virus kiriman dari luar yang disapu bersih dengan pembersih otomatis pada jam dua pagi. Jika naskah prank yang dibuat Gibran hanya memalsukan catatan aktivitas sistem tanpa menyentuh gawai Doni, lalu berkas berbahaya apa yang dibersihkan oleh Doni semalam?

Apakah Doni tanpa sadar telah menghapus sebuah program mata-mata yang nyata dari pihak kompetitor sekolah? Atau jangan-jangan, salah satu dari sembilan teman di meja ini memang sengaja mengirimkan sesuatu yang merusak, membonceng rencana prank angkatan demi sebuah sabotase yang sesungguhnya? Saat bel masuk berbunyi dan mereka melangkah pergi, teka-teki digital itu tetap mengambang di udara kantin, meninggalkan ruang tafsir misterius yang tak terselesaikan.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi