Flash Fiction
Disukai
3
Dilihat
3,922
Coklat yang Meleleh
Romantis

Ada yang memandang segalanya dengan musik, ada yang memandang segalanya dengan mimpi-mimpi indah, ada yang memandang segalanya dengan warna-warna cerah, ada yang memandang segalanya dengan rumus-rumus. Ada yang memandang segalanya dengan puisi.

Kalau saya ?

Saya termasuk yang memandang segalanya dengan puisi. Maka dalam menceritakan ini saya akan banyak berpuisi.

Berawal dari segala sesuatu tentang dia. Manis, indah, cantik, menawan, semuanya tentang dia. Gadis itu yang saya cintai, banyak saya berpuisi tentang dia. Inspirasi saya, gadis itu. Tentang dia. Pernah saya berpuisi tentang bulan, tentang bintang, tentang embun, tentang biru, tentang putih, tentang merah, tentang dia semuanya itu. Waktu itu saya benar-benar jatuh cinta. Seluruh hidup saya, hanya dia yang dapat saya lihat.

Cantik itu tidak begitu cantik

Indah itu tidak begitu indah

Manis itu tidak begitu manis

Jika tidak datang dari dirimu

Memang, saya tau dia pun memikirkan saya, dia pun berpuisi tentang saya. Saya tidak sendiri dan saya tau itu. Namun, (rasanya) perasaan saya tidak lagi seperti dulu, begitu buta oleh cinta (laki-laki bodoh saya ini). Tidak pernah puas, egois, sok, plinplan. Laki-laki bodoh hingga tak menyadari perasaannya sendiri. 

Dia melepas jantungnya sendiri demi saya. Tapi saya bodoh. Saya yang jujur, saya yang lelah, saya yang bingung, saya yang tidak mencintainya lagi, malah berpuisi tentang tidak hanya dia yang saya lihat. Malah kehilangan kata-kata, kehilangan puisi karena jantung yang lain. Jantung yang selama ini telah menjadi paru-paru bagi saya. Menjadi tangan, kaki, bahkan telinga untuk saya.

Bodohnya saya, yang juga pernah menjadi tangan, kaki, mungkin paru-paru (terlalu), mungkin juga telinga untuknya. Saya baru sadar, ternyata dialah yang ingin saya lindungi. Dialah yang begitu rapuh dan tidak boleh ada orang lain yang mengokohkan dirinya selain saya. Dialah sebenarnya yang ingin bersandar dan tidak boleh ada orang lain yang memberikan bahunya selain saya.

Tidak ada yang lebih saya inginkan selain menjadi jantung bagi dirinya. Dialah jantung bagi saya.

Dia terlihat kuat

Tapi rapuh di dalam

Sok tau saya! Saya ingin tau lebih banyak tentang dia, apakah puisi-puisi saya memang benar? Laki-laki bodoh! Hanya mengira-ngira. Padahal banyak waktu saya dengan dirinya. Merasa gengsi memberikan bahu, merasa kehilangan puisi, merasa... tidak perlu saya ungkapkan itu sekarang, karena masih banyak waktu saya bersamanya. Bodoh! Untung cepat saya terbangun. Sore itu saya membeli coklat yang saya berniat untuk memberinya.

Akankah dia tersenyum?

Gadis itu?

Akankah dia pun ingin saya jadi jantungnya?

Gadis itu?

Akankah?

Gadis itu?

Masih saya berpuisi.

Terlalu lama

Terlalu tertunda

Terlalu bodoh

Coklat itu sudah meleleh. Namun, harus saya berikan. Akhirnya saya berikan. Tanpa puisi, tanpa kata-kata. Karena hilang kata-kata, hilang puisi, dia seperti memaku saya ke dinding. 

Air matanya jatuh.

Sedih? Bahagia? Saya tambah ingin memeluknya. Air matanya masih di sana. Ia pun meraih sesuatu dan memegangnya di tangannya. Coklat! Ia berikan pada saya. Coklat meleleh hilang bentuk, tapi takkan pernah hilang rasa. Kami berdua tertawa. Tawa paling renyah kami berdua. Suara terindah yang selalu selamanya ingin saya dengar.

Dia ingin saya jadi jantungnya. Saya pun ingin dia jadi jantung saya.

Akhirnya saya berhenti memandang segalanya dengan puisi. Semua terlalu abstrak untuk jadi puisi, terlalu indah untuk dipuisikan. Segalanya tidak hanya puisi. 

Adalah segalanya membuat hati jantung kita bahagia. Adalah segalanya mewujudkan puisi.

Mulai saya memandang segalanya apa adanya. Kadang musik, warna, puisi, bahkan rumus. Apa adanya, seperti gadis itu, jantung yang saya cintai.

Hati yang indah gadis itu, yang selalu saya ingin lindungi. 

Bandung, 27 Juli, 2002 11.06 mlm

Untuk : kamu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi