Hana melihat roti bakarnya yang tersisa setengah.
“Abisin.” Keningnya berkerut samar, “Kenyang ah,” tolaknya,
Laki-laki itu menatapnya tajam, ia mengambil suapan terakhir roti bakar di depan mereka, dan menyodorkannya ke mulut Hana.
“Kenyang.” Hana menutup mulutnya rapat-rapat, tapi laki-laki itu bersikeras menjejalkannya sambil menyeringai nakal.
Hana mendecakkan bibirnya sebelum akhirnya menggigit suapan terakhir rotinya, mengunyahnya sambil menggerutu ke laki-laki yang kini tertawa puas di depannya.
“Baiklah-baiklah.” Lamunannya terlepas saat laki-laki itu akhirnya menyerah, setelah satu kali membujuk gadis di sampingnya untuk menghabiskan makanannya.
Tangannya mengambil suapan terakhir yang masih ada di piring si gadis, lalu menyendokkannya ke mulutnya sendiri.
Hana mengalihkan pandangannya, menatap satu suapan terakhir di piringnya sendiri. Sendok yang digunakannya hanya mengumpulkan makanan yang tersisa ke pinggir, matanya menatapnya tanpa benar-benar peduli,
“Abisin Han.” Desak laki-laki itu lagi, tangannya baru akan mengambil sendok dari tangan Hana saat Hana menarik tangannya dan membuat sisa makanannya berjatuhan ke meja.
Hana tersenyum canggung, “Jatuh,” bisiknya gemetar, ia mengambil tisu untuk menyeka hidungnya yang berair dan mengeringkan sudut matanya yang terasa panas,
Hana mengambil satu tisu lagi, mengelap meja dengan makanannya yang berserakan.
“Biarin aja,” kata laki-laki itu menahan pergelangan tangannya pelan,
Hana mengeratkan pegangannya pada tisu di tangannya, sebelum perlahan menarik tangannya dari laki-laki itu dan kembali membereskan apa yang tersisa.