Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
7
Rasa Baru
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Hana mengangkat kepalanya dari gelas kopi di tangannya, laki-laki itu berdiri menjulang di depannya. Perlahan ia meletakkan gelasnya, matanya menatap laki-laki itu lekat, sebentar sebelum berpaling dan bertanya, “Kau di sini?”

Laki-laki itu mengambil tempat duduk di depannya, tubuhnya yang tinggi besar tampak berdesakkan di bangku kayu yang didudukinya. Tangannya mengambil gelas yang Hana letakkan, menyesapnya ringan, “Yang biasa?”

Hana mengangguk, “Lebih enak di tempat biasanya kan?”

laki-laki itu mengangguk setuju, tangannya menggeser gelas yang tadi dipegangnya saat seorang pramusaji meletakkan pesanannya di depannya.

“Pernah coba ini? Rasanya lumayan.” Katanya mendekatkan gelas yang baru saja datang, ke arah Hana. Cairan cokelat pekat terlihat memenuhi cangkir hitam itu. “Benarkah?” tanyanya dengan satu alis terangkat,

Laki-laki itu mengangkat satu ujung bibirnya, “Cobalah.” Desaknya,

Hana mengambil gelas hitam di hadapannya, beberapa kali ia menghentikan gelas itu di udara, sebelum benar-benar menyesap isinya. “Manis.” Komentarnya,

Laki-laki itu terkekeh di depannya, satu jari telunjuknya menyentuh kening Hana yang kini berkerut. “Lumayan kan tapi?”

Hana menangkat bahunya. Mengambil gelasnya sendiri sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursinya. Matanya memandang jendela besar di samping mereka.

“Hei.” Suara laki-laki itu membuat Hana kembali berpaling ke arahnya, tapi ternyata bukan ia yang diajak bicara. Seorang gadis manis dengan rambut sebahu kini berdiri di hadapan mereka berdua, tangannya menggenggam gelas plastik bening. Hana menundukkan pandangannya, melihat gelas hitam dengan cairan cokelat pekat di hadapannya.

“Duduk dulu.”

Hana mendekap erat gelasnya sendiri, cairan hitam di dalamnya berputar-putar. Pandangannya terangkat ke atas, matanya bertemu dengan gadis itu. Tertahan sebelum akhirnya mata gadis itu kembali mengarah pada laki-laki di hadapannya. Ia tersenyum singkat, “Aku ada kelas.”

Ia menatap Hana lagi sekilas, sebelum mempererat pelukannya ke buku di dadanya, “Duluan ya.” Katanya sebelum berbalik dan pergi dari sana.

Hana melihat punggung laki-laki itu yang tak juga berbalik, kemudian pandangannya beralih ke arah gadis yang sosoknya tak lagi terlihat.

Hana menggigit pelan bibirnya, tangannya mengelelus-elus gelasnya, ujung jempolnya bahkan hampir mati rasa.

Laki-laki itu kembali melihat kearahnya, bahunya ia angkat sedikit, “Sayang.”

Hana menarik kedua bibirnya, sedikit, matanya masih fokus dengan jempolnya yang tak juga berhenti memainkan gelasnya, “Sia…” ia merapatkan bibirnya lagi.

“Mungkin lain kali.”

Hana menatap laki-laki yang kini menyandarkan tubuhnya ke belakang, menggoyang-goyangkan gelasnya, matanya kembali melihat gelasnya yang hanya tinggal satu tegukan. “Mau isi ulang?” tanya laki-laki itu,

Hana menggeleng pelan, “Udah ga enak.” Jawabnya,

“Coba yang lain.”

Hana mendengkus, tapi kepalanya mengangguk, “Mungkin.”

Telunjuk laki-laki itu menyentuh kening Hana yang lagi-lagi berkerut, tapi dengan cepat Hana menarik tubuhnya ke belakang. Laki-laki itu terdiam di tempatnya. Hana mengalihkan pandangannya, tangannya mengambil gelasnya sebelum menenggak habis isinya.

Bibir bawahnya ia gigit pelan, mengambil tetes terakhir yang tersisa di sana, matanya menatap gelas kosong itu, cukup lama, sebelum akhirnya melihat kearah laki-laki itu dengan satu senyuman tipis di bibirnya.

Hana mengangkat gelasnya ke arah laki-laki itu sebelum tubuhnya sendiri bangun dan berjalan ke arah kasir. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)