Flash Fiction
Disukai
1
Dilihat
17
DATK- Bukan Titik
Romantis

“Ta.”

Kepala Tata menoleh, mencari sosok yang barusan memanggil namanya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang laki-laki dengan kemeja hitam berjalan ke arahnya, tapi bukan dia yang membuat mata Tata melebar saat ini. Beberapa langkah di belakangnya, seseorang berdiri diam. Mata mereka bertemu, bahkan ketika Tata melihat ke arahnya, laki-laki itu tak berpaling. Dan dalam satu detik yang terasa panjang, sesuatu dalam dadanya seperti ditarik ke masa lalu, hangat… lalu menggelitik perutnya.

Sekolah baru dimulai saat itu. Dan dalam padatnya kelas, hanya ia yang tidak mengenal satu wajah pun di sini.

“Perkenalkan namamu.” Pinta guru berkaca mata tebal dan kemeja yang dikancing hingga ke atas, yang kini berdiri di samping Tata.

Tata mengigit bibirnya, ia selalu tidak suka jika harus mengenalkan namanya, seseorang pasti akan mengejeknya, “Hai, namaku Cinta Larasati,” jeda satu detik, “Biasa dipanggil Tata.” Katanya cepat-cepat.

Beberapa siswa terdengar bersorak ringan diam-diam, sebagian berbisik dan tertawa kecil,

“Hai Cinta.” Kata siswa yang duduk di paling belakang dengan nada mengejek, diikuti tawa riuh dari hampir seluruh anak.

Tata meremas jarinya sendiri, ini biasa, mereka cuma bercanda… kan?

Tapi tetap saja, rahangnya mengeras, panas menjalar hingga ke pipinya, matanya menatap tajam ke arah gurunya yang belum juga menyuruhnya duduk, sampai kapan ia harus berdiri di sini?

Brakkk

Kelas langsung hening. Mereka serentak menoleh ke orang yang tadi menggebrak meja, tapi yang ditatap duduk dengan santai, sikunya bertumpu ke meja, sedang matanya menatap ke luar jendela. Ia bahkan tidak menoleh saat guru di samping Tata mulai mengomel padanya.

“Hei, Ta.” Panggilan temannya membawa Tata kembali, ia mengerjap pelan, memaksa dirinya hadir kembali di sini.

Senyuman kecil muncul tanpa bisa ia tahan, meski yang ditatap kini bukan yang menjadi alasan ia tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya melewati pundak hitam di depannya, kembali ke orang yang tadi membuatnya terdiam, si penggebrak meja. Satu bibir laki-laki itu terangkat, orang itu masih di sana, masih melihat ke arahnya… lekat.

“Hai.” Bisik Tata tanpa suara.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi