Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
15
Patah
Romantis
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku bukannya tidak ingin kau bahagia, air mata ini jatuh bukan karena aku tak suka melihatmu bahagia. Kukira aku yang akan ada di sana, berdiri di sampingmu, menggumamkan celoteh riang seperti kita biasanya. Aku kira rasamu sama dengan aku, saat kau bilang ingin kita bersama selamanya, aku kira kita berada di kapal yang sama, di tujuan yang sama. Tapi ternyata aku salah… sebab bagiku selamanya berarti berjalan bersama ‘selamanya’. Tapi bagimu, selamanya mungkin hanya kata ganti waktu, bukan mengartikan harus aku dan kamu, kemudian dirangkai menjadi ‘kita’. Karena aku dan kamu sejak awal tidak pernah menjadi ‘kita’

Hana menarik mundur kakinya, meski matanya tak bisa lepas dari dua sosok di depannya, kakinya mendesak untuk berlari menjauh dari sana. Matanya sudah terasa panas sejak tadi, bibirnya bahkan sudah ia gigiti hingga terasa anyir di lidahnya. Dan saat tatapannya mulai kabur karena tumpukan air di matanya, Hana berpaling, merasakan lelehan panas di pipinya. Kakinya berjalan dengan segera, seakan waktu mereka tak banyak.

“Perkenalkan ini Hana, teman masa kecilku.” Kata laki-laki itu saat ketiganya berhadapan beberapa menit yang lalu. Hana mencoba menarik bibirnya tinggi-tinggi, meski nyatanya bibirnya yang bergetar hanya mampu memberikan ringisan tipis di sana.

Kemudian laki-laki itu mendekat pada Hana, “Ini orangnya,” katanya sambil menatap gadis di depannya, kemudian bergerak lebih dekat ke arah Hana dan berbisik, “Orang yang kusukai.” Senyumannya saat itu mungkin bisa membuat bibirnya robek, matanya yang tak lepas dari gadis di depannya yang kini ikut tersipu bahkan tak bisa melihat bagaimana wajah Hana berubah menjadi pucat pasi.

Tawa kecil lepas dari bibir Hana, ia sendiri tidak tau kenapa ia tertawa, ia hanya merasa semuanya lucu. Lucu sekali hingga rasanya ia ingin menangis.

Hana berhenti melangkah saat tawanya habis, menyisakan sesak yang mencekik. Kedua orang itu bahkan tidak menoleh sedikit pun saat kaki Hana terhenti dan langkahnya tertinggal di sana. Kini hanya dua punggung itu yang perlahan pergi meninggalkannya sendirian, menjelaskan jarak dengan begitu jelas dan menyakitkan. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)