Aroma tanah basah memenuhi penciumannya, hujan telah turun sejak semalam dan baru berhenti pagi ini. Di luar, udara masih terasa dingin menggigit. Hana duduk di bangku kayu di depan fakultas, menyandarkan punggungnya ke belakang, matanya ia pejamkan, napasnya sibuk menggali lebih dalam, menyesap setiap aroma yang tersisa.
“Kenapa kau suka hujan?”
Hana terdiam, bukan hujan yang ia suka, tapi seseorang yang selalu datang padanya dengan payung hitam setiap hujan turun. Tapi laki-laki itu tak perlu tau. Hana mencoba menahan bibirnya yang memaksa terangkat, sementara rasa hangat menyebar hingga ke pipinya. Tapi mulutnya tak mengizinkan satu kata pun membocorkan rahasianya, “Karena hangat.”
Laki-laki itu mengangkat alisnya ke atas, “Hujan itu dingin.” Katanya membantah, tapi Hana tak ingin melanjutkan perdebatan itu, mereka bahkan berbicara tentang dua hal yang berbeda. Dan laki-laki itu mungkin tidak akan mengerti, bagaimana manisnya menanti seseorang menjemput saat hujan turun.
Hana kira suatu saat laki-laki itu akan mengerti, tapi sebelum ia sempat membisikkan apa pun tentang perasaannya, di sini ia berdiri, melihat orang berlalu dan pergi, sendiri… menunggu kapan hujan akan berhenti. Sebab payungnya… tak pernah datang lagi, bahkan saat hujan turun sangat lebat di luar.
Kepalanya menengadah ke atas, melihat awan mendung yang masih menggantung rendah. Dadanya terasa sempit, seakan dinginnya pagi ikut membuatnya membeku.
Hana melihat ke arah bangku di sampingnya, menatap tempat kosong yang kehilangan penghuninya. Tangannya terulur ke depan, menyentuh alas kayu yang basah dan dingin di bawah kulitnya.