Bel tanda selesai istirahat belum berbunyi, tapi sebagian besar anak kelas sudah kembali ke bangkunya masing-masing. Hari ini mereka ada pelajaran olahraga sebelum istirahat, jadi waktu istirahat jauh lebih panjang dibandingkan dengan hari biasanya.
Tata meletakkan goodybag berisi seragam olahraga yang tadi ia pakai ke tasnya sebelum kembali duduk di bangkunya. Di sampingnya, laki-laki itu tertidur di atas lengannya sendiri, dengan wajahnya yang menghadap ke bawah. Tata hanya dapat melihat punggungnya yang naik turun dengan perlahan, dengan user-user rambutnya yang tampak jelas menghadap ke atas.
Tata menguap, ia ikut menyilangkan lengan dan merebahkan kepalanya di sana. Di depannya, jendela menampilkan langit biru yang cerah. Sinarnya yang hangat menyorot ke arah keduanya. Tata pikir akan panas, tapi nyatanya hanya kehangatan yang menyelimutinya, membuat matanya terpejam tanpa sadar.
Langit sudah berubah jingga saat Tata membuka matanya lagi. Matanya membelalak, berkali-kali ia mengerjapkan matanya, apakah ia tidur sepanjang pelajaran terakhir?
Di bahunya ada sweater biru tua, tersampir hangat menutupi punggungnya. Terlalu hangat hingga ke hatinya.
Beralih ke samping, laki-laki itu juga masih ada di sana, masih tertidur lelap dengan wajah menghadap ke arahnya.
Tata terdiam di tempatnya, baru kali ini ia melihat wajah orang itu dengan jelas. Matanya yang terpejam tampak kurang mengintimidasi, napasnya yang teratur membuat wajahnya tampak tenang. Tata tidak sadar, sudah berapa lama ia menatapnya, tapi kelas yang biasanya ramai tidak mengeluarkan suara apa pun, seakan ikut bersamanya menikmati kesunyian yang ada.
Kelopak mata laki-laki itu bergerak pelan. Tata mengalihkan pandangannya, jantungnya rasanya hampir berhenti berdetak untuk sesaat. Panas menjalar hingga ke pipinya, butuh beberapa saat baginya menenangkan diri sebelum bisa melihat laki-laki itu lagi.
Tata melepaskan sweater yang membungkus tubuhnya, mengulurkan kepada pemiliknya, dari sini bahkan ia bisa melihat jempolnya bergetar.
"Te-terima kasih," bisiknya,
Laki-laki itu menatapnya, tepat di matanya. Padahal berkali-kali Tata mengalihkan pandangan dan mempercepat gerakannya untuk mengepak seluruh buku-buku dari meja. Tapi ketika matanya kembali ke orang itu, ia masih ada di sana, seakan tidak bergerak sejengkal pun dari tempatnya. Masih melihat ke arahnya, dan menatapnya tanpa berkedip.
Tata menelan ludahnya pelan, tangannya sibuk mengepak semua barangnya masuk ke tas, terlalu cepat hingga beberapa buku terjatuh dan harus ia ambil bersama pipinya yang merah padam.
Ahhh, rasanya ia ingin lari dari sini. Tapi saat ia telah siap untuk kabur, tubuhnya justru diam di tempat. Tata masih bisa merasakan tatapan menusuk dari sampingnya bahkan sebelum ia melihatnya sendiri.
Laki-laki itu tidak bergeming, tidak berkata apa pun, tapi terus menatapnya.
Tata hanya dapat diam melihatnya, menyuguhkan senyum yang terasa canggung di wajahnya sendiri,
“Du… duluan,” bisiknya cepat sebelum pergi meninggalkan kelas tanpa berani menoleh lagi.