Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
40
Hujan Tidak Pernah Bertanya
Romantis

Di sela-sela bulan Januari yang basah, kita pernah tak sengaja bertemu di ujung jalan, yang di atas trotoar penuh ilalang hijaunya berdiri halte bus dengan kursi-kursi panjang berkarat. Ketika itu kau tergesa-gesa mengayuh pedal sepeda dengan wajah penuh air mata yang basahnya tak sepadan dengan kuyup bajumu karena tersiram hujan, sementara aku berdiri di bawah atap halte yang tepiannya masih menyisakan satu-dua rintik gerimis.

“Jadi ini masa lalumu?”

Aku tak beranjak sedikit pun dari tempatku berdiri sampai matamu yang sembab menemukanku—atau hanya aku yang merasa begitu. Kesedihan yang sering kali kauceritakan di sela-sela selimut sebelum kita tertidur tampak jelas di sana, seperti kebahagiaan yang tak bisa sedikit pun kausembunyikan pada kali pertama aku mengajakmu duduk di balkon rumah kita, menatap rumahku yang jauhnya tak terhitung matematika.

Lalu sepedamu jatuh, dibiarkan saja rebah di atas aspal berlubang yang basah. Kakimu berjinjit satu-satu dengan cepat menghindar dari genangan lalu tubuhmu masuk ke dalam halte yang luasnya tak seberapa. Saat itu, baru kusadari bahwa wajahmu tak hanya basah oleh air mata tapi juga larut dalam ketakutan yang tak pernah menjadi ketakutan siapa-siapa—katamu ketika memasrahkan perpisahan kita pada luka dan kenangan sepanjang masa.

Bibirmu yang bergetar mengigaukan pertanyaan yang sempat membiusku dalam kebekuan Alaska. Matamu yang layuh menatap dua lelaki tua yang terduduk di atas kursi panjang berkarat dengan mulut menjepit batangan rokok berwarna kelabu.

“Apa bus tujuan kota baru sudah lewat?”

Hanya itu. Lidahmu hanya sempat mengucapkan tujuh kata itu. Sebelum tubuhmu rubuh tanpa sempat berpegangan pada permukaan kursi panjang yang berkarat tapi bekas-bekas air mata di wajahmu telanjur kembali beranak sungai. Kau menangis hebat dan meski ini adalah kali ke sekian aku melihatnya dengan jelas, batinku mengulang kesedihan-kesedihan yang selalu kauselipkan di sela-sela selimut sebelum kita tertidur, membuat tanganku menggapai-gapai helai dimensi yang tak lekas tersibak penuh.

Aku memelukmu lalu terpental.

Kau tersengat lalu mencari-cari musabab.

Hidup adalah tentang pengulangan. Salindia-salindia ingatan memaksaku menyibak masa yang tak pernah kutahu kapan tapi begitu serupa. Aku yang berdiri di bawah atap halte yang tepiannya masih menyisakan satu-dua rintik gerimis. Kau yang tiba dengan tergesa, menjatuhkan sepedamu dengan cepat lalu masuk ke dalam halte dengan kaki bergetar. Pertanyaanmu. Matamu. Wajahmu. Tangisanmu. Rintihanmu.

Di sela-sela selimut sebelum kita tertidur, kau bercerita tentang perpisahan dengan ibu dan ayahmu, di ujung usia lima belas tahun. Kau terjatuh karena tidak bisa menahan diri lalu merasakan seseorang memelukmu. Matamu samar menangkap refleksi seorang lelaki bersayap terjatuh di antara ilalang-ilalang yang hijau di atas trotoar.

Di ujung jalan, di sela-sela bulan Januari yang basah. Aku tak pernah menyangka akan menemukan dan meninggalkanmu pada waktu yang sama.

***

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)