Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
16
Orang yang Selalu Pulang Lebih Dulu
Romantis

Setiap malam, aku melihat orang yang sama di halte kecil dekat rumah. Jamnya selalu mirip—terlalu malam untuk disebut sore, terlalu cepat untuk disebut dini hari. Ia berdiri sedikit menjauh dari lampu, seperti sengaja tidak ingin terlihat, tapi juga tidak benar-benar bersembunyi.

Kami tidak pernah saling menyapa. Tidak pernah bertukar senyum. Hanya dua orang asing yang sama-sama tahu, kehadiran itu ada. Kadang ia datang lebih dulu. Kadang aku. Namun entah kenapa, rasanya seperti kami punya janji yang tak pernah dibicarakan.

Aku mengenal kebiasaan-kebiasaan kecilnya tanpa pernah bertanya. Cara ia menggeser tas saat kendaraan mendekat. Cara ia melihat jam, lalu menghela napas pelan. Seolah ia menunggu sesuatu—atau seseorang—yang tak kunjung datang.

Suatu malam hujan turun lebih awal. Halte basah, lampu berpendar, dan kota terdengar lebih sepi dari biasanya. Aku datang dengan langkah tergesa, berharap melihat siluet yang sudah akrab itu.

Tapi tempatnya kosong.

Awalnya kupikir ia hanya terlambat. Aku menunggu satu menit. Dua menit. Lima menit. Kendaraan datang dan pergi. Orang-orang naik dan turun. Namanya—yang bahkan tak kuketahui—tak pernah muncul.

Aneh rasanya. Kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah kau miliki. Aku pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan, membawa pertanyaan yang tiba-tiba terasa penting: sejak kapan aku menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang pasti?

Malam berikutnya, jam yang sama, aku datang lagi. Berdiri di tempat biasa. Menatap arah yang sama.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar—aku menunggu.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi