Aku datang lebih awal malam itu.
Bukan karena ada alasan, tapi karena aku tidak ingin terlambat lagi pada sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi.
Hujan belum turun, tapi udara sudah berat. Lampu halte menyala lebih terang dari biasanya, seolah tahu aku akan menunggu lebih lama. Aku berdiri di tempat yang sama, tapi kali ini tidak menyender. Tidak menunduk. Aku ingin terlihat—setidaknya oleh diriku sendiri.
Menit pertama berlalu.
Menit kedua.
Jam di ponselku bergerak pelan, terlalu pelan untuk menenangkan.
Aku berpikir tentang semua kebiasaan kecil yang selama ini kuanggap aman. Datang di jam yang sama. Berdiri di titik yang sama. Diam dengan rapi. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melanggar satu di antaranya.
Aku melangkah keluar dari bayangan lampu.
Satu langkah saja. Tapi rasanya seperti pengakuan. Aku berdiri di tengah halte, di tempat orang biasanya lewat, bukan menunggu. Jantungku berdetak lebih cepat—anehnya bukan karena takut, tapi karena berharap.
Kendaraan datang. Pergi.
Orang-orang turun. Naik.
Wajah-wajah asing lewat tanpa berhenti.
Aku mulai bertanya pada diri sendiri:
kalau malam ini ia datang, apa yang akan kulakukan?
Menyapanya? Tersenyum? Atau kembali berpura-pura seperti biasanya?
Langkah kaki terdengar dari ujung jalan. Pelan. Mendekat. Aku menoleh, hampir bersamaan dengan rasa yakin yang tiba-tiba muncul.
Bukan dia.
Seorang asing berhenti tak jauh dariku, menunggu kendaraan berikutnya. Aku mundur setengah langkah, kembali ke bayangan lampu. Dadaku terasa kosong dengan cara yang baru—lebih jujur, lebih telanjang.
Lalu ponselku bergetar.
Satu notifikasi. Bukan pesan.
Sebuah pengingat lama yang tak pernah kuhapus.
“Jangan menunggu terlalu lama.”
Aku menatap layar itu lama, sebelum akhirnya mengangkat kepala. Di ujung halte, seseorang berdiri ragu—di tempat yang biasanya kutempati.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu siapa yang seharusnya melangkah lebih dulu.